
batampos– Kondisi cuaca di Kepulauan Riau (Kepri) dalam beberapa hari terakhir terpantau tidak menentu. Kepala Stasiun Meteorologi Kelas I Hang Nadim Batam, Ramlan, menyampaikan bahwa hujan sporadis masih berpotensi terjadi di sejumlah wilayah, meski pada saat yang sama suhu udara terasa cukup terik.
“Hujannya sifatnya sporadis, bisa di satu titik turun lebat, tapi wilayah lain tetap panas terik. Ini dipengaruhi oleh adanya siklon tropis yang beberapa hari lalu tumbuh dan kini masih kami pantau,” kata Ramlan, Rabu (24/9).
Menurutnya, siklon tropis Ragasa yang sebelumnya terpantau di Laut Cina Selatan kini sudah punah. Namun, muncul bibit siklon baru di sekitar timur Filipina yang menarik kumpulan awan di sekitarnya.
“Kalau siklon berada di laut, biasanya bisa bertahan sampai seminggu. Kalau sudah bergerak ke daratan, biasanya cepat melemah atau punah,” jelasnya.
BACA JUGA: Cuaca Ekstrem, Sayuran Rusak, Harga Tembus Rp16 Ribu per Kilo
Dampaknya, masyarakat akan sering menjumpai perubahan cuaca mendadak. Awan putih bisa dengan cepat berubah hitam pekat lalu turun hujan deras disertai kilat, sebelum akhirnya kembali cerah.
“Kondisi ini kemungkinan berlangsung tiga hari ke depan. Jadi masyarakat perlu waspada, karena hujannya bisa deras, meski hanya sesaat,” ujar Ramlan.
BMKG juga mencatat suhu udara maksimum di Batam mencapai 34 derajat celcius. Meski terik, potensi hujan lokal tetap ada, terutama bila awan hitam mulai menebal.
“Kalau sudah terlihat awan gelap, hujan bisa tiba-tiba turun deras disertai petir,” katanya.
Selain hujan mendadak, BMKG juga mengingatkan adanya potensi angin kencang. Saat ini kecepatan angin terpantau 10–15 knot, namun bisa meningkat hingga di atas 25 knot jika pengaruh siklon semakin mendekat.
“Kalau siklon bergerak lebih dekat ke wilayah Indonesia, angin bisa lebih kencang. Untuk saat ini posisinya masih di timur Filipina, dan kami pantau arahnya menuju Laut Cina Selatan,” jelasnya.
Dampak lain dari fenomena ini adalah meningkatnya tinggi gelombang di perairan. Karena itu, BMKG mengimbau nelayan dan pengguna transportasi laut lebih berhati-hati.
“Efek tidak langsung dari siklon tropis ini membuat angin dan gelombang laut lebih tinggi dari biasanya. Jadi perlu kewaspadaan, terutama di wilayah utara seperti Natuna,” ucap Ramlan.
Ia juga mengingatkan, kondisi cuaca ekstrem ini bisa memengaruhi kesehatan masyarakat. Perubahan suhu drastis dari panas terik ke hujan deras dapat menurunkan daya tahan tubuh.
“Cuaca panas juga meningkatkan penguapan, membuat udara makin terasa gerah. Jadi masyarakat harus menjaga kesehatan, perbanyak minum, dan tetap waspada bila aktivitas di luar ruangan,” pesannya. (*)
Reporter: Yashinta



