Selasa, 13 Januari 2026

BI Kepri dan Transformasi Digital di Ujung Negeri

spot_img

Berita Terkait

spot_img
Konsumen memindai kode batang (barcode) yang disediakan pedagang kuliner di Belakang Padang, Batam. F. Arjuna/Batam Pos.

LEMBAYUNG terakhir hilang saat malam mengambil alih Belakang Padang, membawa serta cahaya lampu bazar dan harapan yang bergerak di sela-sela angin laut. Di pulau kecil ini, jauh dari hiruk-pikuk kota besar, orang-orang belajar bahwa masa depan bisa hadir lewat satu gerakan sederhana: mengarahkan kamera ponsel pada bintik hitam kode matriks dua dimensi bernama QRIS.

Penulis: Arjuna

Sabtu (15/11), sejak sore sampai ke malam, Kecamatan Belakang Padang, Kota Batam, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri), terasa seperti jantung yang berdetak lebih kencang dari biasanya. Seakan pulau kecil di batas negeri ini menolak menjadi sunyi barang sehari saja.

Dari dermaga, arus manusia bergerak seperti parade tanpa aba-aba: ibu-ibu membawa anak, lelaki muda berjalan berkelompok, para pedagang yang mengelap etalase sederhana sambil menyiapkan uang kembalian, walau mereka tahu, di bazar uang kertas hanya akan jadi penonton.

Dari kejauhan, panggung utama berdiri seperti perahu yang baru saja merapat. Lampu-lampu warna-warni menyala, memantul di permukaan laut yang sedang pasang, membentuk tarian kecil pada riak air. Di atas panggung itu, nanti akan berdiri Iyeth Bustami dengan suara yang merdu, namun sopan, membelah malam seperti doa yang naik ke langit terbuka.

Di Lapangan Indera Sakti, acara itu terselenggara. Event tersebut dinamai Berlayar Belakang Padang 2025, tajaan dari Bank Indonesia (BI) Kepri. Nama yang terdengar seperti metafora panjang tentang perjalanan, pergerakan, dan arah yang terus digambar ulang.

“Nama Berlayar bukan hanya indah didengar, tapi melambangkan perjalanan kita bersama untuk menembus batas.” Begitu kata Deputi Kepala Perwakilan BI Kepri, Ardhieanus.

Batas yang dia maksud bukan garis tipis di peta. Ia bicara tentang Pulau Penawar Rindu (julukan Belakang Padang) sebagai beranda terdepan Indonesia, menghadap Singapura, menjadi jembatan kecil dari sebuah negeri yang terus mencari cara untuk mendekat pada masa depannya sendiri. Pulau kecil ini bisa menjadi ikon ekonomi digital kawasan perbatasan.

Bazar yang digelar sejak sore itu terdiri dari 20 stand yang disediakan secara cuma-cuma oleh BI Kepri. Ada pedagang otak-otak yang asapnya menari pelan. Ada penjual es jeruk yang memeras buah dengan ritme sabar. Ada pula deretan keripik, kue tradisional, hingga mainan anak-anak yang digantung seperti bendera kecil masa kanak-kanak yang enggan pudar.

Selain itu, berdiri juga sebuah wahana komidi putar sederhana–bukan yang berputar dengan musik elektronik, tapi yang diputar pelan oleh mesin tua yang gemerisik seperti radio lama. Anak-anak tertawa ketika kursi putar itu bergerak, seolah mereka sedang berada jauh dari keterbatasan pulau kecil tersebut.

Yang berbeda dari pasar malam lain adalah: tidak ada uang tunai berpindah tangan. Semua transaksi berlangsung lewat QRIS. Para pedagang dari UMKM tempatan menempelkan kode QR di papan kardus kecil yang berdiri di depan lapak.

Kenapa QRIS? Karena BI Kepri sedang mendorong digitalisasi pembayaran sampai ke wilayah terluar. Belakang Padang pun harus ikut maju.

BI Kepri memang tengah menggencarkan inklusi digital bagi UMKM. Saat ini, total terdapat sekitar 3.600 UMKM binaan yang mendapatkan pendampingan manajemen, pembukuan digital, packaging, hingga akses perbankan.

Bahkan, lebih dari 81 brand UMKM unggulan pernah dibawa BI Kepri dalam program Gebyar Melayu Pesisir untuk memperluas pasar mereka. Sejumlah pelaku UMKM juga mendapatkan kurasi ketat dan pelatihan pemasaran agar mampu menembus pasar global.

Rahmat, pedagang es jeruk, mengaku tidak pernah membayangkan lapaknya akan menerima pembayaran digital. “Saya jualan begini sudah lima tahun,” katanya sambil menuang es batu ke gelas plastik. “Baru hari ini saya lihat orang bayar es pakai ponsel semua. Cepat pula masuknya.”

Ia menunjukkan layar gawainya. Ada puluhan notifikasi transaksi. “Biasanya kalau ramai pun, saya cuma habis 50 gelas. Sekarang ini sudah lewat seratus. Bazar macam ini, kalau tiap bulan pun saya sanggup,” ia tertawa, suaranya tenggelam oleh denting musik dari panggung.

Beberapa meter dari situ, ada Imah, yang menjual keripik singkong pedas-manis. Tangannya cekatan menata plastik-plastik keripik, sementara matanya memperhatikan lautan manusia yang datang dan pergi.

“Saya ini pertama kali ikut acara BI. Bagus benar mereka buat. Orang yang biasanya tak datang ke pasar malam pun ada di sini malam ini,” katanya.

