
batampos – Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) mencatat kinerja ekonomi gemilang pada triwulan II tahun 2025. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), perekonomian Kepri tumbuh 7,14 persen (year on year) meningkat signifikan dari triwulan sebelumnya yang sebesar 5,16 persen.
Capaian ini menempatkan Kepri sebagai provinsi dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di Sumatera dengan pertumbuhan kumulatif mencapai 6,15 persen pada semester I 2025.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Kepri, Rony Widijarto menyampaikan bahwa capaian tersebut menunjukkan optimisme tinggi terhadap daya saing ekonomi daerah. Namun demikian, ia menekankan pentingnya pemerataan antarwilayah agar pertumbuhan ekonomi tidak hanya terpusat di satu daerah.
“Dalam segala catatan positif itu, kita tetap perlu memperhatikan disparitas antarwilayah. Batam menjadi penopang utama, sementara daerah lain perlu dorongan agar pertumbuhan lebih merata,” ujar Rony, Sabtu (8/11).
Dari sisi pengeluaran, pertumbuhan ekonomi Kepri ditopang oleh Penanaman Modal Tetap Bruto (PMTB) sebesar 3,57 persen dan Net Ekspor Domestik 2,74 persen.
Sementara itu, dari sisi lapangan usaha, sektor industri pengolahan masih mendominasi, dengan kontribusi mencapai 41,4 persen terhadap total Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kepri.
Kota Batam sendiri berperan besar sebagai penyumbang 66 persen dari total PDRB provinsi, menegaskan posisinya sebagai pusat industri dan investasi utama di wilayah perbatasan tersebut.
Kinerja sektor keuangan Kepri juga menunjukkan tren positif. BI mencatat hingga September 2025, penyaluran kredit tumbuh 20,61 persen (yoy)Dana Pihak Ketiga (DPK) meningkat 14,06 persen, dan total aset perbankan naik 13,14 persen.
Di sisi lain, transaksi digital terus melesat. Penggunaan QRIS meningkat hingga 181,93 persen termasuk pertumbuhan signifikan transaksi lintas negara (cross-border) dengan Singapura, Malaysia, dan Thailand.
Rony menegaskan bahwa ke depan, penguatan ekonomi biru akan menjadi arah strategis pembangunan Kepri, sejalan dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN).
“Kepri memiliki potensi besar dalam ekonomi maritim. Dengan cakupan laut mencapai 96 persen dari wilayahnya, sektor ini bisa menjadi penggerak utama ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan,” katanya.
Senada dengan itu, Sekretaris Daerah Provinsi Kepri Adi Prihantara menyebut bahwa potensi laut Kepri tidak hanya terbatas pada perikanan, tetapi juga dapat dikembangkan melalui industri perkapalan, logistik laut, dan perdagangan maritim.
“Potensi laut Kepri bukan hanya perikanan, tetapi juga industri perkapalan dan maritim lainnya,” ujarnya. (*)
Reporter: Aziz Maulana



