
batampos– Dalam rangka memperingati Bulan Bahasa 2025, Bank Indonesia (BI) Kepri bekerja sama dengan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Batam menggelar workshop jurnalistik bagi jurnalis muda dan pers mahasiswa di Kota Batam. Berlangsung di Ballroom Santika Hotel Batam, Minggu (26/10).
Kegiatan ini mengusung tema “Memperkuat Konten Populer untuk Mendukung UMKM Lokal”, dengan tujuan mendorong lahirnya jurnalis muda yang profesional, berintegritas, dan mampu menjadi promotor sektor ekonomi lokal.
Puluhan peserta mengikuti pelatihan yang mencakup materi dasar penulisan berita, etika jurnalistik, hingga praktik peliputan di lapangan. Ketua AJI Batam, Yogi Eka Sahputra, menyampaikan apresiasinya atas antusiasme peserta yang melebihi kuota pendaftaran.
“Banyak yang hadir dan mereka sangat antusias mengikuti pelatihan jurnalistik dasar ini,” ujarnya.
BACA JUGA: Rekomendasi 5 Bakmie Porsi Jumbo di Batam yang Wajib Dicoba, Enak dan Murah Meriah!
Yogi menjelaskan, materi yang diberikan menitikberatkan pada keterampilan dasar jurnalistik, perencanaan liputan, serta penerapan nilai-nilai etika dalam praktik jurnalistik. Pendidikan etika sejak dini penting agar calon jurnalis memahami bahwa pekerjaan mereka berorientasi pada kepentingan publik dan kebenaran faktual.
“Jurnalistik itu bekerja untuk publik dan kebenaran. Kebenaran berakar pada fakta di lapangan. Kami ingin menanamkan prinsip ini agar jurnalis kampus menjadi cikal bakal jurnalis profesional dan berintegritas,” katanya.
Sebagai bentuk komitmen pembinaan, AJI Batam juga membuka kesempatan pendampingan bagi pers mahasiswa, mulai dari pembuatan situs berita kampus hingga penguatan kaderisasi dan kualitas penulisan.
“Kami siap diundang ke kampus atau diskusi di sekretariat kami untuk mendukung perkembangan jurnalis kampus di Batam,” kata Yogi.
Langkah ini merupakan bagian dari pelaksanaan pilar ketiga AJI, yakni peningkatan profesionalisme jurnalis. Dalam waktu dekat, AJI Batam juga berencana melibatkan jurnalis senior dari jaringan AJI nasional untuk memberikan pelatihan lanjutan.
Yogi turut menyoroti sejumlah praktik pelanggaran kode etik yang masih marak di media, seperti penghapusan berita, bias gender dalam pemberitaan, serta eksploitasi korban kekerasan anak.
“Padahal, dalam kode etik, korban kekerasan adalah pihak yang harus dilindungi, bukan dieksploitasi. Identitas mereka seharusnya tidak boleh sampai ke publik. Ini yang ingin terus kami edukasikan kepada rekan-rekan jurnalis,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Tim Implementasi Kebijakan Ekonomi dan Keuangan Daerah (KEKDA) BI Kepri, Adik Afrinaldi, menilai jurnalis muda memiliki peran strategis dalam membentuk masa depan informasi yang bermanfaat dan berkualitas.
Karya jurnalistik yang akurat dan inspiratif juga dapat menjadi sarana komunikasi efektif antara pelaku usaha, masyarakat, dan lembaga pemerintah, khususnya dalam mendorong pertumbuhan sektor UMKM.
“Kita berharap jurnalis muda ini bisa menjadi jurnalis milenial, bagian dari SDM unggul Indonesia. Kalau informasinya akurat, masyarakat bisa tahu dan ikut berpartisipasi. Media itu penting untuk menggaungkan hal-hal positif, bukan hanya sekadar memberitakan, tapi membangun,” kata dia.
Salah satu peserta, Nur Zaskia dari Universitas Internasional Batam, mengaku mendapatkan banyak pengetahuan baru dari kegiatan ini. Ia terinspirasi untuk menekuni dunia jurnalistik setelah mengikuti sesi pelatihan.
“Yang paling berkesan buat saya itu materi tentang feature. Ternyata berita itu ada banyak jenisnya, dan masing-masing punya gaya berbeda. Saya baru tahu banget hari ini,” ujarnya.
Dia berharap, kegiatan semacam ini dapat berlanjut agar lebih banyak mahasiswa tertarik menekuni profesi jurnalis. “Bahkan sekarang saya jadi punya cita-cita ingin jadi jurnalis. Mudah-mudahan kesampaian,” tambahnya. (*)
Reporter: Arjuna



