Kamis, 26 Maret 2026

Cuaca Panas Lembap Dipicu Uap Air Tinggi, Warga Batam Diminta Sesuaikan Aktivitas

spot_img

Berita Terkait

spot_img
Ilustrasi. Warga Batam berpayung karena cuaca yang panas. Foto: Dok Batam Pos.

batampos – Cuaca panas lembap yang menyelimuti Kota Batam dalam beberapa hari terakhir mulai memengaruhi pola aktivitas masyarakat. Di bawah langit berawan dengan kelembapan tinggi, sebagian warga memilih mengurangi kegiatan di luar ruang dan lebih banyak berdiam di rumah.

Data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menunjukkan suhu udara di Batam berada pada kisaran 26 hingga 32 derajat Celsius, dengan tingkat kelembapan mencapai 75–90 persen. Kondisi ini menimbulkan rasa gerah yang cukup kuat, meski intensitas sinar matahari tidak selalu terik karena tertutup awan sejak pagi hari.

Sejumlah warga masih terlihat beraktivitas di luar rumah, namun dengan penyesuaian. Payung menjadi perlengkapan umum, bukan hanya untuk menahan panas, tetapi juga mengantisipasi hujan yang bisa turun sewaktu-waktu.

Kepala Seksi Data dan Informasi BMKG Kelas I Hang Nadim Batam, Suratman, mengatakan tingginya kandungan uap air di atmosfer serta dinamika angin di wilayah Kepulauan Riau menjadi faktor utama kondisi cuaca saat ini.

“Secara umum cuaca di Batam berawan hingga cerah berawan, dengan peluang hujan ringan bersifat lokal, terutama pada siang hingga sore hari,” ujarnya, Rabu (25/3).

Baca Juga: ASN Batam WFA Tiga Hari, Pelayanan Publik Dipastikan Tetap Normal ‎

Kecepatan angin yang relatif rendah, berkisar 5–15 kilometer per jam, dinilai tidak cukup untuk meredakan panas di permukaan. Kombinasi ini memperkuat sensasi panas lembap yang dirasakan masyarakat.

BMKG juga mencatat, hingga dasarian II Maret 2026, fenomena El Nino-Southern Oscillation berada pada fase netral. Artinya, tidak ada pengaruh signifikan terhadap peningkatan maupun penurunan curah hujan di wilayah ini.

Meski demikian, peralihan menuju musim kemarau diperkirakan berlangsung bertahap. Wilayah Kepulauan Riau tidak akan memasuki kemarau secara serentak. Natuna diproyeksikan menjadi daerah pertama yang mengalami kemarau pada akhir Mei, disusul Jemaja di Anambas pada awal Juni.

Sementara itu, Batam bagian timur diperkirakan mulai memasuki musim kering pada akhir Juni, dengan wilayah lain seperti Tambelan dan Natuna bagian tenggara menyusul pada pertengahan Juli.

Baca Juga: Kebakaran di Seibeduk, Warga Diimbau Waspada

Suratman mengingatkan, masa peralihan musim bersifat dinamis. Hujan lokal masih berpotensi terjadi, terutama pada siang hingga sore hari, meski tren penurunan curah hujan mulai terlihat dalam beberapa bulan mendatang.

BMKG mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap perubahan cuaca dan menyesuaikan aktivitas harian, terutama di tengah kondisi panas lembap yang berpotensi memicu kelelahan hingga gangguan kesehatan ringan. (*)

ReporterM. Sya'ban

UPDATE