
batampos – Kerusakan daerah tangkapan air (DTA) di sejumlah waduk di Kota Batam semakin memprihatinkan. Selain dampak kebakaran hutan beberapa waktu lalu, kawasan hutan di sekitar waduk juga terpantau mengalami kerusakan akibat pembalakan liar dan pembukaan lahan, yang berimbas pada menurunnya kemampuan resapan air serta kapasitas waduk.
Kondisi ini terjadi di tengah meningkatnya kebutuhan air bersih seiring pertumbuhan penduduk dan ekspansi pembangunan di Batam. Situasi tersebut menimbulkan pertanyaan penting: apakah Kota Batam perlu menambah waduk baru, atau mencari alternatif pasokan air dari wilayah penyangga?
Wakil Ketua Persatuan Insinyur Indonesia (PII) Kepulauan Riau, Prastiwo Anggoro, menegaskan bahwa kebutuhan air baku di Batam akan terus meningkat seiring pertumbuhan penduduk dan ekonomi.
“Seiring dengan peningkatan penduduk Kota Batam yang telah menembus 1,39 juta jiwa pada tahun 2026 dan target pertumbuhan ekonomi di atas 7 persen, salah satu komoditi yang paling dibutuhkan adalah ketersediaan air baku,” jelas Prastiwo.
Baca Juga: Kasus Kematian Wanita Melahirkan di Kosan, Tak Ditemukan Unsur Pidana
Berdasarkan data empiris, kebutuhan air per orang dengan akses menengah dan kesadaran kebersihan sedang mencapai sekitar 50 liter per hari. Sementara untuk sektor industri skala menengah, kebutuhan air berada di kisaran 2 hingga 4 meter kubik per hari.
“Dari dua data tersebut, dapat disimpulkan kebutuhan air bersih akan meningkat secara bertahap seiring bertambahnya jumlah penduduk dan pertumbuhan ekonomi,” tambahnya.
Batam memiliki delapan waduk, dengan enam di antaranya telah beroperasi, sedangkan dua lainnya berfungsi sebagai cadangan masa depan. Total kubikasi mencapai sekitar 202,07 juta meter kubik air, dengan kapasitas desain lebih dari 5.000 liter per detik.
Namun, persoalan utama bukan pada kapasitas desain, melainkan pada kemampuan menjaga muka air normal (MAN) sesuai perencanaan awal. “Setiap musim kemarau dan fenomena El-Nino, MAN waduk di Batam mengalami penurunan lebih dari 2 meter,” ungkap Prastiwo.
Kondisi ini diperparah oleh kerusakan DTA akibat alih fungsi lahan, kebakaran hutan, dan aktivitas lain yang mengganggu ekosistem penyangga air. “Hal ini menyebabkan kubikasi waduk semakin berkurang. Salah satu akibat parah dari kerusakan DTA adalah sedimentasi di beberapa waduk, karena hilangnya fungsi pengikat dari akar pohon sehingga air hujan membawa tanah ke dalam waduk,” jelasnya.
Baca Juga: Batam Diselimuti Kabut Usai Hujan, BMKG Pastikan Bukan Asap Kebakaran
Penurunan muka air dipicu oleh dua faktor sekaligus: faktor eksternal berupa musim kemarau dan fenomena iklim, serta faktor internal berupa kerusakan DTA yang terus terjadi. “Maka dari itu, waduk-waduk di Batam tidak lagi memiliki kubikasi sesuai desain awal,” tegas Prastiwo.
Ia menekankan bahwa kondisi ini harus menjadi perhatian serius pemerintah maupun masyarakat. Meskipun faktor alam tidak bisa dihindari, kerusakan lingkungan masih bisa dicegah.
“Faktor eksternal pasti terjadi dalam siklus tertentu, namun kerusakan DTA dapat dikurangi bahkan dicegah apabila pemerintah bersama semua pihak sadar menjaga kelestarian Kota Batam sesuai desain yang telah direncanakan,” tutupnya. (*)



