Minggu, 18 Januari 2026

ART Disiksa dan Dipaksa Makan Kotoran, Perkit Bersikap

spot_img

Berita Terkait

spot_img
Ketua dan Penasehat Perkit Kepri, Angelinus dan Datok Amat Tantoso. Foto. Arjuna/ Batam Pos

batampos -Peristiwa memilukan menimpa Intan (20), seorang asisten rumah tangga (ART) di Batam. Ia mengaku menjadi korban penyiksaan keji oleh majikannya, termasuk dipaksa makan kotoran hewan hingga minum air dari septictank. Peristiwa ini mengundang kemarahan publik setelah terbongkar oleh penggerebekan warga bersama komunitas Flobamora, pada Minggu (22/6) kemarin.

Saat ditemukan, kondisi Intan sangat memprihatinkan. Tubuhnya penuh luka, dalam keadaan lemah dan trauma berat. Ia langsung dilarikan ke RS Elisabeth Batam untuk menjalani perawatan intensif.

Kasus ini sontak menyulut reaksi dari masyarakat luas, terlebih dari kalangan perantau asal Indonesia Timur yang melihat kejadian ini sebagai bentuk kekerasan yang tak bisa ditoleransi.

Baca Juga: Korban ART di Rumah Elit Sukajadi, Setahun Dianiaya dan Tak Digaji

Perkumpulan Kekeluargaan Indonesia Timur (Perkit) Kepri, organisasi yang menaungi warga perantauan dari kawasan timur Indonesia, segera bersikap atas peristiwa ini. Mereka menggelar pertemuan darurat dan mendesak aparat penegak hukum mengusut tuntas tindakan kekerasan tersebut.

“Kita menyikapi perbuatan yang dilakukan oleh oknum terhadap salah seorang saudara kita. Ini bukan soal asal usul, ini soal kemanusiaan,” tegas Ketua Perkit Kepri, Angelinus saat ditemui, Senin (23/6).

Ia menambahkan, tindakan yang dilakukan terhadap Intan telah melampaui batas. Apa yang telah lakukan sangat tidak manusiawi. Pihaknya akan terus mengawal proses hukum yang sedang ditangani oleh kepolisian. Dia menduga, pelaku penyiksaan bukan hanya satu orang, sehingga penting untuk mendalami kasus ini lebih jauh.

“Kita percayakan proses ini kepada kepolisian, tapi kita juga perlu memastikan bahwa pelaku benar-benar ditahan,” ujarnya.

Penasehat Perkit Kepri, Datok Amat Tantoso, turut menyampaikan keprihatinannya. Ia mengaku sangat sedih dan kecewa mendengar kabar Intan yang mengalami kekerasan ekstrem di rumah tempat ia bekerja. “Kenapa majikannya setega itu? Adik kita dipukul sampai babak belur,” katanya.

Kejadian ini telah menjadi sorotan publik, termasuk di media sosial. Oleh karena itu, ia mendorong agar pelaku ditindak secara tegas dan tidak mendapat toleransi apa pun.

“Kami berharap pelaku dihukum setimpal sesuai dengan perbuatannya,” kata Datok Amat.

Datok Amat menyampaikan juga seperti apa perjuangan para perantau dari wilayah timur Indonesia yang datang ke Batam dengan harapan hidup lebih baik. “Mereka menempuh perjalanan jauh, lewat laut berhari-hari, hanya untuk mencari kerja. Tapi justru diperlakukan seperti ini,” tambahnya.

Intan diketahui berasal dari wilayah Indonesia Timur, dan bekerja di Batam sebagai ART demi menyokong kehidupan keluarganya di kampung halaman. Bagi Perkit, apa yang menimpa Intan adalah luka kolektif bagi komunitas perantau. “Ibarat satu orang dicubit, kita semua ikut merasakan sakit,” ujar Datok Amat.

Perkit Kepri tegas bahwa mereka tidak akan tinggal diam. Selain memberikan pendampingan kepada korban, mereka juga akan terus mengawal proses hukum agar kasus ini menjadi pelajaran penting bagi siapa pun yang memperlakukan pekerja rumah tangga secara tidak manusiawi. (*)

Reporter: Arjuna

Update