Sabtu, 24 Januari 2026

Belum Ada Respons Distributor, 1.250 Ton Beras Premium asal Makassar Tetap Masuk Kepri

spot_img

Berita Terkait

spot_img
Seorang pekerjaan menyusun beras yang sudah dikemas di gudang Bulog Batam, Jumat (9/1). F Cecep Mulyana/Batam Pos

batampos – Perum Bulog memastikan pasokan beras premium asal Makassar tetap akan masuk ke wilayah Kepulauan Riau (Kepri) pada akhir Januari 2026, meski hingga kini belum seluruh distributor memberikan respons atas atensi Kementerian Pertanian (Kementan).

Pimpinan Perum Bulog Kantor Cabang Batam, Guido XL Pereira, mengatakan hingga saat ini belum ada tanggapan resmi dari sejumlah distributor terkait atensi tersebut. Namun, kondisi itu dinilainya masih wajar karena stok beras distributor di Batam relatif aman hingga Maret 2026.

“Belum ada respons dari distributor. Tapi itu wajar, karena sesuai hasil rapat, stok mereka masih cukup sampai Maret,” ujar Guido, Selasa (20/1).

Menurutnya, para distributor masih terus mendatangkan beras dari Pulau Jawa dan Sumatra. Meski demikian, kenaikan harga di daerah penghasil membuat margin keuntungan menjadi sangat tipis ketika beras tiba di Batam.

Baca Juga: Mensos Soroti Kemiskinan Tersembunyi di Batam

“Beras tetap masuk, tapi marginnya kecil. Harga di daerah penghasil naik, sementara saat sampai di Batam tidak bisa ikut naik,” jelasnya.

Terkait rencana pasokan dari Makassar, Guido menegaskan pengiriman 1.250 ton beras premium tetap berjalan. Rinciannya, sebanyak 1.000 ton untuk Batam dan 250 ton untuk Karimun. Saat ini, Bulog masih menunggu kepastian ketersediaan kapal pengangkut.

“Beras dari Makassar tetap dikirim. Stoknya sudah siap, tinggal cari kapal. Target saya sebelum akhir bulan sudah masuk,” katanya.

Ia menjelaskan, pengangkutan beras dari Makassar tidak bisa langsung dalam jumlah besar karena keterbatasan kapasitas kapal. Satu kapal tidak bisa mengangkut hingga 1.000 ton sekaligus karena juga membawa muatan lain.

“Biasanya butuh waktu satu sampai dua minggu,” ujarnya.

Baca Juga: Sidik Kasus Kavling Bodong Sagulung, Penyidik Periksa 22 dari 44 Saksi

Sementara itu, untuk distribusi ke Karimun, skema pengangkutan dinilai berbeda dan menyesuaikan kondisi pelabuhan setempat.

Guido menambahkan, hasil rapat Bulog bersama distributor pada prinsipnya adalah saling membantu menjaga ketersediaan beras di pasar. Selama harga masuk dan kualitas sesuai, distributor tetap dilibatkan dalam penyaluran.

“Mereka tetap mendatangkan beras dari Jawa dan Sumatra. Yang penting tidak ada kekurangan beras. Stok harus standby dan bisa dikomunikasikan dengan Satgas Pangan,” tegasnya.

Saat ini, stok beras premium Bulog di Batam tersisa sekitar 11 ton dan diperkirakan segera habis. Sebagian besar stok tersebut sudah diambil oleh pedagang.

“Sudah hampir habis. Pasti habis,” katanya singkat.

Terkait preferensi konsumen, Guido mengakui Bulog tidak bisa memaksakan satu jenis beras kepada masyarakat karena selera yang berbeda-beda. Namun, Bulog terus mendorong konsumsi beras lokal melalui peningkatan kualitas.

“Kami tidak bisa paksakan selera. Tapi pelan-pelan citra beras Bulog kami perbaiki,” ujarnya.

Baca Juga: Cegah Narkotika Dilempar Masuk Lapas Batam, Patroli dan Pengawasan Menara Diperkuat

Upaya tersebut, kata Guido, mulai menunjukkan hasil setelah Bulog bekerja sama dengan Polda Kepri dan sejumlah pihak lainnya. Penjualan beras SPHP kini mulai meningkat.

“Sudah mulai naik. Di Karimun, Sekitar 5 sampai 10 ton SPHP habis karena masyarakat sudah tahu kualitasnya bagus,” katanya.

Bulog pun menegaskan komitmennya untuk menjaga ketersediaan beras di Kepri, terutama melalui operasi pasar jika diperlukan.

“Semua tergantung operasi pasar. Yang jelas, kami komitmen stok aman dan tidak terjadi kekurangan,” pungkasnya. (*)

ReporterYashinta

Update