
batampos – Transformasi Dermaga Utara TPK Batuampar memasuki babak baru dengan diterapkannya model Single Port Operator. Langkah yang digadang-gadang sebagai solusi terhadap persoalan klasik yang selama ini membayangi operasional pelabuhan: fragmentasi tata kelola.
Selama bertahun-tahun, Pelabuhan Batuampar beroperasi dengan banyak operator dan standar teknis yang tidak seragam. Alur kerja yang berbeda-beda, fragmentasi koordinasi di lapangan, dan prosedur yang tidak sepenuhnya terkonsolidasi sering menjadi penyebab lambatnya pelayanan serta ketidakpastian waktu bagi pelaku industri. Model baru ini hadir untuk membongkar struktur lama tersebut.
Direktur Badan Usaha Pelabuhan (BUP) BP Batam, Benny Syahroni, mengatakan, transformasi ini bukan hanya pergantian sistem operasional, tapi sebuah reformasi menyeluruh untuk memastikan pelabuhan bekerja sebagai satu kesatuan yang solid.
“Transformasi Single Port Operator ini kami siapkan sebagai langkah strategis untuk membawa Batu Ampar menjadi pelabuhan modern yang lebih efisien, terintegrasi, dan berdaya saing,” katanya, dalam kegiatan sosialisasi penerapan Single Port Operator bersama PT Batam Terminal Petikemas (BTP) di AP Premier Hotel, Kamis (4/12).
Baca Juga: Batam Kian Strategis, 15 Pulau Jadi Zona Perdagangan Bebas
Menurutnya, analisis mendalam telah dilakukan BP Batam sebelum menerapkan format baru ini. Batuampar, yang kini menangani 84 persen arus peti kemas Batam dengan volume mencapai 568 ribu TEUs pada 2024, membutuhkan struktur operasional yang tidak terpecah-pecah agar mampu mengimbangi pertumbuhan industri.
Sinergi BP Batam, BTP, dan Batu Ampar Container Terminal (BACT), menjadi tulang punggung reformasi tata kelola tersebut. Penandatanganan Perjanjian Operasi dengan BACT menandai penyatuan pengelolaan operasional yang selama ini berjalan paralel. Di bawah model baru ini, SOP diselaraskan dari hulu hingga hilir, mulai dari pra-kedatangan kapal, sampai kegiatan bongkar muat.
Dari sisi operator, CEO BACT, Hsin Kai Huang, berkomitmen untuk mendukung tata kelola baru ini. Integrasi operasi bukan hanya menyederhanakan proses kerja, tetapi juga memudahkan pengguna jasa dalam mendapatkan layanan yang konsisten.
“BACT berkomitmen penuh mendukung transformasi ini melalui layanan yang lebih terarah, lebih cepat, dan berstandar internasional,” katanya.
Sosialisasi transformasi ini juga menghadirkan pemaparan detail mengenai SOP baru. Prosedur tersebut dirancang untuk menghilangkan tumpang-tindih peran antaroperator yang selama ini menjadi titik lemah. Kecepatan, akurasi, dan konsistensi menjadi prinsip dasar dalam sistem operasional terpadu.
Direktur BTP, Capt Basori Alwi, menyebut, bahwa perubahan tata kelola tidak akan berhasil jika tidak disertai kolaborasi erat seluruh pihak.
Baca Juga: BP Batam Konsolidasikan Perizinan Usaha di Jakarta
“Transformasi ini hanya bisa berhasil bila kita melangkah bersama. BTP berkomitmen memberikan proses yang lebih sederhana, lebih jelas, dan lebih efisien bagi seluruh pengguna jasa,” ujar dia.
Modernisasi infrastruktur yang menyertai reformasi ini juga mendukung pembentukan sistem baru yang terintegrasi. Dermaga Utara kini memiliki panjang 1.032 meter, kapasitas hingga 900 ribu TEUs per tahun, serta peralatan modern, termasuk lima unit quay crane, 12 unit rubber-tyred gantry crane, dan 10 unit electric terminal truck yang segera ditingkatkan menjadi 25 unit.
Dengan infrastruktur dan tata kelola yang semakin selaras, waktu sandar kapal kemungkinan semakin singkat, keandalan layanan meningkat, dan biaya logistik menurun. Industri yang selama ini mengeluhkan ketidakpastian operasional menjadi salah satu pihak yang paling diuntungkan.
Penerapan Single Port Operator tak cuma menata ulang struktur kerja Pelabuhan Batu Ampar, tetapi juga menjadi model reformasi pelabuhan yang lebih akuntabel dan efisien. (*)
Reporter: Arjuna



