Minggu, 25 Januari 2026

Bukit Daeng Macet dan Rawan Kecelakaan, Warga Desak Pelebaran Jalan

spot_img

Berita Terkait

spot_img
Ilustrassi. Kemacetan terjadi di jalan Letjen Suprapto dari Bukit Daeng hingga ke simpang Panbil, Mukakuning. Foto. Dalil Harahap/ Batam Pos

batampos – Kemacetan di ruas jalan Mukakuning–Tembesi, terutama di kawasan Bukit Daeng, terus jadi keluhan warga. Setiap sore, jalan ini nyaris lumpuh, padat merayap dari arah Batuaji menuju Mukakuning. Situasi makin parah saat jam pulang kerja, ditambah kondisi jalan yang sempit, bergelombang, dan penuh tanjakan-turunan tajam.

“Macetnya sudah seperti rutinitas. Kalau sore pasti antre panjang. Apalagi di Bukit Daeng, jalan sempit dan menanjak. Sudah sering terjadi kecelakaan,” kata Arif, warga Batuaji, saat ditemui Rabu (24/9).

Menurut pengendara, jalan dua lajur saat ini tidak mampu menampung lonjakan kendaraan, apalagi banyak truk dan kendaraan berat lalu-lalang setiap hari. Banyak yang berharap pelebaran jalan ke lima lajur seperti di titik-titik lain di Batam segera dilakukan.

“Jalur seperti ini harusnya sudah lima lajur. Ini jalur vital, kendaraan berat bisa pakai jalur kiri, jadi arus utama tidak terganggu,” sambung Arif.

Bukit Daeng memang jadi titik kritis. Tanjakan curam dengan permukaan jalan yang tidak rata kerap memicu kecelakaan. Ketika truk atau bus tak kuat menanjak dan mogok di tengah jalan, kemacetan tak bisa dihindari karena tidak ada jalur untuk mendahului.

Kondisi makin berbahaya saat hujan turun. Jalan licin, rem blong, dan kendaraan tergelincir jadi pemandangan yang tak jarang terjadi.

Ruas Mukakuning–Tembesi bukan jalan biasa. Jalur ini menghubungkan kawasan industri, pemukiman padat, dan akses logistik menuju hinterland. Jika tidak dibenahi, warga khawatir kemacetan dan angka kecelakaan akan terus naik seiring bertambahnya kendaraan.

Meski begitu, hingga kini perbaikan dan pelebaran jalan belum terealisasi. BP Batam melalui Direktorat Pembangunan Infrastruktur memang telah menggelar rapat koordinasi terkait pengembangan Jalan R Suprapto, termasuk rencana pelebaran di kawasan ini. Namun, warga menilai hal itu belum cukup.

“Jangan hanya dibahas terus. Ini sudah darurat. Kami butuh pelebaran jalan sekarang, bukan nanti,” tegas Arif.

Desakan warga tak lagi soal kenyamanan. Tapi soal keselamatan dan produktivitas. Jalur vital ini sudah terlalu lama dibiarkan padat dan berbahaya. Dengan semakin padatnya kawasan industri dan lalu lintas antar-kawasan, proyek pelebaran jalan harus jadi prioritas utama. (*)

Reporter: Eusebius Sara

Update