Jumat, 23 Januari 2026

Batam-Singapura Matangkan Proyek Industri Hijau BBK

spot_img

Berita Terkait

spot_img
Pertemuan Kepala BP Batam, Amsakar Achmad, bersama Wakil Kepala BP Batam, Li Claudia Chandra, dengan Minister of State for Foreign Affairs and Trade & Industry Singapura, Gan Siao Huang, di Sands Expo and Convention Centre Singapura.

batampos– Kerja sama ekonomi Batam-Singapura memasuki babak baru. Kepala BP Batam, Amsakar Achmad, bersama Wakil Kepala BP Batam, Li Claudia Chandra, bertemu dengan Minister of State for Foreign Affairs and Trade & Industry Singapura, Gan Siao Huang, di Sands Expo and Convention Centre, Rabu (29/10) kemarin.

Pertemuan itu menjadi momentum untuk mematangkan rencana pengembangan Sustainable Industrial Zone (SIZ), yakni proyek kawasan industri hijau yang akan menjadi mesin pertumbuhan ekonomi baru bagi kawasan Batam, Bintan, dan Karimun (BBK).

“Pertemuan ini untuk mendorong percepatan terhadap apa yang menjadi kebijakan Bapak Presiden. Singapura antusias untuk bisa segera mengkonkritkan ide yang telah ditandatangani oleh kedua negara,” kata Amsakar.

Ia menyebut, pemerintah Singapura menyambut baik dan memberikan dukungan terhadap upaya pengembangan kawasan industri berkelanjutan di wilayah perbatasan. Baik Batam maupun Singapura, keduanya sepakat bahwa proyek itu akan menciptakan ekosistem pembangunan yang produktif, hijau, dan inklusif.

BACA JUGA: Monyet Masuk Kompleks Rumah Dinas Polda Kepri, BBKSDA Lakukan Evakuasi Bertahap

BP Batam akan terus memperkuat komunikasi dengan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) serta para pemangku kepentingan terkait. Tujuannya agar proyek industri hijau ini bisa segera masuk tahap konkret dan memberikan dampak ekonomi nyata bagi masyarakat Batam dan wilayah sekitarnya.

Kawasan industri berkelanjutan menjadi bagian dari kebijakan strategis pemerintahan Presiden Prabowo Subianto untuk memperkuat basis energi baru dan terbarukan (EBT). Batam, Bintan, dan Karimun dinilai memiliki potensi besar karena infrastruktur, posisi strategis, dan konektivitas internasional yang sudah terbangun.

Sebelumnya, pada Juni 2025, Kementerian ESDM RI telah menandatangani nota kesepahaman atau MoU dengan Pemerintah Singapura terkait kerja sama pengembangan kawasan industri berkelanjutan. Penandatanganan tersebut menjadi payung kerja sama lintas negara pertama yang fokus pada pengembangan industri rendah emisi di Indonesia.

Tak lama setelah itu, pada awal Oktober 2025 di Osaka, BP Batam turut menyaksikan penandatanganan MoU antara PT Rempang Energi Sentosa, PT Mustika Elok Graha (MEG), Keppel Energy, dan PT Karya Mineral Sentosa. Kolaborasi tersebut menandai langkah awal konkret pembangunan SIZ di kawasan Batam, Rempang, dan Galang.

Langkah diplomasi yang dilakukan BP Batam bersama mitra Singapura itu sebagai bagian dari upaya meneguhkan posisi Batam sebagai poros industri hijau di Asia Tenggara. Dengan menggali potensi energi baru dan sistem produksi berkelanjutan, proyek ini diharapkan menjadi model pengembangan kawasan ekonomi masa depan.

Dalam rencana strategis BP Batam 2025-2029, pengembangan kawasan industri berkelanjutan menjadi salah satu prioritas utama. Arah kebijakannya adalah menjadikan Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas (KPBPB) Batam sebagai wilayah berdaya saing tinggi yang berkontribusi pada visi “Batam Kawasan Ekonomi yang Maju dan Berkelanjutan, Mewujudkan Bersama Indonesia Emas 2045.”

Wakil Kepala BP Batam, Li Claudia Chandra, menyebut kolaborasi dengan Singapura bukan sekadar membangun kawasan baru, tetapi juga memperkuat reputasi Batam sebagai kota industri modern yang ramah lingkungan.

“Kita ingin memastikan Batam siap menyambut investasi hijau dan memberikan manfaat ekonomi yang inklusif bagi masyarakat,” katanya.

Proyek Sustainable Industrial Zone juga akan memperkuat peran Batam sebagai mitra strategis Singapura dalam rantai pasok energi dan teknologi hijau regional. Bila terealisasi, kawasan ini diperkirakan mampu menarik investasi miliaran dolar dan menyerap ribuan tenaga kerja terampil.

“Batam sudah punya modal kuat: infrastruktur, tenaga kerja, dan kedekatan geografis dengan Singapura. Sekarang tinggal bagaimana kita memastikan implementasinya berjalan cepat dan tepat,” katanya. (*)

Reporter: Arjuna

Update