
batampos – Pada awal 1990-an, ketika sebagian besar wilayah Batam masih berupa semak dan tanah merah, Roma Nasir Hutabarat sudah mengambil keputusan yang akan menentukan seluruh hidupnya. Ia meninggalkan ruang kantor berpendingin udara di sebuah perusahaan Jepang, lalu memilih panas matahari, debu proyek, dan hitungan batu bata.
“Waktu itu kerja di kantor Jepang sudah dianggap keren. Tapi saya melihat masa depan Batam bukan di meja kantor, melainkan di proyek,” kata dia, Rabu (21/1).
Tahun 1991, Nasir, lelaki asal Medan yang sempat kuliah di Pekanbaru namun tak menamatkannya datang ke Batam sebagai perantau tanpa modal besar. Batam saat itu sedang menggeliat sebagai kota industri baru. Pabrik tumbuh, lahan dibuka, dan arus manusia mengalir dari berbagai daerah. Bagi Nasir, kota ini adalah buku terbuka.
Ia memulainya dari bawah. Setelah setahun bekerja sebagai staf kantor di salah satu perusahaan Jepang, Nasir sengaja keluar dan masuk ke dunia kontraktor. Bukan demi gaji. Ia ingin belajar.
“Saya mau paham bagaimana rumah dibangun, dari nol,” ujarnya.
Kulitnya yang semula putih perlahan menggelap. Hari-harinya dihabiskan bersama tukang, memegang meteran, menghitung besi, batu, dan upah harian. Ia bukan lulusan teknik sipil. Tapi proyek adalah sekolahnya.
Dari pemborong, Nasir beralih menjadi agen properti. Dia belajar menjual rumah, memahami pasar, dan membaca psikologi pembeli. Pada pertengahan 1990-an, uang mulai mengalir. Namun badai datang cepat. Krisis moneter di 1998 menghantam tanpa ampun.
“Tahun 1998 saya bangun rumah di Tanjung Piayu. Hancur. Modal habis,” katanya.
Ia jatuh. Tapi tidak pergi. Ketika ekonomi mulai pulih pada 2000, Nasir bangkit lewat jalur yang ia kuasai: penjualan properti. Dalam dua tahun, namanya melesat. Penghasilannya sebagai agen properti mencapai ratusan juta rupiah per bulan, angka yang pada masa itu nyaris tak terbayangkan.
Tahun 2003, Nasir mengambil langkah paling berani: mendirikan perusahaan pengembang sendiri, Batam Riau Bertuah (BRB). Proyek pertamanya berjumlah 153 unit rumah di kawasan Bandara. Modalnya berasal dari pinjaman dan kepercayaan teman.
Dua dekade lebih berselang, BRB telah mengembangkan sekitar 23 proyek di Batam, dengan total lebih dari 10 ribu unit, mulai dari rumah sederhana, ruko, pasar, hingga fasilitas pendidikan. Nasir juga merambah usaha penunjang seperti pusat biliar dan futsal. Di luar Batam, ia sempat mengembangkan proyek perumahan di Pekanbaru dan kini menyiapkan lahan ratusan hektare di Serang, Banten.
Nama Batam Riau Bertuah bukan sekadar label dagang. Batam adalah tempat ia berpijak. Riau adalah akar administratif dan kultural masa lalu sebelum Kepri mekar menjadi provinsi. Bertuah, kata Melayu itu, adalah doa: keberkahan.
“Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung,” kata Nasir.
Di kalangan pengembang Batam, Nasir dikenal sebagai anomali. Ia tidak lahir dari “universitas developer” istilah untuk para profesional yang lama bekerja di perusahaan properti besar sebelum membuka usaha sendiri. Nasir membangun jalannya sendiri.
“Saya belajar dari proyek, bukan dari kantor developer,” ujar dia.
Ia bercerita, kala dulu pernah duduk dalam rapat proyek bersama enam insinyur terkemuka. Mereka menghitung durasi dan biaya dengan perangkat lunak. Nasir menghitung dengan ingatan dan pengalaman. Hasilnya, menurutnya, paling presisi. “Karena saya hidup di situ setiap hari,” katanya.
Soal pendidikan formal, riwayat Nasir berliku. Ia tercatat tiga kali masuk perguruan tinggi, di Pekanbaru dan Batam, bahkan sempat mengambil jurusan hukum. Akan tetapi, semua tak tamat.
“Bukan karena saya anti pendidikan. Saya tidak mau sekadar mengejar gelar,” katanya.
Baginya, pendidikan tak selalu berujung ijazah. Ia mengukurnya dari kemampuan berbuat. “Tujuan pendidikan, kan, untuk memberi manfaat,” tambahnya.
Kini, di usia hampir setengah abad, dia menyaksikan Batam dengan mata yang lebih waspada. Ia bilang, prospek properti masih terbuka. Tapi tantangannya jauh lebih kompleks dibanding dua dekade lalu.
Persoalan lahan menjadi momok utama. Konsep land bank atau tanah cadangan pengembang, sering dipersepsikan negatif. Padahal, bagi Nasir, itu adalah nafas bisnis properti.
“Developer hidup dari tanah. Kalau tidak punya cadangan, mati,” katanya.
Ia sendiri masih berperkara atas lahan sekitar 10 hektare yang telah dibangun ratusan unit, namun belakangan dipersoalkan statusnya. Selain itu, konflik rumah liar kerap menempatkan pengembang di posisi serba salah: diminta menertibkan, tapi tanpa kewenangan keamanan.
Ia khawatir, jika persoalan-persoalan ini tak ditangani negara secara tegas dan adil, Batam akan kehilangan daya tariknya di mata investor. Padahal, kota ini dibangun oleh keberanian orang-orang yang datang tanpa jaminan apa pun seperti dirinya, 35 tahun lalu.
Nasir masih percaya pada Batam. Tapi dia tahu, membaca kota ini hari ini tak bisa lagi hanya dengan naluri. Perlu kebijakan yang berpihak, regulasi yang pasti, dan negara yang hadir. (*)



