Jumat, 3 Juli 2026

Inflasi Batam Tembus 4,75 Persen, Harga Cabai dan Beras hingga Tiket Pesawat jadi Pemicu Utama

Berita Terkait

Ilustrasi. Foto: Pixabay

batampos – Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Batam mencatat inflasi tahunan (year on year/y-on-y) Kota Batam pada Juni 2026 mencapai 4,75 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 113,91. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan Juni 2025 yang mencatat IHK sebesar 108,74.

Kepala BPS Kota Batam, Eko Aprianto, mengatakan inflasi terjadi akibat kenaikan harga pada hampir seluruh kelompok pengeluaran masyarakat. Dari 11 kelompok pengeluaran, seluruhnya mengalami kenaikan harga.

“Kelompok makanan, minuman, dan tembakau mengalami kenaikan sebesar 6,60 persen. Disusul kelompok transportasi sebesar 7,60 persen serta kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya yang naik paling tinggi, yakni 11,35 persen,” ujar Eko, Jumat (3/7).

Selain itu, kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran naik 5,84 persen, kelompok rekreasi, olahraga dan budaya 2,45 persen, kesehatan 1,98 persen, pendidikan 1,32 persen, pakaian dan alas kaki 1,29 persen, perlengkapan rumah tangga 1,27 persen, perumahan, air, listrik dan bahan bakar rumah tangga 1,09 persen, serta informasi, komunikasi dan jasa keuangan sebesar 0,90 persen.

Secara bulanan (month to month/m-to-m), Batam juga mengalami inflasi sebesar 0,68 persen, dengan IHK naik dari 113,14 pada Mei 2026 menjadi 113,91 pada Juni 2026. Sementara inflasi tahun kalender (year to date/y-to-d) tercatat sebesar 2,01 persen.

Eko menjelaskan, sejumlah komoditas menjadi penyumbang utama inflasi tahunan di Batam. Di antaranya emas perhiasan, angkutan udara, nasi dengan lauk, bensin, cabai merah, daging ayam ras, beras, rokok kretek mesin, sewa rumah, angkutan laut, cabai rawit, daging sapi, biaya pendidikan perguruan tinggi, bayam, tulang sapi, jeruk, tomat, ikan tongkol, ikan kembung, pelumas mesin, hingga telepon seluler.

Sebaliknya, beberapa komoditas justru menahan laju inflasi atau mengalami penurunan harga, seperti bawang putih, santan segar, susu bubuk, ketimun, bawang bombai, ayam hidup, bedak, popok bayi sekali pakai, sabun mandi cair, sabun cuci piring, salak, dan deterjen bubuk.

Untuk inflasi bulanan, kenaikan harga tiket pesawat, bensin, cabai merah, bawang merah, bayam, emas perhiasan, udang, jeruk, kentang, baja ringan, daun bawang, dan brokoli menjadi penyumbang terbesar. Sementara penurunan harga ketimun, sawi hijau, kangkung, angkutan laut, tomat, telur ayam ras, terong, ikan kembung, sawi putih, ikan mujair, semangka, bawang putih, serta tarif angkutan penyeberangan ikut menekan laju inflasi.

BPS mencatat kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang terbesar inflasi tahunan dengan andil 1,87 persen. Komoditas yang paling besar mendorong kenaikan inflasi pada kelompok ini adalah cabai merah (0,20 persen), daging ayam ras (0,19 persen), beras (0,16 persen), rokok kretek mesin (0,14 persen), cabai rawit (0,09 persen), daging sapi (0,08 persen), bayam (0,08 persen), tulang sapi (0,08 persen), jeruk (0,06 persen), tomat (0,06 persen), serta ikan tongkol (0,06 persen).

“Pergerakan harga pangan dan biaya transportasi masih menjadi faktor dominan yang memengaruhi inflasi di Batam. Kondisi ini perlu terus dipantau agar stabilitas harga tetap terjaga,” kata Eko.(*)

UPDATE