batampos – Dalam sebuah hubungan, pertengkaran memang hal lumrah. Tetapi, pernah nggak sih kamu diabaikan? Saat ada masalah, pasanganmu justru mendiamkanmu. Telepon nggak diangkat, chat nggak dibalas, diajak bertemu buat ngobrol pun nggak mau. Huft! Tindakan itu merupakan bentuk silent treatment. Bukan hanya hubungan percintaan, silent treatment juga bisa terjadi pada hubungan keluarga, rekan kerja, serta pertemanan.
’’Dalam ilmu psikologi, terdapat istilah mekanisme pertahanan diri. Kondisi seseorang melindungi diri dari kecemasan yang dihadapi. Kecemasan itu akan menimbulkan berbagai reaksi, termasuk silent treatment. Biasanya, seseorang melakukan silent treatment karena sulit melakukan komunikasi yang positif untuk menyelesaikan masalah yang sedang dihadapi,’’ tutur Nabila Rizki Amanda, psikolog.
Ada dua tujuan seseorang melakukan silent treatment. Pertama, menghindari konflik agar nggak semakin besar. Namun, motif itu nggak konstruktif karena sifatnya hanya menunda atau menghindari masalah. Kedua, menghukum orang yang berkonflik dengannya agar mengubah sikap dan meminta maaf. Motif itu menunjukkan sikap manipulatif seseorang untuk mendapatkan apa yang diinginkan.
’’Silent treatment dapat menjadi kekerasan secara emosional jika dilakukan untuk menghukum orang yang memiliki konflik dengannya. Dampak negatifnya bisa menyerang kebutuhan kasih sayang dan harga diri orang yang di silent treatment. Membuat orang tersebut menjadi marah, ketakutan, kebingungan, hingga frustrasi. Dampak untuk pelaku, hubungan sosialnya dengan orang lain akan kurang baik,’’ lanjutnya.
Tentu, silent treatment nggak sehat untuk hubungan dan merugikan diri sendiri juga orang lain. Kalau kamu termasuk orang yang silent treatment, coba biasakan berterus terang sama apa yang dirasakan dan dipikirkan. Meminta maaf dan memaafkan bukan perkara kalah atau menang. Jika sulit mengubah sikap tersebut secara mandiri, jangan ragu berkonsultasi kepada profesional. Ingat, diam nggak akan menyelesaikan masalah! (arm/c12/lai)

![]()
Well, orang yang melakukan silent treatment mungkin nggak sadar kalau sikapnya menyebalkan. Kamu bisa coba memperjelas situasi. Misalnya, katakan kalau kamu merasa diabaikan. Itu bisa menjadi dasar untuk terlibat komunikasi satu sama lain. Kamu juga bisa memintanya berbagi perasaan. Dengan demikian, dia sadar kalau perasaannya juga penting dan valid.
Beberapa orang mungkin sengaja melakukan silent treatment karena terlalu marah atau kesal. Jika berbicara, dia takut nggak bisa mengontrol perkataan yang bisa jadi makin memperburuk situasi. Jadi, beri dia waktu untuk menenangkan diri terlebih dahulu. Baru kemudian atur waktu untuk mendiskusikan masalah bersama secara tenang.
Didiamkan saat menghadapi masalah terkadang bikin kesal. Kamu mungkin ingin ikutan diam dan membuat dia merasakan posisimu. Eitss, perasaan kesal nggak akan ada habisnya! Hubungan justru makin nggak terkendali. So, coba untuk nggak dendam dengan melakukan komunikasi asertif agar lebih efektif.
Memikirkan pihak lain dan menelantarkan diri sendiri juga nggak baik buat kesehatan mental. Luangkan waktu untuk membuat diri lebih tenang. Jika merasa sudah siap menurunkan ego dan berdiskusi, so do it. Jangan meminta maaf untuk sesuatu yang bukan kesalahanmu, ya! Kamu nggak bisa memiliki hubungan dengan berpura-pura menjadi salah. (arm/c12/lai)
![]()
” Jangan Silent, Treatment Donk “
Reporter : Vany Aliffia
Editor : Agnes Dhamayanti
Hubungan tidak sehat atau toxic relationship berawal dengan masalah yang tidak terselesaikan. Lalu kenapa masalah itu tidak terselesaikan, tidak adakah komunikasi antara keduanya? Ooo… ternyata ada yang memiliki sikap silent treatment. Nah, kalau kamu punya pasangan seperti itu bagaimana sih menyikapinya? Yuk Simak!. (*)

Khurotul Anisah
Politeknik Negeri Batam
@khrtlanisa_
Setiap pasangan pasti memiliki cara tersendiri untuk menyelesaikan masalahnya. Memanng sih, ada beberapa pasangan yang tidak mampu mengutarakan pendapat, keinginan, dan harapannya yang dapat menyebabkan konflik barlarut – larut. Apalagi jika salah satu pihak mendiamkan pasangannya disaat terjadi masalah tanpa ada penjelasan apapun dan hal ini akan menimbulkan efek dan trauma stres dan akan menjadi kekerasan emosional. Pastinya hal tersebut akan menimbulkan hubungan tidak sehat. (*)

Rr. Hasta Kumbala Hakni
Politeknik Negeri Batam
@tata2207_
Diam tak selamanya emas. Untuk menyelesaikan masalah, diam bukanlah solusi yang terbaik gais. Bukannya baik, justru kurang bijak. Silent treatment bisa membawa hubungan menjadi toxic relationship lho. Saat pasangan membuat masalah mungkin kita memilih untuk melakukan silent treatment yang mengira akan memberi pelajaran atas kesalahannya. Namun, alih ini bisa menyakiti mental yang merasa lemah dan ditolak. Jadi berdiam diri adalah solusi yang bukan tepat ya. (*)

Putri Cahya Rosyani
Politeknik Negeri Batam
@rosyani.putri
Silent treatment punya dampak buruk, terlalu sering melakukan mode senyap akan membuat pasangan kehilangan rasa cinta. Jika tidak segera dihentikan mungkin mereka lebih memilih pergi karena merasa dicuekin. Rasanya tentu menguras emosi dan bisa saja ingin menyerah sewaktu-waktu. Perlu dipahami, itu adalah hubungan tidak sehat yang akan memberikan dampak psikologis seperti kebingungan, amarah, dan frustasi yang membuat emosi tidak stabil dan sering marah-marah. (*)



