Kamis, 15 Januari 2026

Atasi Pengangguran, Percepat Realisasi Investasi dan Buka Perbatasan

spot_img

Berita Terkait

spot_img
Gubernur Kepri, Ansar Ahmad. (Humas Pemprov untuk Batam Pos)

batampos.co.id – Gubernur Kepri, Ansar Ahmad angkat bicara, terkait Kepri yang menempati posisi pertama untuk tingkat pengangguran terbuka (TPT) di Indonesia per Agustus 2021.

Menurut Ansar, cara paling efektif menekan pengangguran yakni dengan meningkatkan pertumbuhan investasi dan membuka perbatasan antara Singapura dan Indonesia, agar wisatawan mancanegara (wisman) bisa masuk ke Kepri.

“Iya, solusi menurunkan angka pengangguran di Kepri, tidak lain adalah percepatan realisasi investasi dan pembukaan perbatasan,” kata Ansar saat ditemui di Hotel Swissbell, Batuampar, Selasa (16/11).

Ansar mengungkapkan, sejauh ini sektor yang paling tertekan dan menyumbangkan angka pengangguran terbanyak yakni pariwisata.

Selain itu, daerah ini merupakan tujuan pencari kerja. “Orang kalau dari Jakarta ke Bali atau ke Jogja ya bawa uang berwisata. Kalau ke sini ya cari kerja. Jadi, kalau nanti terdata Badan Pusat Statistik (BPS), ya dia pengangguran yang sedang mencari kerja,” ucapnya.

Dengan dibukanya perbatasan antara Singapura dan Indonesia, 29 November nanti, Ansar yakin, kalau pekerja di sektor pariwisata khususnya di perhotelan yang sempat dirumahkan, akan dipanggil untuk bekerja kembali.

“Tapi tetap kita upayakan penurunan angkanya. Kemarin sempat 10 persen (2020), terakhir ini 9,91 persen (2021). Saya yakin akan terus turun, karena industri-industri sudah mulai bergerak dan menambah karyawan juga,” ucapnya.

Sebelumnya, Kepri menjadi provinsi dengan tingkat pengangguran terbuka (TPT) tertinggi di Indonesia, per Agustus 2021. Persentasenya sebesar 9,91 persen. Meski begitu, terjadi penurunan dari Februari 2021, dimana TPT saat itu sebesar 10,12 persen.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kepri, Agus Sudibyo mengatakan jumlah penduduk yang bekerja sebanyak 1.087.419 orang, meningkat sebanyak 70.819 orang dari Agustus 2020.

“Terdapat 209.506 orang (11,85 persen penduduk usia kerja) yang terdampak Covid-19, terdiri dari pengangguran karena Covid (41.275 orang), bukan angkatan kerja karena Covid (5.889 orang), sementara tidak bekerja karena Covid (11.698 orang) dan penduduk bekerja yang mengalami pengurangan jam kerja karena Covid (150.644 orang),” ungkapnya. (*)

Reporter : RIFKI SETIAWAN

 

Update