Selasa, 3 Februari 2026

Bank Indonesia: Di Tengah Ketidakpastian Global, Batam Masih Tetap Jadi Magnet Bagi Investor

spot_img

Berita Terkait

spot_img
Ilustrasi Investasi. F. Pasardana

batampos– Batam belum kehilangan pesonanya di mata investor. Sepanjang 2025 Bank Indonesia Kepri mencatat, investasi menyumbang lebih dari 40 persen struktur perekonomian Batam—sebuah porsi dominan yang membuat kota ini tetap melaju di tengah ketidakpastian global.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kepulauan Riau, Ronny Widijarto, menyebut realisasi investasi Batam pada 2025 mencapai Rp69,30 triliun. Angka itu bukan sekadar catatan statistik. Investasi tumbuh 12,17 persen secara tahunan pada triwulan III 2025, atau 8,81 persen secara kumulatif sejak awal tahun.

“Ini menjadi motor utama yang mendorong pertumbuhan ekonomi Batam tetap tinggi,” ujar Ronny, Selasa (3/2/2026).

Lonjakan investasi itu menandakan Batam masih menjadi magnet, baik bagi investor domestik maupun asing.

Efeknya menjalar ke sektor lain—dari penyerapan tenaga kerja hingga meningkatnya aktivitas ekonomi di Kepulauan Riau secara lebih luas.

Di sisi lain, daya beli masyarakat belum menunjukkan tanda-tanda melemah. Survei konsumen Bank Indonesia memperlihatkan tingkat optimisme yang masih terjaga. Sepanjang 2025, seluruh indeks utama—Indeks Keyakinan Konsumen (IKK), Indeks Kondisi Ekonomi (IKE), dan Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK)—bertahan di atas level 100, ambang batas optimisme. IKK tercatat 122,29, IKE 114,43, dan IEK 130,15.

“Meski sedikit menurun dibanding 2024, angka-angka ini mencerminkan keyakinan masyarakat terhadap stabilitas pendapatan, peluang kerja, dan prospek ekonomi ke depan,” katadia.

Optimisme itu tercermin dalam konsumsi rumah tangga. Pada triwulan III 2025, konsumsi rumah tangga Batam tumbuh 4,37 persen (year on year), meningkat dibanding triwulan sebelumnya yang sebesar 3,81 persen.

Kontribusinya terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Batam mencapai 1,64 persen—menandakan peran konsumsi tetap signifikan di tengah dominasi investasi.

Namun pertumbuhan ekonomi yang ekspansif hampir selalu membawa konsekuensi: tekanan harga. Pada Desember 2025, inflasi Batam tercatat 3,68 persen secara tahunan, lebih tinggi dibandingkan 2024 yang sebesar 2,24 persen.

“Kenaikan harga paling terasa datang dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau, yang menyumbang inflasi bulanan terbesar, didorong lonjakan harga cabai rawit, cabai merah, dan daging ayam ras,” ujarnya.

Tekanan juga datang dari sektor transportasi dan perawatan pribadi. Tarif angkutan udara yang meningkat serta naiknya harga emas ikut mendorong inflasi. Meski demikian, Bank Indonesia menilai kondisi ini masih dalam batas wajar.

“Pertumbuhan ekonomi yang kuat biasanya diiringi kenaikan inflasi sebagai cerminan meningkatnya permintaan domestik,” jelasnya.

Koordinasi antarinstansi melalui Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) menjadi kunci menjaga stabilitas harga. Tekanan dari komoditas energi relatif terkendali, seiring menurunnya harga minyak dunia pada akhir 2025. Inflasi listrik dan bahan bakar rumah tangga di Batam pun terjaga.

Dari sisi produsen, indikator kesejahteraan menunjukkan sinyal positif. Nilai Tukar Petani (NTP) Kepulauan Riau pada Desember 2025 mencapai 108,01—level tertinggi sepanjang tahun.

Artinya, kenaikan harga yang diterima petani lebih tinggi dibandingkan kenaikan biaya produksi dan konsumsi rumah tangga.

Bank Indonesia mencermati bahwa rambatan inflasi bisa bersumber dari sisi permintaan maupun penawaran. Arus investasi dan aktivitas industri memang meningkatkan permintaan bahan baku dan tenaga kerja, yang berpotensi menaikkan biaya produksi.

“Namun dalam jangka menengah, investasi juga memperbesar kapasitas produksi, menambah pasokan barang dan jasa, serta meredam tekanan harga,” ujarnya

Secara nasional, inflasi inti masih terjaga di level rendah, 2,38 persen. Kondisi ini menunjukkan ekonomi Indonesia—termasuk Batam—masih memiliki ruang untuk menyerap tambahan investasi tanpa memicu lonjakan inflasi yang berlebihan.(*)

ReporterAzis Maulana

Update