Senin, 12 Januari 2026

Batam Dibanjiri Pencari Kerja, Disnaker Klaim Peluang Masih Banyak

spot_img

Berita Terkait

spot_img
Ilustrasi. Pencari kerja di Batam sedang mengurus kartu kuning di Disnaker Batam. Foto. Dalil Harahap/ Batam Pos

batampos – Ramainya pelamar kerja saat pelaksanaan job fit beberapa waktu lalu mengindikasikan kekhawatiran baru di tengah masyarakat. Batam sedang menghadapi tekanan tinggi dari melonjaknya angka pencari kerja.

Fenomena ini memunculkan pertanyaan besar, apakah Kota Batam benar-benar sedang mengalami krisis pengangguran?Kepala Dinas Ketenagakerjaan (Disnaker) Kota Batam, Rudi Sakyakirti, tidak menampik bahwa banyaknya pelamar adalah cerminan tingginya minat bekerja di Batam.

Namun, menurutnya, hal itu bukan semata karena pengangguran meningkat, melainkan karena Batam tetap menjadi daerah tujuan utama para pencari kerja dari berbagai wilayah. Ia menilai, tingginya permintaan kerja merupakan konsekuensi dari citra Batam sebagai kota industri dengan prospek yang menjanjikan.

Baca Juga: 1.456 Pelamar Ikuti Wawancara Daring di Job Fair Tunas Industrial Estate

“Batam ini, kan, primadona. Semua orang ingin datang ke Batam,” katanya, Jumat (30/5).

Peluang kerja di Batam tetap terbuka luas. Terlebih dengan adanya kebijakan baru dari Kementerian Ketenagakerjaan (Kemenaker) terkait penghapusan batas usia pelamar kerja, semua kalangan kini memiliki kesempatan yang sama untuk bersaing di dunia kerja.

“Kesempatan itu banyak di sini. Apalagi mengenai Surat Edaran baru dari Kemenaker mengenai penghapusan pembatasan usia pelamar kerja. Tentu ini memberi kesempatan kerja yang sama kepada seluruh orang di Batam,” ujarnya.

Ia menambahkan, faktor lain yang membuat Batam tetap menarik adalah tingginya upah minimum regional. “Upah di Batam itu tinggi, hampir Rp5 juta. Itu salah satu yang membuat orang berbondong-bondong datang ke sini,” tambah Rudi.

Baca Juga: 50 Ribu Pengangguran di Batam, Disnaker Waspadai Dampak Otomasi Industri

Pengamatan dia juga menunjukkan sistem ketenagakerjaan di Batam memang bersifat dinamis. Ia menyebut adanya praktik penyegaran tenaga kerja oleh perusahaan-perusahaan, yang terkadang memutus kontrak sebagian karyawan dan kemudian merekrut lagi dalam jumlah serupa.

“Setiap lowongan ada. Kadang-kadang model perusahaan ini refresh karyawan. Misal, di PHK 10, yang nantinya diterima juga 10. Jadi perputarannya seperti itu. Otomatis pengangguran, kan, tetap ada,” kata dia.

Rudi mengungkapkan, permintaan pembuatan kartu AK1, yang merupakan syarat utama melamar kerja, saat ini mencapai 100 permohonan per hari. Ini menjadi indikator bahwa arus pencari kerja terus mengalir ke Disnaker Batam. Meski demikian, ia mengklaim angka pengangguran di Batam cenderung menurun setiap tahun.

“Angkanya saya lupa berapa, tapi yang jelas setiap tahun semakin menurun. Sekarang mungkin tinggal sekitar 7 persenan, lah,” katanya.

Ia berharap, perusahaan-perusahaan yang sudah ada dapat memperluas kapasitas dan menyerap lebih banyak tenaga kerja, bukan justru melakukan pemutusan hubungan kerja.

“Kita berharap yang sudah ada ini (pekerja di perusahaan) jangan diputuskan, mestinya memang harus ditambah,” ujar dia. (*)

Reporter: Arjuna

Update