
batampos – Politeknik Pariwisata Batam dan Politeknik Negeri Batam bersinergi dalam Program Berdikari Skema EMAS 2025-LPDP (Lembaga Pengelola Dana Pendidikan) untuk mendorong pemberdayaan masyarakat dan pengembangan desa wisata berkelanjutan.
Melalui kolaborasi pentahelix yang melibatkan unsur akademisi, industri, pendidikan kejuruan, komunitas, media, dan pemerintah, program ini membawa dua inovasi utama ke Destinasi Wisata Pandang Tak Jemu yang terletak di Kecamatan Nongsa Batam.
Proses pemetaan dan perencanaan program yang mengakomodir kebutuhan serta rekomendasi dari pengelola destinasi diharapkan menghasilkan 2 output strategis.
Dua output startegis ini berupa mesin pengolah kulit gonggong dan kerang sebagai bahan kerajinan tangan dan platform promosi digital berbasis AR/VR.
”Inovasi mesin ini menjadi jawaban atas kebutuhan efisiensi dan keselamatan kerja dalam industri kerajinan lokal. Proses perancangannya akan melibatkan siswa SMK Negeri 4 Batam bersama mitra industri PT Kaitek Syamra Inovasi, sebagai bentuk nyata transfer teknologi dan keahlian,” ujar Frangky Silitonga, Ketua Tim Peneliti dari Politeknik Pariwisata Batam.
Sementara itu, inovasi digital dikerjakan oleh tim Politeknik Negeri Batam bersama PT Pasir Emas dalam bentuk pengembangan website berbasis Augmented Reality dan Virtual Reality (AR/VR).

“Platform ini menjadi jendela digital bagi Desa Wisata Pandang Tak Jemu untuk menampilkan potensi produk unggulan, atraksi edukatif, dan wajah desa kepada wisatawan nasional maupun internasional,” jelas Riwinoto, Tim Peneliti dari Politeknik Negeri Batam.
Program ini tidak hanya mendorong transformasi digital dan inovasi industri kreatif, tetapi juga memperkuat keterlibatan masyarakat lokal secara aktif.
Pengurus Desa Wisata Pandang Tak Jemu menyambut baik inisiatif ini dengan harapan dapat meningkatkan produktivitas dan daya saing kerajinan tangan khas Kepulauan Riau di pasar global.
“Kami sangat mengapresiasi program ini, kolaborasi dua institusi pendidikan di bidang teknologi dan pariwisata ini tentunya menjadi jawaban yang tepat, kami harap ini dapat berkelanjutan,” tutur Gary Semit perngelola Mangrove Pandang Tak Jemu,
Sebagai model kolaborasi pentahelix yang nyata, kegiatan ini menunjukkan bagaimana institusi pendidikan tinggi vokasi dapat menjadi motor penggerak inovasi daerah yang berdampak langsung pada kesejahteraan masyarakat. (*/adv)



