
Kasus penularan virus HIV dan penyakit AIDS di Batam tak pernah turun. Angkanya cukup tinggi. Perilaku seks menyimpang jadi faktor utama.
Reporter: RENGGA YULIANDRA, FISKA JUANDA
Penularan HIV/AIDS di Kota Batam tergolong tinggi. Sebarannya meliputi kalangan tua hingga muda. Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Kota Batam, ratusan kasus baru ditemukan saban tahun. Sebagian besar pasien yang terpapar berusia 25 tahun sampai 49 tahun.
“Ya, tiap tahun kita menemukan kasus-kasus baru. Itu jumlahnya di atas 200 orang per tahun,” ujar Kepala Dinas Kesehatan Kota Batam, Didi Kusmarjadi.
Didi mengatakan, berdasarkan data yang masuk, dari Januari hingga Juni 2022 pihaknya menemukan 295 kasus. Jumlah ini hampir sama dengan tahun-tahun sebelumnya. Di masa pandemi Covid-19, kasus penyakit menular dan mematikan ini tak surut. Pada tahun 2021, Dinkes Batam menemukan 406 kasus baru HIV AIDS. Setahun sebelumnya, pada 2020, ada 538 kasus baru HIV AIDS.
Didi menambahkan, kasus HIV/AIDS di Batam ditemukan hampir pada semua kategori usia. Mulai anak-anak sampai orang dewasa. Terbanyak di usia dewasa, yaitu 25 tahun sampai 49 tahun. Berdasarkan data Dinkes, dari 295 kasus baru tahun ini, sebanyak 217 di antaranya merupakan usia produktif 25 tahun sampai dengan 49 tahun.
Selanjutnya, usia 20-24 tahun sebanyak 42 kasus, usia 50 tahun ke atas 28 orang, usia 5-14 tahun dua kasus, dan usia 15-19 tahun yakni enam kasus.
Adapun bila dikategorikan berdasarkan jenis kelamin, penderita HIV/AIDS tahun ini di Kota Batam masih didominasi oleh laki-laki yakni sebanyak 225 kasus. Sedangkan perempuan berjumlah 70 kasus.
”Paling banyak laki-laki usia 25 tahun sampai 49 tahun dengan junlah 157 kasus,” ujarnya.
Kasus kematian akibat HIV/AIDS di Batam juga cukup tinggi. Dinkes mencatat, sebanyak 32 orang meninggal dunia sepanjang Januari sampai Juni 2022. Sementara di tahun 2021 lalu, sebanyak 58 warga Kota Batam dilaporkan meninggal dunia akibat penyakit ini. Angka kematian lebih tinggi tercatat pada 2020 yang mencapai 77 orang.
Didi menjelaskan, HIV sebagian besar disebabkan seks bebas yang disertai tanpa alat pengaman atau kondom. Perilaku gonti-ganti pasangan dan berhubungan seks sesama jenis juga jadi faktor risiko yang tinggi.
Aktivis penanggulangan HIV/AIDS di Batam, dr Fransiska Tansil, menguatkan pernyataan Didi. Menurut Siska, penularan HIV tertinggi di Batam disebabkan faktor hubungan seksual sesama jenis.
“(Kondisi Batam) kurang lebih sama dengan kota lainnya. Cenderung meningkat lagi,” kata dr Siska.
Untuk kasus penularan HIV pada anak dapat terjadi melalui penularan dari ibu ke anak (dalam kandungan). Menurut Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO, risiko penularan pada saat kehamilan 15-45 persen lewat plasenta.
Kadis Kesehatan Didi Kusmarjadi menyebutkan, penularan dari ibu ke anak juga dapat terjadi apabila terpapar darah, cairan ketuban yang pecah, cairan vagina dan cairan tubuh ibu lainnya yang mengandung virus HIV selama proses kehamilan.
“Selain itu sebagian kasus lainnya dapat terjadi dari proses menyusui eksklusif. Maka sebab itu, dokter biasanya akan mencegah penderita HIV memberikan ASI eksklusif,” terang Didi
Selain penularan dari ibu ke anak, HIV juga bisa tertular dari jarum yang terkontaminasi virus HIV. Hal ini bisa terjadi pada anak yang menggunakan jarum suntik bekas atau secara bergantian. Biasanya terjadi di kalangan anak pengguna narkoba suntik.
