
batampos – Pemko Batam menetapkan dua rumah sakit yakni RSBP Batam dan RSUD Embung Fatimah (RSUDEF) untuk masyarakat yang terkonfirmasi cacar monyet atau monkeyfox.
Kepala Bidang Pengendalian Karantina dan Surveilans Epidemiologi Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) Kelas I Batam, dr Romer Simanungkalit, menyampaikan, untuk pengawasan di pelabuhan internasional sama dengan pengawasan biasanya.
Pihaknya akan melakukan pemantauan melalui suhu dan gejala pada tubuh pendatang yang masuk.
“Sama seperti kasus lainnya. Karena kami juga tidak ada alat khusus untuk mendeteksi monkeypox ini. Kita perlu antisipasi dan meningkatkan pengawasan karena kita merupakan pintu masuk bagi orang asing,” ujarnya, Rabu (3/8/2022).
Langkah pencegahan dan penindakan tentu harus dibahas bersama. Untu saat ini memang belum ada kasus atau pun Probable yang ditemukan di pelabuhan internasional.
Kendati demikian, karena di Singapura sampai saat ini sudah ada temuan 12 kasus monkeypox.
“Kita tidak bisa membatasi orang masuk. Dan itu tidak diperbolehkan. Menurutnya yang bisa terdeteksi nanti kemungkinan Probable, karena kalau suspek pasti sudah tidak diperbolehkan melakukan perjalan oleh otoritas Singapura. Karena mereka pasti lebih ketat,” jelasnya.
Sesuai dengan petunjuk teknis (Juknis) penanganan kasus monkeypox akan dilakukan karantina hingga 21 hari.
Di pelabuhan, jika memang ada ditemukan nanti akan berkoordinasi dengan Dinkes Batam, serta rumah sakit rujukan yakni RSBP dan RSUDEF.
“Sebenarnya sejak awal tahun ini kami sudah melakukan pengawasan dan pemantauan terhadap monkeypox. Karena kami sudah mendapat notifikasi dari WHO bahwa ada pergerakan kasus di negara asalnya virus ini yaitu Afrika. Secara garis besar pelabuhan sudah siap mengawasi atau mendeteksi dini virus ini,” bebernya.
Pelaksana Harian (Plh) Kepala Dinkes Batam, Heriman, mengatakan, akan mengambil langkah antisipasi yang bisa dilakukan adalah pertama mengeluarkan surat edaran terkait antisipasi monkeypox.
Kedua menyiapkan dua rumah sakit rujukan untuk menangani kasus monkeypox yakni RSBP dan RSUDEF. Ketiga membentuk tim khusus yang akan melaporkan pergerakan kasus ini nantinya.
“Tentunya harapan kita bersama virus ini tidak sampai masuk ke Batam. Hanya saja karena di negara tetangga sudah ditemukan, dan Batam merupakan pintu masuk, perlu sekali dilakukan tindakan pencegahan,” jelasnya.
Heriman menambahkan, karena mewabahnya kasus ini, pihak rumah sakit, dan puskesmas diminta aktif mendeteksi dini adanya ciri-ciri monkeypox pada pasien.
Ia menyebutkan tanggal 27 Juli lalu RS Elizabeth melaporkan satu kasus dengan ciri-ciri menyerupai monkeypox.
Pihak dari Dinkes langsung turun untuk melakukan pengambilan sampel dan memeriksa kontak erat pasien.
“Ada delapan kontak erat yang diperiksa. Petugas juga menanyai riwayat perjalan pasien, dan ternyata dia tidak melakukan perjalan keluar negeri. Alhamdulillah hasil sampel baru kelar siang ini, dan hasilnya negatif,” beber Mantan Kepala Inspektorat Kota Batam ini.
Ia menambahkan saat ini pemeriksaan sampel masih dilakukan dipusat. Hal ini karena Batam tidak memiliki alat untuk melakukan pemeriksaan monkeypox.
Pihaknya sudah berkoordinasi dengan BTKLPP sebagai perpanjangan tangan pemerintah yang bertugas untuk mendeteksi jenis virus.
“Tadi disampaikan Pak Budi untuk pengiriman biaya sampel masih menggunakan dana Covid-19. Hal ini karena belum ada plot anggaran untuk menangani persoalan monkeypox di daerah,” imbuhnya.
Kepala BTKLPP Kelas I Batam, Budi Santosa, menuturkan, saat ini pihaknya juga masih menunggu bantuan alat berupa Reagen yang bisa mendeteksi virus monkeypox ini. Informasinya Kementerian Kesehatan (Kemenkes) akan mengirimkan alat untuk Batam.
“Tentu kami sangat berharap dan mendorong pusat menyegerakan bantuan alat ini. Namun begitu BTKLPP sejatinya sudah siap saja. Karena nanti kalau ada sampel pasti kami tetap akan kirim ke pusat. Seperti diketahui saat ini untuk monkeypox kita siaga satu,” jelasnya.
Ia menuturkan BTKLPP tetap akan memfasilitasi untuk pemeriksaan sampel. Seperti kasus yang merupakan pasien RS Elizabeth beberapa hari lalu. Budi mengungkapkan sampel langsung dikirim ke pusat untuk pemeriksaan.
“Bersyukur hasilnya negatif. Pasien bulan merupakan cacar monyet,” imbuh Budi.(*)
Reporter: Yulitavia