Imah bercerita, bahwa ia sempat khawatir pembeli enggan memakai QRIS. “Tapi ternyata semua ikut aturan. Malah ada yang bilang, lebih mudah, tak perlu ambil-ambil uang kecil.” Ia menatap papan QR di depannya. “Kalau beginilah caranya, kami pedagang kecil pun bisa ikut zaman.”

Usai memberi sambutan, Ardhienus turun. Ia kembali berbicara lewat doorstop dengan sejumlah wartawan.

“Kami ingin membuktikan bahwa digitalisasi bukan hanya untuk kota besar, tetapi juga untuk pulau-pulau yang menjadi garda terdepan negeri,” katanya.

Ia menyebut capaian transaksi QRIS di Kepri yang tumbuh luar biasa: 33,9 juta transaksi pada 2024, lalu melonjak menjadi 64,9 juta transaksi pada September 2025. Nominal yang tersentuh mencapai Rp7,7 triliun, tumbuh lebih dari 140 persen secara tahunan.

Angka-angka itu baginya bukanlah statistik. Itu adalah cerita tentang kepercayaan. Tentang masyarakat yang mulai merangkul cara baru bertransaksi. Tentang pedagang kecil yang tak lagi terikat pada uang tunai yang rawan salah hitung, rawan hilang, rawan palsu, rawan habis kembalian.

Ardhienus menyebut, BI Kepri ingin memperluas manfaat QRIS cross-border, terutama bagi kawasan perbatasan. Belakang Padang bisa atau bahkan bakal jadi ikon baru ekonomi digital di garis depan.

BI Kepri juga mendorong UMKM untuk naik kelas lewat tiga jalur: peningkatan kapasitas (pelatihan branding, legalitas, dan kualitas produk), peningkatan akses keuangan (business matching dengan perbankan), dan perluasan pasar (pameran, e-katalog, serta rintisan ekspor UMKM). Inisiatif ini tidak hanya membuat UMKM bertahan, tapi memberdayakan mereka menjadi pemain yang kompetitif regional.

Kemudian, bicara soal geliat perekonomian, Kepri sendiri sedang berada dalam tren pertumbuhan ekonomi yang solid. Pada 2023, ekonomi Kepri tumbuh 5,20 persen, lalu berada di 5,02 persen pada 2024, sebelum melonjak menjadi 7,48 persen pada Triwulan III 2025—salah satu yang tertinggi di Sumatra.

Di sisi lain, Batam tumbuh 7,04 persen pada 2023, kemudian 6,69 persen pada 2024, dengan pemulihan kuat sejak kontraksi -2,55 persen tahun 2020. Peningkatan aktivitas UMKM dan digitalisasi pembayaran menjadi salah satu pendorong geliat ekonomi tersebut.

Ketika malam turun perlahan, lampu-lampu bazar menyala lebih terang. Belakang Padang, yang biasanya redup selepas Magrib, mendadak menjadi kota kecil yang berdenting.

Saat waktu merambat ke pukul sembilan malam, panggung utama mulai dipadati orang. Iyeth Bustami muncul dengan gaun berkilau, menyapa penonton dengan suara yang nyaring, menyayat, sekaligus menenangkan. Ia menyanyikan lagu-lagu Melayu, lalu disambut koor penonton yang berdiri memadati lapangan.

Belakang Padang seperti melupakan seluruh beban hidupnya malam itu. Orang-orang berbelanja makanan sambil mengangkat ponsel, memindai QR lalu memasukkan dompet mereka kembali ke tas. Dunia baru terasa begitu dekat, begitu mudah disentuh.

Di tengah lapangan, tampak Belakang Padang seolah menjadi miniatur negeri yang sedang belajar melompat sedikit lebih jauh dari bayangannya sendiri.

Malam pun semakin matang ketika lagu terakhir Iyeth Bustami mengalun pelan, seperti angin yang menyingkap selapis kenangan. Penonton mengangkat ponsel mereka, sebagian merekam, sebagian hanya menatap dengan mata berbinar.

Setelah panggung mulai meredup, beberapa pedagang masih sibuk merapikan lapak. Seorang pedagang bernama Imah kembali dihampiri.

“Alhamdulillah,” katanya, “hari ini habis semua. Tak ada sisa satu bungkus pun.” Ia tersenyum. Wajahnya diterangi lampu bazar yang hampir padam. “Saya rasa digital ini bukan lagi masa depan. Tapi sekarang,” ujarnya.

Satu per satu bazar mulai membungkus diri. Namun suara girang masih terdengar dari sudut gelap lapangan; suara orang-orang yang belum ingin pulang karena malam itu terasa terlalu singkat untuk sebuah pulau yang jarang merayakan kemeriahan.

Menuju dermaga, air laut memantulkan sisa cahaya dari lampu-lampu yang baru saja dipadamkan. Belakang Padang tampak kembali seperti dirinya: kecil, tenang, tetapi hari itu hatinya sudah berubah.

Mungkin benar, seperti kata Ardhienus: kemajuan digital hanya lahir dari partisipasi. Dari tangan-tangan yang berani mencoba, dari pedagang kecil yang tak gentar belajar, dari masyarakat yang mau percaya pada suatu cara baru. Betul tak, Way?

Keyakinan itu terlihat tumbuh. Ia berlayar pelan, tapi pasti. Meninggalkan jejak cahaya yang menempel pada wajah setiap orang yang datang.

Belakang Padang, malam itu, bukan hanya menjadi panggung hiburan. Pulau itu menjadi metafora tentang negeri yang ingin bergerak, masyarakat yang ingin tumbuh, dan laut yang tak lagi menjadi batas.

Malam itu juga, pulau kecil ini seakan berkata pelan: “Kami siap berlayar. Dunia, tunggulah kami.” (*)

Update