
batampos –Kejaksaan Negeri Batam menerima pelimpahan berkas perkara kecelakaan kerja di galangan kapal PT ASL Shipyard, Tanjunguncang, Batuaji, yang menewaskan 14 pekerja. Berkas tersebut diserahkan penyidik Polresta Barelang dan kini tengah diteliti jaksa penuntut umum.
Kepala Seksi Intelijen Kejari Batam menyatakan tim jaksa masih memeriksa kelengkapan berkas untuk memastikan seluruh petunjuk yang sebelumnya diberikan telah dipenuhi penyidik.
“Berkas baru masuk, sekarang masih diteliti apakah semua petunjuk sudah dipenuhi atau belum. Kami minta waktu untuk meneliti kembali. Kalau sudah lengkap, dalam waktu dekat akan kami terbitkan P21 dan menjadwalkan tahap dua,” ujarnya, Selasa (3/3).
P21 merupakan pemberitahuan bahwa hasil penyidikan telah lengkap. Setelah itu, penyidik akan menyerahkan tersangka dan barang bukti kepada jaksa untuk proses penuntutan di pengadilan.
Dalam perkara ini, penyidik menetapkan tujuh orang sebagai tersangka. Mereka berasal dari jajaran manajerial perusahaan, mulai dari manajer, manajer Health, Safety and Environment (HSE), asisten manajer, hingga manajer produksi.
Dari tujuh tersangka tersebut, empat orang merupakan warga negara asing asal Singapura, Filipina, dan Korea Selatan, sementara tiga lainnya warga negara Indonesia.
Sebelumnya , Kasat Reskrim Polresta Barelang, Kompol Debby Tri Andrestian menyampaikan penetapan tersangka dari level manajemen, menurut kepolisian, menunjukkan arah penyidikan yang menitikberatkan pada dugaan tanggung jawab manajerial dalam insiden tersebut.
“Penetapan tersangka ini menandai keseriusan aparat penegak hukum dalam mengusut dugaan kelalaian yang berujung pada tragedi,” ujarnya
Kasus ini berawal dari ledakan kapal tanker Federal II pada 15 Oktober 2025 saat menjalani proses perbaikan di galangan PT ASL Shipyard, kawasan Tanjunguncang, Batuaji.
Ledakan terjadi ketika pekerjaan tengah berlangsung di area kapal.
Akibat insiden itu, 14 pekerja dilaporkan meninggal dunia. Sebanyak 17 pekerja lainnya mengalami luka bakar dengan tingkat keparahan beragam dan sempat menjalani perawatan intensif.
Peristiwa tersebut menjadi salah satu kecelakaan industri paling fatal di kawasan galangan kapal Batam dalam beberapa tahun terakhir.(*)



