
batampos– Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Hang Nadim Batam mengingatkan masyarakat Kepulauan Riau (Kepri) untuk tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem hingga akhir tahun. Saat ini, bibir siklon terpantau berada di wilayah selatan Indonesia dan turut memengaruhi pola cuaca di sejumlah daerah, termasuk Kepri.
Kepala BMKG Hang Nadim Batam, Ramlan Djambak, mengatakan kondisi atmosfer saat ini masih mendukung terjadinya hujan dengan intensitas sedang hingga lebat di wilayah Kepri dalam beberapa waktu ke depan.
“Potensi curah hujan di Kepulauan Riau hingga akhir tahun masih tergolong tinggi. Masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak yang bisa ditimbulkan,” kata Ramlan, Senin (15/12).
Ramlan menjelaskan, keberadaan bibir siklon di selatan Indonesia memicu peningkatan pembentukan awan hujan, termasuk awan konvektif yang cukup signifikan di beberapa wilayah Indonesia, salah satunya Kepri.
Awan konvektif tersebut berpotensi memicu hujan lebat yang dapat disertai kilat, petir, dan angin kencang dalam durasi singkat, terutama pada siang hingga malam hari.
BMKG juga mengingatkan potensi terjadinya bencana hidrometeorologi, seperti banjir, genangan, tanah longsor, serta pohon tumbang akibat intensitas hujan yang tinggi dan kondisi angin yang tidak stabil.
“Kami mengimbau masyarakat untuk tetap memantau informasi cuaca dan iklim dari BMKG secara berkala agar dapat mengantisipasi risiko bencana,” ujar Ramlan.
Selain kondisi cuaca darat, BMKG Hang Nadim Batam juga mengeluarkan peringatan dini cuaca maritim untuk wilayah perairan Kepulauan Riau yang berlaku mulai Selasa (16/12) hingga Jumat (19/12).
BMKG mencatat potensi ketinggian gelombang laut kategori sedang hingga mencapai 2,1 meter di seluruh wilayah perairan Kepulauan Natuna dan Kepulauan Anambas pada 16 dan 17 Desember 2025.
Sementara itu, pada 18 Desember 2025, tinggi gelombang diperkirakan masih berada pada kategori sedang, dengan ketinggian hingga 1,7 meter di perairan Natuna dan Anambas, serta sekitar 1,5 meter di perairan Bintan, Tambelan, dan Lingga.
Kondisi gelombang tersebut dinilai berisiko bagi aktivitas pelayaran, khususnya kapal-kapal kecil, perahu nelayan, dan kapal penyeberangan antar pulau.
BMKG mengimbau para nelayan, operator kapal, dan masyarakat pesisir untuk lebih berhati-hati dan mempertimbangkan kondisi cuaca sebelum melaut atau melakukan aktivitas di perairan terbuka.
“Keselamatan harus menjadi prioritas. Jika kondisi cuaca tidak memungkinkan, sebaiknya aktivitas di laut ditunda,” tegas Ramlan. (*)



