Minggu, 17 Mei 2026

Dinkes Batam Ingatkan Bahaya Hantavirus, Gejala Mirip Flu Tapi Bisa Berakibat Fatal

Berita Terkait

Ilustrasi hantavirus. Foto. Chatgpt

batampos — Kepala Dinas Kesehatan Kota Batam, dr. Didi Kusmarjadi, mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap Hantavirus Infection atau infeksi hantavirus, penyakit yang ditularkan melalui tikus dan hewan pengerat lainnya.

Menurut dr. Didi, penyakit ini memang belum sepopuler demam berdarah dengue (DBD) maupun COVID-19. Namun, Hantavirus tetap berbahaya karena dapat menyebabkan gangguan paru-paru dan ginjal berat hingga berujung kematian.

“Banyak masyarakat lebih takut terhadap nyamuk, padahal tikus juga dapat membawa penyakit serius. Hantavirus ini salah satu yang perlu diwaspadai karena gejalanya sering tidak disadari sejak awal,” ujar dr. Didi, Minggu (16/5).

Ia menjelaskan, Hantavirus pertama kali dikenal dunia saat wabah yang menyerang tentara pada masa Perang Korea sekitar tahun 1950-an. Saat itu banyak pasien mengalami demam tinggi, perdarahan, hingga gangguan ginjal berat akibat paparan tikus liar.

Perhatian dunia terhadap virus ini kembali meningkat setelah muncul wabah misterius di wilayah Four Corners, Amerika Serikat, pada tahun 1993. Banyak warga muda sehat mendadak mengalami gagal napas berat dan meninggal dunia akibat virus yang berasal dari tikus rusa.

Di Indonesia sendiri, kasus Hantavirus memang masih relatif jarang dilaporkan. Namun sejumlah penelitian menunjukkan adanya paparan virus pada tikus di beberapa daerah perkotaan, termasuk ditemukannya antibodi pada sebagian manusia.

“Karena gejalanya mirip flu berat, pneumonia, leptospirosis, bahkan demam berdarah tertentu, kasus Hantavirus bisa saja tidak terdiagnosis dengan baik,” katanya.

Dr. Didi mengatakan, kawasan dengan populasi tikus tinggi memiliki risiko lebih besar terhadap penyebaran penyakit ini. Beberapa area yang perlu menjadi perhatian antara lain kawasan padat penduduk, pasar tradisional, gudang makanan, pelabuhan, hingga lokasi penumpukan sampah.

“Batam sebagai kota industri dan perdagangan tentu harus menjaga sanitasi lingkungan dengan baik. Pengendalian tikus menjadi bagian penting dalam pencegahan penyakit,” ujarnya.

Ia menjelaskan, gejala awal Hantavirus umumnya menyerupai flu biasa seperti demam, nyeri otot, sakit kepala, badan lemas, mual, dan muntah. Namun pada kondisi berat, pasien dapat mengalami sesak napas, penumpukan cairan di paru, tekanan darah turun, hingga gangguan ginjal serius.

“Hantavirus ini berbahaya karena sampai sekarang belum ada obat spesifik. Penanganan medis lebih banyak berupa terapi suportif seperti bantuan oksigen, cairan, hingga ventilator bila diperlukan,” jelasnya.

Meski demikian, dr. Didi menegaskan bahwa sebagian besar jenis Hantavirus tidak mudah menular antar manusia. Penularan utama tetap berasal dari paparan urine, kotoran, atau air liur tikus yang terhirup manusia.

Karena itu, ia mengimbau masyarakat agar tidak sembarangan membersihkan kotoran tikus dengan cara menyapu dalam keadaan kering karena dapat membuat partikel virus beterbangan di udara.

“Gunakan masker dan sarung tangan, semprot area dengan disinfektan terlebih dahulu, lalu bersihkan menggunakan kain pel. Setelah itu segera cuci tangan dengan sabun,” katanya.

Selain itu, masyarakat juga diminta menjaga kebersihan rumah, menutup makanan dengan baik, mengelola sampah secara benar, serta mengendalikan populasi tikus di lingkungan masing-masing.

“Kebersihan lingkungan bukan hanya soal kenyamanan atau estetika, tetapi bagian penting dalam melindungi kesehatan keluarga dari berbagai penyakit menular,” tutup dr. Didi. (*)

UPDATE

Play sound