Kamis, 2 April 2026

Awal Tahun, DBD di Batam 216 Kasus

spot_img

Berita Terkait

spot_img
Ilustrasi. Warga RW 08 Perumahan Barelang-Central Raya turun bersama mengasapi parit dan area di sekitar rumah warga untuk mengusir nyamuk penyebab DBD, Minggu (7/11/2021). Foto: Dalil Harahap/batampos.co.id

batampos – Kasus demam berdarah (DBD) tergolong cukup tinggi dan patut untuk diwaspadai di Kota Batam. Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kota Batam, awal tahun ini tercatat sudah ada sebanyak 216 kasus DBD di Batam.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Batam Didi Kusmarjadi mengungkapkan kasus DBD Januari hingga Maret 2022 ini berjumlah 216 kasus. Angkanya hampir sama dengan periode sama tahun sebelumnya yakni sebanyak 222 kasus.

“Ya, sampai akhir Maret ini saja tercatat sudah ada 216 kasus DBD di Kota Batam,” ujar Didi di Sekupang, Kamis (31/3).

Ia menjelaskan dari 216 kasus DBD tahun 2022 ini, ada dua kasus yang dinyatakan meninggal dunia. Jumlah kematian tertinggi akibat DBD ada di Lubukbaja yakni satu kasus. Kemudian di Batuaji satu kasus kematian.

Lebih lanjut Didi menyebutkan, kondisi musim penghujan di tahun ini menjadi salah satu faktor peningkatan DBD tersebut. Ia mengatakan disaat curah hujan biasanya populasi nyamuk aedes aegypti akan meningkat. Peningkatan ini tentunya juga meningkatkan penularan penyakit DBD.

“Kasus DBD ini bersifat fluktuatif. Namun saat musim hujan, kejadian penyakit DBD akan meningkat,” tambahnya.

Selain itu, pada musim hujan populasi Aedes aegypti akan meningkat karena telur yang belum menetas akan menetas ketika habitat perkembangbiakannya mulai tergenang air hujan. Kondisi tersebut akan meningkatkan populasi nyamuk sehingga dapat menyebabkan peningkatan penularan DBD.

“Oleh sebab itulah kita menghimbau untuk tetap 3 M + yakni menguras, mengubur, dan menutup wadah yang berpotensi jadi sarang nyamuk. Peran aktif masyarakat sangat diperlukan di dalam mencegah penyebaran DBD ini,” imbaunya.

Selain itu Berbagai upaya terus dilakukan Dinas Kesehatan Batam untuk penanganan kasus DBD ini. Salah satunya dengan memberikan penyuluhan ke masyarakat. Sampai dengan menggalakan peran juru pemantau jentik (jumantik) dengan programnya ‘Gerakan 1 rumah 1 jumantik’.

“Kita aktifkan kembali gerakan 1 rumah 1 jumantik,” kata Didi. (*)

Reporter : Rengga Yuliandra

UPDATE