Sabtu, 17 Januari 2026

Batam Butuh Lebih Banyak Ruang Seperti Ini!

spot_img

Berita Terkait

spot_img
Kiki dari CikiChump (kiri) bersama Hannah dari Dua Lima Project usai kegiatan literasi di Art Café Palm Spring, Sabtu (6/12) sore.

batampos – Halaman Art Cafe Palm Spring, Batam Center, mendadak menjadi ruang bertemunya para pencinta literasi pada Sabtu (6/12) sore. Anak-anak muda dari berbagai wilayah Kota Batam berkumpul untuk membaca, berdialog, dan berbagi gagasan dalam suasana santai namun intens.

Di atas hamparan rumput hijau itu, anak-anak muda duduk. Ada yang serius membuka buku, ada yang berdiskusi kecil, ada pula yang sekadar mengamati sambil menunggu giliran berbicara dan bertanya. Suasana santai, tetapi percakapan yang mengalir terasa intens.

Kegiatan ini digagas oleh tiga komunitas dan gerakan progresif yang konsisten menghidupkan ruang bertukar pikiran, ide, dan gagasan di Batam. Yakni ChikiCump, Dua Lima Project, Ruang Urban Batam (RUBI).

Isu inti yang mengemuka dari para peserta yang datang dari Sekupang, Batu Aji hingga Sei Beduk adalah sulitnya menemukan ruang publik yang nyaman dan gratis untuk membaca dan berdiskusi. Akses transportasi umum yang terbatas turut menjadi hambatan bagi mereka menjangkau pusat kota.

Hannah (30), perempuan asal Amerika yang kini menjadi penggerak Komunitas Dua Lima, mengatakan bahwa kegiatan seperti ini sudah tiga kali mereka gelar. Dua Lima yang bergarak di komunitas literasi itu sendiri sudah setahun berjalan di Batam.

Hannah, mengenal dunia pendidikan cukup lama. Sudah lima tahun ia menjadi guru IPA di sekolah internasional di Jakarta, sebelum pindah ke Batam tiga tahun lalu.

Dari pengalaman itu, ia melihat satu fenomena yang mengemuka: “Banyak warga Batam ingin belajar dan ingin terlibat dalam diskusi, tetapi ruang untuk melakukannya hampir tidak ada,” kata dia.

Ia mencoba menjelaskan makna “ruang” dalam bahasa Indonesia yang ia pelajari selama di Batam.

“Kalau ruangan itu kosong. Sementara Ruang itu ada sesuatu yang mengisi. Seperti tempat baca, tempat ngobrol, tempat untuk mengisi hal-hal yang positif. Dan ruang seperti itu belum banyak di Batam,” kata dia kepada Batam Pos.

Menurutnya, komunitas terpaksa menyewa kafe atau ruang sementara. “Banyak yang mau bantu. Kalau ada ruangnya, kami siap hidupkan literasi,” tambahnya.

Sementara itu, Kiki dari ChikiChump menilai persoalan ini bukan hanya soal fasilitas fisik, melainkan struktural. Ia menyebut pembangunan kota harus menempatkan manusia sebagai pusat pertumbuhan.

“Kalau hanya fokus ekonomi, tapi manusia dan alamnya diabaikan, kota ini nggak punya penopang,” tegas lulusan Universitas Indonesia tersebut.

Kiki menegaskan bahwa pembangunan yang sehat adalah pembangunan yang dimulai dari manusia. Jika manusianya berkembang, kota pun ikut maju.

Ia berpandangan setiap kecamatan di Batam idealnya memiliki minimal satu ruang publik gratis yang aman dan mudah diakses untuk membaca, belajar, dan berdiskusi.

“Kalau ruang itu dekat dengan warga, dia akan hidup dengan sendirinya,” ucapnya.

Komunitas berharap aspirasi ini menjadi perhatian pemerintah dan pemangku kepentingan agar budaya literasi di Batam semakin berkembang. (*)

Reporter: M. Sya’ban 

Update