Jumat, 2 Januari 2026

BP Batam Percepat Perluasan IPAL Cegah Pencemaran Waduk

Pengelolaan Limbah Harus Terintegrasi IPAL Demi Keamanan Waduk

spot_img

Berita Terkait

spot_img
Petugas BP Batam memantau kondisi waduk yang tertutup eceng gondok sebagai dampak pencemaran limbah domestik, sambil memastikan kesiapan perluasan jaringan IPAL untuk menjaga kualitas air baku.
BP Batam memperkuat sistem pengelolaan limbah domestik melalui percepatan pembangunan IPAL untuk menekan pencemaran waduk. F. Ari Akbar/Batam Pos

batampos – Kualitas air baku di waduk-waduk Batam terancam oleh aliran limbah rumah tangga yang tidak terolah. BP Batam menilai pemasangan jaringan IPAL menjadi kebutuhan mendesak demi menjaga pasokan air bersih bagi masyarakat.

Demikian disampaikan oleh Direktur Badan Usaha SPAM, Fasilitas, dan Lingkungan BP Batam, Iyus Rusmana, yang menyikapi temuan meningkatnya pembuangan limbah domestik ke drainase terbuka yang berlangsung sudah sejak lama.

Iyus menjelaskan, air limbah domestik yang dibuang langsung ke saluran terbuka sebagian besar berasal dari aktivitas dapur, toilet, serta pencucian rumah tangga.

Ketiga jenis buangan ini mengandung minyak, lemak, dan sisa makanan yang mudah mencemari lingkungan jika tidak diolah terlebih dahulu melalui sistem IPAL.

Aliran limbah tersebut pada umumnya bergerak menuju sungai-sungai kecil, parit kota, dan akhirnya bermuara ke waduk sebagai tampungan utama air baku.

Kondisi ini berbahaya karena perlahan-lahan memicu degradasi kualitas air serta menimbulkan gangguan ekologis yang signifikan.

Salah satu dampak yang kini paling terlihat adalah meningkatnya pertumbuhan eceng gondok di permukaan waduk. Iyus menyebut, tanaman tersebut tumbuh subur karena limbah rumah tangga mengandung nutrien tinggi, terutama dari sisa makanan dan minyak.

“Ini seperti pakannya eceng gondok. Begitu limbahnya masuk, pertumbuhannya langsung meledak,” katanya, beberapa waktu yang lalu.

Direktur Badan Usaha SPAM, Fasilitas, dan Lingkungan BP Batam, Iyus Rusmana.
Direktur Badan Usaha SPAM, Fasilitas, dan Lingkungan BP Batam, Iyus Rusmana. F. Ari Akbar/Batam Pos

Meski eceng gondok dikenal mampu menyerap unsur pencemar, kondisi di Batam berbeda dengan wilayah lain di Jawa.

Di beberapa daerah, eceng gondok dianggap membantu menetralkan limbah. Namun untuk Batam, keberadaannya justru menjadi masalah karena waduk digunakan sebagai sumber air konsumsi masyarakat.

Pertumbuhan eceng gondok yang tidak terkendali membuat permukaan waduk hampir tertutup.

Dampaknya berlapis, mulai dari penurunan kapasitas tampungan akibat pendangkalan, hingga berkurangnya intensitas cahaya matahari yang menembus permukaan air. Kondisi seperti ini memicu pertumbuhan alga dan memperburuk kualitas air waduk.

“Waduk-waduk di Batam seharusnya bersih, bukan tertutup tumbuhan air. Ini sangat mempengaruhi kualitas air baku yang kemudian diproses untuk kebutuhan masyarakat,” kata Iyus.

Selain risiko pencemaran, hal-hal semacam ini juga berpotensi menambah beban biaya dalam pengelolaan air baku. Semakin tinggi tingkat sedimentasi dan pertumbuhan alga, semakin berat proses pengolahan yang harus dilakukan untuk menghasilkan air yang layak konsumsi.

Untuk mengendalikan kondisi tersebut, BP Batam mendorong masyarakat untuk mengalirkan limbah rumah tangga ke jaringan IPAL yang sudah tersedia.

Dia menyebut, edukasi publik terus dilakukan agar warga memahami dampak nyata pembuangan limbah ke saluran terbuka.

“IPAL ini bukan hanya untuk menjaga waduk, tapi juga untuk menjaga perairan pantai tetap bersih. Misal, di Tanjung Uma, Bengkong Sadai atau di Sagulung, kondisi 20 tahun yang lalu bersih, tapi saat ini terlihat hitam kotor,” kata Iyus.

Hingga saat ini, BP Batam mengoperasikan dua fasilitas IPAL besar, masing-masing berlokasi di Batam Center dan Bengkong Sadai.

Instalasi di Batam Center memiliki kapasitas 33 liter per detik, sedangkan IPAL Bengkong Sadai mampu mengolah hingga 231 liter per detik.

“Kapasitas ini terus kami optimalkan agar semakin banyak kawasan perumahan yang terhubung,” kata dia.

Dari fasilitas tersebut, BP Batam mampu menghasilkan air olahan yang layak dimanfaatkan kembali setelah dialirkan ke waduk, serta menghasilkan pupuk kompos organik dari hasil pengolahan lumpur IPAL.

Pupuk organik tersebut sudah dimanfaatkan untuk menyuburkan tanah dan pohon-pohon besar non-sayuran di berbagai kawasan.

Manfaat ini menunjukkan bahwa limbah domestik tidak hanya dapat dikendalikan, tetapi juga memiliki nilai guna jika dikelola dengan teknologi yang tepat.

Menurutnya, konsep pengolahan air limbah di Batam berbasis pada prinsip sirkular yang bertujuan mengubah buangan masyarakat menjadi produk yang berguna.

“Meskipun itu limbah atau kotoran manusia, tetap bisa kita olah menjadi sesuatu yang lebih berharga,” lanjutnya.

Pemasangan jaringan IPAL bukan hanya kebutuhan teknis, tetapi juga menjadi prasyarat penting bagi kota industri seperti Batam yang merupakan pintu gerbang investasi dan pariwisata. Keberlanjutan kualitas lingkungan harus sejalan dengan perkembangan ekonomi.

Ia menambahkan, bahwa estetika kota, keasrian kawasan, serta kualitas air dan hutan penyangga harus tetap terjaga.

“Waduk, embung, dan perairan di Batam harus bersih dan bebas dari pencemaran. Itu standar sebuah kota modern, dan IPAL adalah fondasi pentingnya,” kata Iyus.

BP Batam memastikan pembangunan dan integrasi jaringan IPAL akan terus diperluas ke wilayah-wilayah pemukiman.

Ke depan, lembaga tersebut menargetkan cakupan layanan limbah domestik semakin merata seiring pertumbuhan penduduk dan industri.

“IPAL adalah investasi jangka panjang. Jika kita ingin Batam tetap kompetitif, nyaman, dan ramah lingkungan, maka pengelolaan limbah harus menjadi prioritas. Kita ingin menjadikan Batam sebagai kota yang nyaman untuk berinvestasi dan nyaman untuk para wisatawan,” ujar Iyus. (*)

Update