Kamis, 22 Januari 2026

AS Kenakan Tarif Tinggi, BP Batam Siapkan Strategi Lindungi Ekspor

spot_img

Berita Terkait

spot_img
Ilustrasi komoditas ekspor.

batampos – Indonesia menjadi korban terbaru dalam rangkaian kebijakan proteksionisme perdagangan yang diberlakukan oleh Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump.

AS akan mengenakan tarif resiprokal terhadap produk-produk dari Indonesia, dengan besaran tarif yang bisa mencapai 32 persen. Kebijakan ini diambil menyusul defisit perdagangan AS terhadap Indonesia yang terus membengkak.

Data perdagangan terkini menunjukkan bahwa Indonesia mencatatkan surplus sebesar US$ 14,34 miliar terhadap AS pada tahun 2024. Angka tersebut menempatkan Indonesia di posisi ke-15 sebagai negara penyumbang defisit terbesar bagi Amerika. Kebijakan tarif ini diyakini akan berdampak signifikan terhadap sektor ekspor nasional, termasuk dari daerah strategis seperti Batam.

Baca Juga: Pajak Resiprokal AS 32 Persen, Industri Padat Karya Terancam Rontok

Pemerintah Indonesia saat ini tengah memetakan dampak lanjutan dari tarif baru tersebut, terutama terhadap produk-produk ekspor unggulan. Batam menjadi salah satu wilayah yang menjadi perhatian utama, mengingat perannya sebagai kawasan industri dan ekspor utama di Tanah Air.

Deputi Investasi dan Pengusahaan BP Batam, Fary Djemy Francis, menyatakan bahwa pihaknya siap menghadapi tantangan ini. Menurutnya, perubahan kebijakan internasional bukanlah hal baru bagi BP Batam.

“Indonesia, khususnya BP Batam, pada umumnya mampu bertahan menghadapi berbagai manuver perdagangan internasional seperti ini,” katanya, Sabtu (5/4).

Dalam menghadapi kebijakan tarif tinggi dari AS, BP Batam telah menyiapkan sejumlah strategi komprehensif. Di antaranya adalah penyesuaian kebijakan dan insentif bagi pelaku usaha, penguatan sektor industri bernilai tambah, serta optimalisasi status Batam sebagai Kawasan Perdagangan Bebas (FTZ).

Baca Juga: Tarif 32 Persen Trump Ancam Ekspor Batam, Pengusaha Waswas

Fary menambahkan, BP Batam juga memperkuat koordinasi dengan pemerintah pusat melalui berbagai saluran diplomasi perdagangan internasional. Upaya ini diharapkan dapat membuka ruang negosiasi agar Indonesia mendapatkan perlakuan yang lebih adil di pasar global.

Tak hanya itu, BP Batam juga aktif menjalin sinergi dengan sektor swasta melalui agregasi rantai pasok ekspor internasional. Kolaborasi ini dinilai penting untuk mempertahankan daya saing ekspor Batam ke pasar Amerika Serikat maupun negara mitra lainnya.

Batam sendiri tercatat mengekspor produk ke AS senilai sekitar USD 4 miliar pada tahun 2024. Angka tersebut setara dengan 25 persen dari total ekspor Kota Batam sepanjang tahun lalu. Dengan komposisi ekspor sebesar itu, kebijakan tarif dari AS tentu akan berdampak langsung terhadap minat dan perluasan investasi di Batam.

Meski demikian, BP Batam optimistis bahwa dengan strategi yang telah dirancang, Batam tetap dapat kompetitif di pasar AS.

“Langkah-langkah strategis yang kami lakukan bertujuan agar iklim investasi tetap kondusif dan ekspor dapat terus berjalan meski dalam tekanan kebijakan perdagangan global,” kata Fary. (*)

Reporter: Arjuna

Update