Selasa, 17 Maret 2026

BP Batam Kaji Desalinasi Air Laut, Investasi Diperkirakan Rp3 Triliun

spot_img

Berita Terkait

spot_img
Deputy BP Batam, Ariastuty Sirait

batampos – Keterbatasan sumber air baku mendorong BP Batam mulai menjajaki teknologi desalinasi sebagai alternatif penyediaan air bersih di masa depan. Teknologi yang mengolah air laut menjadi air tawar itu tengah dipelajari sebagai solusi untuk memperkuat pasokan air di tengah pertumbuhan penduduk dan industri di kota ini.

Pembangunan fasilitas desalinasi diperkirakan membutuhkan investasi sekitar Rp3 triliun. Dengan nilai tersebut, instalasi yang dirancang mampu memproduksi air bersih hingga sekitar 2.600 liter per detik.

Deputi Bidang Pelayanan Umum BP Batam, Ariastuty Sirait, mengatakan, pasokan air bersih di Batam hingga kini masih sangat bergantung pada waduk yang menampung air hujan.

Menurut dia, kondisi itu membuat ketersediaan air sangat dipengaruhi oleh tingkat curah hujan serta kondisi lingkungan di kawasan daerah tangkapan air.

“Ketergantungan pada waduk membuat ketersediaan air sangat bergantung pada cuaca. Karena itu, kami mulai mempelajari kemungkinan pembangunan fasilitas desalinasi sebagai salah satu solusi jangka panjang,” katanya beberapa waktu lalu.

Ia menjelaskan, pemanfaatan teknologi desalinasi berpotensi menjadi sumber air alternatif untuk memenuhi kebutuhan masyarakat sekaligus menopang aktivitas sektor industri yang terus berkembang di Batam.

Meski demikian, pengolahan air laut menjadi air tawar membutuhkan biaya produksi yang relatif tinggi. Berdasarkan perhitungan awal, biaya produksi air melalui teknologi tersebut diperkirakan berkisar antara Rp28 ribu hingga Rp30 ribu per meter kubik. Angka itu jauh lebih tinggi dibandingkan biaya produksi air bersih yang bersumber dari waduk.

Saat ini BP Batam masih mempelajari berbagai skema investasi yang memungkinkan, termasuk membuka peluang kerja sama dengan pihak swasta untuk merealisasikan pembangunan fasilitas tersebut.

Teknologi desalinasi telah diterapkan di sejumlah negara yang memiliki keterbatasan sumber air tawar, seperti Singapura, Uni Emirat Arab, dan Turki, untuk memenuhi kebutuhan air bersih masyarakatnya.

Di Batam, kebutuhan air bersih selama ini sepenuhnya dipasok dari waduk yang menampung air hujan sebelum diolah dan didistribusikan kepada pelanggan. Wilayah ini tidak memiliki sumber air alami seperti sungai besar maupun mata air yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber air baku.(*)

ReporterArjuna

SALAM RAMADAN