Sabtu, 3 Januari 2026

Dari Titah Raja hingga Kota Strategis Nasional, Batam Menapaki Usia 196 Tahun

spot_img

Berita Terkait

spot_img
Walikota Batam Amsakar Achmad bersam Wakil Walikota Batam Lu Claudia Chandra dan Forkopinda melaksanakan upacara Hari Jadi Batam di Dataran Engku Putri Batacenter, Kamis (18/12). F Cecep Mulyana/Batam Pos

batampos– Pemerintah Kota (Pemko) Batam menggelar Upacara Peringatan Hari Jadi Batam (HJB) ke-196 Tahun 2025 di Dataran Engku Putri, Batamcentre, Kamis (18/12). Perhelatan berlangsung khidmat, sebagai bentuk refleksi panjang perjalanan sejarah Batam, dari sebuah wilayah yang nyaris luput dari perhatian hingga menjelma sebagai kawasan strategis nasional.

Upacara dihadiri Wali Kota Batam, Amsakar Achmad; Wakil Wali Kota Batam, Li Claudia Chandra; unsur Forkopimda; tokoh masyarakat; tokoh adat; serta jajaran perangkat daerah. Amsakar bertindak sebagai inspektur upacara.

Dalam amanatnya, dia menyampaikan, bahwa penetapan HJB bukanlah keputusan seremonial. Itu semua berakar kuat pada peristiwa sejarah. HJB ditetapkan merujuk pada surat perintah Yang di Pertuan Muda Riau-Lingga kepada Raja Isa pada 18 Desember 1829 Masehi, yang memberi mandat penguasaan wilayah Nongsa dan sekitarnya.

“Peristiwa inilah yang kemudian disepakati sebagai titik awal perjalanan Batam. Dari sebuah titah kerajaan, Batam mulai menapaki jalannya dalam sejarah,” katanya.
Sejak momen tersebut, Batam menjalani proses panjang yang membentuk identitasnya hari ini. Berabad-abad lamanya, Batam dikenal sebagai pulau yang sunyi dan berada di pinggiran jalur sejarah utama. Tetapi, perubahan besar mulai terjadi pada paruh kedua
abad ke-20.

Masuknya Pertamina pada tahun 1970 menjadi tonggak awal transformasi Batam sebagai wilayah strategis. Perubahan itu diperkuat dengan pembentukan Otorita Batam (kini menjadi BP Batam) pada 1973, pendirian Kota Administratif Batam pada 1983, hingga akhirnya Batam berstatus sebagai daerah otonom sekaligus kawasan perdagangan bebas
dan pelabuhan bebas.

BACA JUGA: Menuju HUT ke-196 Batam, Batam Solidarity Airshow Siap 90 Persen

“Batam tidak lahir sebagai kota besar. Ia tumbuh melalui tahapan sejarah, kebijakan, dan kerja keras lintas generasi,” kata Amsakar.

Perjalanan panjang itu menjadikan Batam memiliki karakter yang unik dibandingkan daerah lain di Indonesia. Selain berperan sebagai pusat industri dan logistik, Batam juga menjadi simpul aktivitas maritim dan perdagangan internasional, seiring kedekatan geografisnya dengan jalur ekonomi global.

Dalam konteks kekinian, usia 196 tahun menjadi momentum untuk memantapkan kembali jati diri Batam. Oleh karena itu, peringatan HJB ke-196 mengusung tema “Unggul dan Berdaya Saing”, yang mencerminkan kesinambungan antara sejarah dan arah masa depan.

“Kita memadukan kecepatan pertumbuhan kota modern dengan akar budaya Melayu yang tetap dijunjung tinggi. Adat tetap terpelihara, budaya tetap hidup,” ujarnya.

Ia menambahkan, nilai-nilai sejarah dan budaya tersebut harus menjadi fondasi dalam menghadapi tantangan global, sekaligus menjaga Batam agar tidak tercerabut dari identitasnya sebagai bagian dari peradaban Melayu.

Amsakar mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menjadikan peringatan HJB sebagai pengingat, bahwa kemajuan kota merupakan hasil dari kebersamaan dan kesinambungan sejarah.

“Kota yang maju adalah kota yang warganya bergerak bersama, menghargai masa lalu, dan berani menatap masa depan,” ujar dia.

Upacara peringatan HJB ke-196 turut dimeriahkan dengan atraksi Batam Solidarity for Sumatera Air Show yang melintas di atas langit Dataran Engku Putri. (*)

ReporterArjuna

Update