
batampos – Anggota Komisi I DPR RI Dapil Kepri, Endipat Wijaya, memberikan klarifikasi terkait pernyataannya yang sempat memicu perdebatan di media sosial.
Dia memastikan, bahwa yang ia kritik bukanlah relawan maupun donatur yang membantu korban bencana di Sumatra, melainkan kinerja Komdigi dalam mempublikasikan langkah penanganan bencana oleh pemerintah.
Ia menjelaskan, kesimpangsiuran yang muncul di ruang publik terjadi akibat ketimpangan informasi. Respons cepat relawan lebih mudah viral, sementara berbagai upaya negara yang berskala besar justru kurang mendapatkan sorotan. Hal itu memicu persepsi keliru, di mana pemerintah dianggap kurang hadir dalam penanganan bencana.
Baginya, pemerintah telah mengerahkan anggaran triliunan rupiah, ribuan personel, posko evakuasi, logistik, hingga berbagai langkah pemulihan bagi korban. Namun, sebagian besar masyarakat tidak mengetahuinya karena publikasi yang lemah.
Baca Juga: BP Batam Siapkan Kota Baru di Teluk Tering, Lebih Canggih dari IKN
“Negara bekerja besar, tetapi tidak banyak diberitakan. Masyarakat hanya melihat apa yang viral, bukan apa yang sebenarnya dilakukan,” kata dia, Rabu (10/12).
Endipat menilai Komdigi sebagai institusi komunikasi pemerintah seharusnya mampu memastikan informasi penanganan bencana tersebar secara merata. Publik pun berhak mengetahui upaya negara sejak detik pertama kejadian.
Ia meminta Komdigi meningkatkan intensitas publikasi terkait kegiatan negara, termasuk bantuan dan respons di daerah terdampak bencana. Informasi yang akurat dan masif dapat membantu meredam spekulasi serta memastikan masyarakat mendapatkan gambaran yang utuh mengenai situasi di lapangan.
Pada saat yang sama, dirinya tak pernah berniat merendahkan kerja para relawan. Ia bahkan menyebut relawan sebagai “energi kemanusiaan bangsa” yang selalu hadir dengan ketulusan setiap kali terjadi bencana.
“Relawan bekerja dengan hati, negara bekerja dengan kewajiban. Dua-duanya penting dan tidak boleh dipertentangkan,” katanya.
Baca Juga: Pemko Batam Gelar Pasar Murah di 47 Titik, Berlangsung hingga 17 Desember
Kerja-kerja kemanusiaan tidak boleh terjebak pada polarisasi akibat potongan informasi di media sosial. Fokus utama saat ini adalah membantu para korban, bukan memperdebatkan hal-hal yang hanya mengalihkan perhatian publik.
Endipat berharap, polemik di ruang digital mereda dan publik kembali memusatkan perhatian pada upaya bersama dalam penanganan bencana. Kolaborasi semua lini, relawan, masyarakat, dan pemerintah, merupakan kunci dalam mempercepat pemulihan di daerah terdampak. (*)



