Kamis, 15 Januari 2026

Batam Bersepeda, Warga Bersatu di Atas Pedal

spot_img

Berita Terkait

spot_img
Peserta Batam Bersepeda melintasi rute bundaran BP Batam.

batampos – Minggu pagi, 25 Mei, Dataran Engku Putri, jantung kota Batam, perlahan-lahan dibanjiri warga dari berbagai penjuru. Tak hanya pesepeda dari komunitas-komunitas yang biasa berlatih tiap pekan, tapi juga warga biasa, pelajar, ASN, hingga pejabat pemerintah.

Mereka datang membawa sepeda, dan mungkin lebih dari itu—membawa semangat baru untuk kota yang sedang menata arah pascapandemi dan guncangan ekonomi.

Event Batam Bersepeda 2025 bukan sekadar kegiatan olahraga. Kegiatan itu menjelma jadi semacam panggung bersama. Tempat warga bertemu tanpa sekat, mengayuh roda dengan irama yang sama, menyapa satu sama lain dengan napas yang sama: hidup sehat, hidup ramah lingkungan.

Baca Juga: Tim Terpadu Pemerintah Akan Lakukan Pengukuran ROW Jalan di Baloi Kolam

Acara dilepas secara resmi oleh Sekretaris Daerah (Sekda) Batam, Jefridin Hamid, yang mewakili Wali Kota Amsakar Achmad dan Wakil Wali Kota Li Claudia Chandra. Meski kepala daerah berhalangan hadir, semangat mereka terasa dalam sambutan yang dibacakan penuh antusias.

“Atas nama Wali Kota dan Wakil Wali Kota, kami mengucapkan terima kasih atas partisipasi masyarakat yang luar biasa dalam menyukseskan Batam Bersepeda tahun ini. Ini bukan hanya event olahraga, tapi bagian dari semangat kita membangun kota yang sehat dan harmonis,” kata Jefridin.

Peserta memulai kayuhan dari Dataran Engku Putri. Lalu, rute membawa mereka melewati Bundaran BP Batam, Mitra 10, Simpang One Batam Mall, Bundaran Madani, Simpang Gelael, Perumahan Rosedel, Sekolah Harapan Utama, Pollux Habibie, hingga Fanindo.

Setiap ruas jalan yang dilewati menjadi saksi semangat warga. Di banyak titik, warga menepi menyemangati. Di sudut lain, anak-anak melambaikan tangan, seolah ikut mengayuh meski tak berada di atas sadel.

Baca Juga: Premanisme, Balap Liar, dan C3 Jadi Sasaran Polisi saat Patroli

Tak ada yang dikejar dari kegiatan ini, kecuali rasa bersama. Tanpa kompetisi. Tanpa garis waktu. Semua ikut. Semua merasa bagian dari narasi yang sedang ditulis kota ini, narasi kebugaran, kelestarian, dan kebersamaan.

Sebagai bumbu khas Melayu yang tak pernah absen di kegiatan publik, pantun kembali dilontarkan. Sekda Jefridin, mengajak peserta tersenyum lewat bait klasik:

“Anak gadis menjolok pidada, jatuh sebiji di dalam pagar. Mari terus berolahraga, agar badan sehat dan bugar.”

Pantun itu bukan hanya sebagai penghias seremoni. Ia menjadi pengikat nilai. Sebab dalam tradisi lisan masyarakat Melayu, pantun adalah nasihat yang berbalut keindahan.

Dan seperti dalam banyak kegiatan rakyat, acara ditutup dengan undian dorprize yang tak kalah ditunggu. Sepeda baru, perlengkapan olahraga, dan hadiah menarik lainnya membuat peserta tetap bertahan di lokasi hingga pengundian selesai. Bagi yang belum beruntung, tetap pulang dengan senyum. Bagi yang menang, tentu pulang dengan bonus kebahagiaan.

Batam Bersepeda adalah bagian dari program Kota Sehat. Tapi lebih dari itu, ia adalah cerminan dari kebutuhan masyarakat urban yang mendambakan ruang jeda di tengah tekanan hidup. Sepeda menjadi medium, tapi muatan pesannya lebih dalam: tentang relasi, tentang ruang publik yang terbuka, tentang gaya hidup yang berkelanjutan.

Baca Juga: Disdik Batam Luncurkan Aplikasi SPMB, Pendaftaran Sekolah Kini Lebih Mudah

Pemerintah Kota (Pemko) Batam, lewat Dinas Kepemudaan dan Olahraga (Dispora), patut diapresiasi karena kembali menghidupkan kegiatan ini. Namun pekerjaan rumah tetap menanti, yakni menyediakan jalur sepeda yang aman, mengintegrasikan sepeda ke dalam sistem transportasi kota, dan memastikan bahwa gaya hidup sehat ini bisa diakses semua kalangan—bukan hanya saat event tahunan, tapi sebagai kebiasaan harian.

Untuk sementara, mari kita nikmati semangat yang tersisa dari Batam Bersepeda 2025. Karena seperti kata pantun Melayu lainnya: Badan sehat harta berharga, lebih baik dari intan permata. (*)

 

Reporter: Arjuna

Update