
batampos – Di tengah proses pencarian puluhan kontainer yang hanyut akibat tenggelamnya kapal kargo MV Golden Star 1 di Selat Singapura, muncul ancaman lain yang tak kalah serius.
Bangkai kapal berbendera Tanzania itu berpotensi menimbulkan pencemaran laut apabila terjadi kebocoran bahan bakar dari lambung kapal yang kini berada di dasar perairan.
Kekhawatiran tersebut muncul karena lokasi tenggelamnya kapal berada tidak jauh dari perairan Batam yang terhubung langsung dengan jalur pelayaran internasional Selat Singapura dan Selat Malaka.
Jika terjadi tumpahan minyak, arus laut berpotensi membawa pencemaran hingga memasuki wilayah perairan Indonesia.
Namun hingga kini, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Batam mengaku belum melakukan pemantauan langsung terhadap kualitas air laut maupun kemungkinan dampak lingkungan pasca tenggelamnya kapal tersebut.
Kepala Bidang Perlindungan Lingkungan Hidup DLH Kota Batam, IP, mengatakan kewenangan penanganan awal insiden masih berada di tangan Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) sebagai instansi yang menangani aspek keselamatan pelayaran dan penanganan kecelakaan kapal.
”Jadi gini, kewenangannya kan masih di situ (KSOP),” kata IP kepada Batam Pos, Senin (8/6).
Menurutnya, DLH baru akan turun melakukan pemeriksaan apabila terdapat laporan atau indikasi pencemaran yang ditemukan oleh instansi terkait di lapangan.
Artinya, selama proses evakuasi, penyelamatan, dan investigasi masih berlangsung, pemantauan utama berada di bawah koordinasi KSOP bersama instansi maritim lainnya.
”Setelah ada pencemaran baru mereka koordinasi nanti,” ujarnya.
Saat ditanya apakah DLH telah melakukan pengecekan langsung untuk memastikan tidak ada dampak pencemaran di wilayah perairan Batam, ia mengaku belum ada langkah tersebut.
”Belum lah, masih teman-teman KSOP. Kalau ada konfirmasi dari mereka ada sesuatu, misalnya pencemaran, baru kita turun,” jelasnya.
Pernyataan tersebut memunculkan pertanyaan lanjutan mengenai kesiapsiagaan daerah menghadapi kemungkinan terburuk jika kebocoran bahan bakar terjadi sewaktu-waktu.
Sebelumnya, Kepala Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Khusus Batam, M. Takwim Masuku, mengatakan fokus utama saat ini masih pada penanganan puluhan kontainer yang hanyut pasca tenggelamnya MV Golden Star 1.
Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan alur pelayaran di perairan Indonesia, khususnya Batam, tetap aman dan tidak terganggu oleh kontainer yang masih tercecer di laut.
”Penyebabnya kami masih mendalami karena kapal ini berangkat bukan dari Indonesia, tetapi dari Singapura. Saat ini fokus kami adalah penanganan kontainer yang hanyut untuk memastikan alur pelayaran Indonesia, khususnya Batam, tetap aman dari sisa kontainer yang hanyut,” ujar Takwim dalam konferensi pers, Sabtu (6/6).
Meski demikian, KSOP memastikan pemantauan terhadap potensi dampak lingkungan tetap dilakukan. Hingga saat ini, otoritas pelabuhan belum menemukan indikasi pencemaran laut yang ditimbulkan akibat tenggelamnya kapal berbendera Tanzania tersebut.
”Sejauh ini kami belum melihat potensi pencemaran lingkungan, khususnya dari bahan bakar akibat kecelakaan tersebut. Namun kami tetap menyiapkan langkah antisipasi. Jika terlihat adanya potensi pencemaran, kami akan segera melakukan penanganan, khususnya yang masuk ke wilayah Batam,” tegas Takwim.(*)

