Senin, 12 Januari 2026

Batam Darurat Sampah, Penumpukan di Pinggir Jalan Kian Parah

spot_img

Berita Terkait

spot_img
Sampah menumpuk di sepanjang pingggir jalan menuju kawasan galangan kapal Seilekop. Foto. Eusebius sara/ Batam Pos

batampos – Persoalan sampah di Batam semakin sulit diatasi. Penumpukan sampah di pinggir jalan terus bermunculan, mencoreng estetika kota dan mengganggu kenyamanan warga. Sampah rumah tangga dan plastik berserakan di berbagai sudut kota, menimbulkan bau tak sedap serta mengancam kesehatan masyarakat.

Fenomena ini tampaknya semakin meluas, dengan titik-titik penumpukan baru yang terus muncul. Di beberapa lokasi, sampah yang sudah lama menumpuk dibiarkan tanpa penanganan, menambah kesan kumuh di jalan-jalan utama. Kondisi ini semakin diperparah dengan minimnya kesadaran warga dalam membuang sampah pada tempatnya.

Wilayah Batuaji dan Sagulung menjadi daerah yang paling terdampak. Warga dan pengendara yang melintasi jalan-jalan di sana mengeluhkan bau busuk yang menyengat serta banyaknya lalat yang beterbangan. Sampah yang membusuk bahkan mulai mengundang ulat, meningkatkan risiko penyebaran penyakit bagi masyarakat sekitar.

Di tengah situasi ini, petugas pengangkut sampah tampak kewalahan. Meskipun mereka terus bekerja keras mengangkut sampah dari tong-tong di permukiman, sampah yang menumpuk di pinggir jalan tampaknya belum dapat terakomodasi sepenuhnya. Kondisi ini menyebabkan sampah terus menumpuk tanpa ada solusi yang benar-benar efektif.

Aldi, salah satu petugas kebersihan yang ditemui di lapangan, mengakui bahwa menangani sampah di Batam saat ini menjadi tantangan besar. “Setiap kali diangkut, dalam sehari saja sampah sudah kembali menumpuk. Belum selesai satu titik, titik lain sudah penuh lagi,” ungkapnya. Menurutnya, jumlah sampah yang terus bertambah membuat upaya pembersihan seperti tidak ada habisnya.

Pemerintah kecamatan pun menyatakan bahwa mereka terus berupaya maksimal untuk menangani persoalan ini. Armada pengangkut sampah masih bekerja secara optimal, namun mereka juga menyoroti pentingnya kesadaran warga dalam membuang sampah secara tertib. “Kalau sampah diletakkan di depan rumah, semuanya bisa terangkut. Tapi kalau dibuang sembarangan ke pinggir jalan, ini akan menyulitkan petugas,” kata Camat Sagulung, M. Hafiz Rozie.

Namun, di sisi lain, warga juga mengeluhkan keterlambatan dalam pengangkutan sampah dari permukiman. Beberapa warga yang ditemui Batam Pos mengaku bahwa sampah di depan rumah mereka sering tidak diangkut tepat waktu, sehingga mereka terpaksa membuangnya ke pinggir jalan. Hal ini terjadi karena tong sampah di depan rumah mereka sudah penuh, dan mereka tidak punya pilihan lain.

Ummar, salah seorang warga Kavling Seroja, mengungkapkan bahwa armada pengangkut sampah sering datang terlambat, sehingga warga tidak tahu harus membuang sampah ke mana. “Kalau sampah di depan rumah sudah penuh dan tidak segera diangkut, kami terpaksa membuangnya ke pinggir jalan,” ujarnya.

Permasalahan sampah di Batam ini menjadi dilema yang membutuhkan solusi menyeluruh. Selain peningkatan kapasitas pengangkutan sampah, peran serta masyarakat dalam menjaga kebersihan juga sangat diperlukan. Kesadaran untuk membuang sampah pada tempatnya serta disiplin dalam mengikuti jadwal pengangkutan bisa menjadi langkah awal dalam mengatasi krisis sampah ini.

Pemerintah setempat diharapkan dapat segera mengambil langkah-langkah konkret untuk mengatasi permasalahan ini sebelum semakin parah. Jika tidak segera ditangani, persoalan sampah ini tidak hanya akan merusak pemandangan kota, tetapi juga berpotensi menimbulkan masalah kesehatan dan lingkungan yang lebih serius. (*)

Reporter : Eusebius Sara

Update