HIV juga bisa menular melalui transfusi darah. Saat ini, risiko penularan HIV dari donor darah pada anak jauh lebih kecil dibandingkan penularan karena jarum suntik pengguna narkoba. Hal ini dikarenakan serangkaian proses pemeriksaan sebelum pemberian transfusi darah sudah dilakukan.
Aktivitas seksual menjadi yang paling berisiko. Sebab, 33 persen anak muda pernah berhubungan seks tanpa kondom. Selain itu, dapat terjadi penularan melalui anak yang mengalami pelecehan seksual dari pelaku yang menderita HIV. Perkawinan anak di bawah umur dengan orang yang berisiko memiliki HIV juga membuat mereka lebih rentan terkena infeksi.
Kepala Bidang (Kabid) Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kota Batam, Melda Sari, menambahkan berbagai upaya terus dilakukan Dinkes Batam dalam menekan angka HIV/AIDS. Salah satunya dengan memberikan penyuluhan yang melibatkan semua lapisan masyarakat. Pencegahan lain yaitu melalui tes HIV/AIDS sebanyak-banyaknya, termasuk juga dengan Mobile VCT.
Dinas Kesehatan Kota Batam juga terus aktif melakukan edukasi dengan melibatkan berbagai sektor. Edukasi serta promosi kesehatan dilakukan melalui iklan layanan masyarakat, kampanye penggunaan kondom pada saat hubungan yang berisiko, dan promosi bagi usia remaja dan dewasa muda.
Masyarakat yang terlatih dapat berperan dalam upaya promosi kesehatan dengan mempromosikan hidup sehat. Langkah pencegahan lain adalah mengembangkan warga peduli AIDS dan mendorong masyarakat yang berisiko untuk memeriksakan diri ke layanan konseling tes HIV sukarela.
Selain itu, pihaknya juga memberikan sosialisasi pengobatan segera, sebab orang dengan HIV/AIDS (ODHA) yang teratur mengonsumsi ARV menyebabkan viral load rendah dan kemungkinan menularkan ke orang lain juga menjadi rendah. “Penyuluhan seperti ini terus digalakkan,” ucapnya.
Dinkes Batam juga sudah menjalankan pemeriksaan atau skrining HIV bagi pasangan calon pengantin. Hal ini bertujuan mengantisipasi penularan HIV pada anak. “Namun begitu, kebijakan ini masih akan dilakukan pertemuan lintas sektor dengan pihak yang terkait, khususnya puskesmas, Kementerian Agama dan Dinas Kesehatan,” sebut Melda.
Ia menjelaskan, pemeriksaan HIV tidak berbayar. Masyarakat yang ingin memeriksakan diri cukup membayar uang pendaftaran dan dapat dilakukan di klinik VCT yang terdapat di semua puskesmas di Kota Batam, kecuali puskesmas BLUD seperti Puskesmas Sekupang, Puskesmas Lubukbaja dan Puskesmas Sengkuang yang saat ini masih menunggu perubahan Perwako Batam.
Pemeriksaan juga dapat dilakukan di Rumah Sakit Umum Daerah Embung Fatimah, Rumah Sakit Otorita Batam, RS Budi Kemuliaan, RS Harapan Bunda, RS Elisabeth Batam, RS Mutiara Aini, RS Keluarga Husada, RS Graha Hermin, dan RS BD Halimah.
Melda menyebutkan, sampai saat ini obat antiretrovial (ARV) dalam pengobatan HIV AIDS masih diberikan secara gratis, dan bisa didapatkan pada layanan RSUD, RSBK, RSOB, RSHB, RS Elisabeth Batam Kota, RS Elisabeth Batam dan sejumlah puskesmas.
Aktivis penanggulangan HIV/AIDS dr Siska Tansil juga menegaskan pentingnya sosialisasi pencegahan penularan HIV/AIDS, terutama kepada mereka yang tidak berobat secara teratur. “Sebab dampak yang tidak berobat tidak teratur ini tidak hanya sisi kesehatan saja. Tapi, juga terhadap ekonomi dan keluarga. Saya berharap tidak mendiskriminasi atau stigmasi penderita HIV,” ujarnya. (*)



