Rabu, 14 Januari 2026

Batam Menghadapi Krisis Kelapa, Harga Santan Melonjak Tajam

spot_img

Berita Terkait

spot_img
ilustrasi pedagang santan curah di pasar Mustapa
F. Cecep Mulyana/Batam Pos

batampos – Harga santan curah dan kemasan pabrik di Batam telah mengalami kenaikan yang signifikan dalam dua bulan terakhir. Santan yang sebelumnya dijual sekitar Rp22 ribu per kilogram (kg) kini harganya melonjak menjadi Rp40 ribu per kg. Kenaikan harga ini sangat dirasakan oleh masyarakat, terutama para pelaku usaha kuliner yang sangat bergantung pada santan segar sebagai bahan utama. Tidak hanya mahal, santan kemasan pabrik juga menjadi barang langka di pasaran, sementara harga santan curah terus meroket.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Batam, Mardanis, menjelaskan bahwa kenaikan harga santan ini disebabkan oleh terbatasnya pasokan kelapa di Batam. “Batam tidak memiliki produksi kelapa lokal, dan kelapa yang masuk ke Batam berasal dari luar daerah, seperti Tanjungbatu, Tembilahan, dan Tanjungpinang. Hal ini menyebabkan pasokan kelapa untuk kebutuhan lokal semakin terbatas,” ungkap Mardanis, Jumat (14/2), saat diwawancarai oleh Batam Pos.

Menurut Mardanis, salah satu penyebab utama kelangkaan kelapa di Batam adalah tingginya volume ekspor ke luar negeri, khususnya ke Malaysia dan Singapura. “Kelapa yang biasa datang ke Batam kini lebih banyak diekspor daripada untuk konsumsi lokal. Akibatnya, pasokan di pasar lokal semakin terbatas, dan harga santan pun ikut melonjak,” jelasnya.

Mardanis menyamakan situasi ini dengan masalah yang terjadi pada minyak sawit di Indonesia, di mana sebagian besar produksi diekspor, sehingga stok lokal menjadi terbatas dan harga pun meningkat. Oleh karena itu, ia mengusulkan agar pemerintah membatasi ekspor kelapa demi menjaga pasokan untuk kebutuhan dalam negeri.

Ia mengungkapkan bahwa harga kelapa untuk ekspor jauh lebih tinggi dibandingkan dengan harga pasar lokal, yang membuat petani lebih memilih menjual kelapanya ke eksportir. “Contohnya, 1.000 butir kelapa bisa dibeli eksportir dengan harga Rp10 ribu per butir, sementara jika dijual ke pengolah lokal, harganya hanya Rp5 ribu. Tentu saja, petani lebih memilih menjual ke eksportir karena lebih menguntungkan,” ujar Mardanis.

Situasi ini menyebabkan pasokan kelapa di pasar lokal semakin menipis. Mardanis menilai seharusnya pemerintah bisa membatasi ekspor dengan mengurangi kuota ekspor kelapa. “Misalnya, jika ekspor kelapa mencapai 10 ton, 1 ton harus disisihkan untuk pasar lokal Batam, dan 9 ton boleh diekspor. Dengan demikian, stok kelapa di Batam akan tetap tersedia dan harga bisa kembali stabil,” paparnya.

Sebagai langkah konkret, Pemko Batam akan segera menggelar rapat koordinasi dengan eksportir kelapa dan pihak terkait. “Kami akan mengundang eksportir dan pihak karantina untuk berdiskusi, agar ekspor kelapa tidak terlalu longgar dan kebutuhan lokal bisa lebih terpenuhi,” ujar Mardanis.

Selain itu, DKPP juga berencana untuk mengadakan operasi pasar sebagai langkah jangka pendek untuk menstabilkan harga santan di Batam. “Kami akan mulai operasi pasar pada Senin depan dan mencoba menjual santan dengan harga yang lebih terjangkau agar masyarakat tidak terbebani,” tambahnya.

Mardanis juga menyoroti kelangkaan santan kemasan di Batam. “Santan kemasan sangat sulit didapatkan di Batam, padahal jika tersedia, itu bisa menjadi alternatif bagi masyarakat saat harga santan segar naik,” ujarnya. Ia berkomitmen untuk mencari tahu penyebab kelangkaan santan kemasan dan berkoordinasi dengan distributor untuk memperlancar pasokannya. “Kami akan meminta distributor untuk lebih banyak memasok santan kemasan ke Batam. Jika perlu, Pemda bisa membuat kebijakan agar distribusi santan kemasan diprioritaskan untuk pasar lokal,” tambahnya.

Menurut Mardanis, jika kelangkaan santan kemasan dapat diatasi, maka harga santan segar di pasaran tidak akan terlalu terpengaruh oleh kenaikan harga kelapa. “Dengan adanya santan kemasan, masyarakat bisa memiliki alternatif lain selain santan segar, yang bisa menjadi solusi jangka pendek untuk menstabilkan harga,” tutupnya.

Pantauan di Pasar Victoria, Sekupang, pada Selasa (13/2), menunjukkan bahwa pedagang santan mengungkapkan bahwa kenaikan harga ini disebabkan oleh pasokan kelapa yang berkurang. Banyak kelapa yang dikirim ke Malaysia karena harga jual di sana lebih tinggi, sehingga pasokan untuk pasar lokal menipis dan menyebabkan harga santan melambung.

“Kami mendapatkan stok kelapa lebih sedikit dari biasanya, sementara permintaan tetap tinggi. Harga beli kelapa naik, otomatis harga santan juga ikut naik,” ujar Irwan, salah satu pedagang santan.

Dampak kenaikan harga ini paling dirasakan oleh pedagang rumah makan, yang sangat bergantung pada santan sebagai bahan utama dalam masakan mereka. Beberapa pedagang mengaku terpaksa mengurangi menu bersantan atau mencari alternatif lain untuk menghindari kenaikan harga jual yang terlalu tinggi. (*)

 

Reporter : Rengga Yuliandra

Update