
batampos – Di balik angka miliaran rupiah dari dana Izin Mempekerjakan Tenaga Asing (IMTA), ada ribuan pekerja Batam yang sedang berusaha naik kelas. Sebanyak 70 persen dari dana IMTA dialokasikan untuk pelatihan dan bimbingan teknis.
Selama ini, IMTA kerap dipandang sebatas kewajiban perusahaan pengguna tenaga kerja asing. Namun di tangan Dinas Ketenagakerjaan (Disnaker) Kota Batam, dana tersebut diterjemahkan menjadi program pelatihan dan sertifikasi yang menyasar langsung pekerja lokal, baik pencari kerja maupun pekerja aktif.
Kepala Dinas Ketenagakerjaan Kota Batam, Yudi Suprapto, menegaskan bahwa dana IMTA bukan semata-mata pendapatan daerah. Dana tersebut menjadi bentuk kompensasi untuk memperkuat daya saing tenaga kerja lokal.
Baca Juga: Pemprov Kepri Berlakukan Sanksi Denda 5 Persen bagi Perusahaan Penunggak THR
“Sebanyak 70 persen dialokasikan untuk pelatihan dan bimbingan teknis, 25 persen untuk sarana prasarana, dan 5 persen untuk penunjang lainnya. Ini sudah diatur dalam Perda Nomor 1 Tahun 2024,” ujarnya, Senin (23/2).
Sepanjang 2025, Disnaker Batam menggelar 83 program pelatihan untuk pencari kerja dengan total 3.449 peserta. Sementara di awal tahun 2026 ini saja, 53 program bimbingan teknis dan sertifikasi bagi pekerja aktif diikuti 1.396 peserta.
Artinya, hampir 5 ribu orang tersentuh program peningkatan kompetensi dalam satu tahun.
Pelatihan dilakukan hampir sepanjang tahun, dari Februari hingga Desember, dengan sistem pendaftaran online. Materi yang diberikan pun mengikuti kebutuhan industri Batam yang didominasi sektor manufaktur dan jasa.
Mulai dari migas, welder dan pengelasan, operator forklift dan alat berat, logistik, pariwisata, bahasa asing, UMKM, ekonomi kreatif, hingga bidang digital yang kini semakin diminati.
Baca Juga: Harga Daging di Batam di Atas Rp110 Ribu, Pemerintah Sebut Masih Wajar
Sertifikat yang diterbitkan berasal dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) atau kementerian terkait, melalui uji kompetensi lembaga sertifikasi profesi. Dengan sertifikat ini, pekerja diharapkan memiliki pengakuan formal atas keterampilannya.
Realisasi penerimaan IMTA terus meningkat. Tahun 2024 tercatat Rp41,9 miliar, naik menjadi Rp44,82 miliar pada 2025. Tahun 2026, Pemko Batam menargetkan Rp50 miliar.
Namun, kenaikan target ini bukan tanpa tantangan. Di satu sisi, dana bertambah berarti ruang pelatihan semakin luas. Di sisi lain, dunia usaha masih menyoroti kesenjangan antara kompetensi lulusan pelatihan dengan kebutuhan riil industri.
Yudi mengakui, pelatihan hanyalah pintu masuk.“Kami terus dorong agar program benar-benar link and match dengan kebutuhan industri. Harapannya, begitu selesai pelatihan, peserta bisa langsung terserap,” pungkasnya. (*)



