
batampos – Kepala Dinas Kesehatan Kota Batam, Didi Kusmarjadi, mengingatkan para orangtua untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap diabetes pada anak. Peringatan ini disampaikan menyusul laporan kasus diabetes (gula darah) ekstrem pada seorang remaja di Batam, yang menunjukkan bahwa ancaman diabetes usia muda semakin nyata.
“Ada dua bentuk diabetes pada anak yang harus dipahami orang tua, yaitu Diabetes Melitus Tipe 1 dan Diabetes Melitus Tipe 2,” ujar Didi, Kamis (4/12).
Menurutnya, Diabetes Melitus Tipe 1 (DM1) adalah penyakit autoimun dan merupakan jenis yang paling sering terjadi pada anak. Sementara Diabetes Melitus Tipe 2 (DM2) semakin meningkat pada remaja akibat pola hidup tidak sehat, obesitas, kurang aktivitas fisik, serta kebiasaan mengonsumsi makanan dan minuman tinggi gula.
Baca Juga: Murid SD di Batam Meninggal Akibat Diabetes, Dinkes: Bukan Hanya Serang Anak Obesitas
Didi menjelaskan bahwa perkembangan kasus diabetes pada anak di Indonesia menunjukkan kenaikan yang mengkhawatirkan. Untuk DM1, tren peningkatan mencapai 3–5 kali lipat dalam 10 tahun terakhir. Riset IDAI memperkirakan insidens sebesar 2–4 kasus per 100.000 anak per tahun, namun angka sebenarnya bisa jauh lebih tinggi karena banyak yang tidak terdeteksi.
“Sementara DM2 meningkat seiring meningkatnya prevalensi obesitas sebesar 10–20 persen pada anak usia sekolah, ” tegangnya.
Didi menegaskan pentingnya mengenali gejala awal diabetes pada anak melalui pedoman “4T. Toilet atau sering kencing atau kembali mengompol, Thirsty yaitu rasa haus berlebihan, Thinner yakni berat badan turun drastis dan Tired yakni cepat lelah dan lemas
“Jika muncul satu atau dua tanda saja, segera periksa kadar gula darah. Jangan menunggu kondisi memburuk,” jelasnya.
Pemeriksaan dapat dilakukan dengan cepat di puskesmas atau klinik terdekat.
Menanggapi pertanyaan tentang maraknya konsumsi minuman ringan pada anak dan remaja, Didi menegaskan bahwa minuman manis memiliki kontribusi besar terhadap risiko diabetes.
“Ya, minuman manis bisa menyebabkan diabetes pada anak. Kandungan gula yang sangat tinggi membuat anak tidak merasa kenyang, menyebabkan obesitas, dan memicu resistensi insulin,” ujarnya.
Ia mengimbau orang tua untuk membatasi konsumsi minuman kemasan dan membiasakan anak minum air putih sejak dini.
Didi juga mendorong penerapan pola hidup sehat keluarga, meliputi, membatasi minuman manis dan jajanan tidak sehat, aktivitas fisik minimal 60 menit setiap hari. Batasi waktu penggunaan gawai serta ppantau berat dan tinggi badan secara berkala.
“Jika anak tampak sangat lemas, muntah, napas cepat, atau tercium bau aseton, segera bawa ke fasilitas kesehatan, karena bisa merupakan tanda darurat medis,” tegasnya.
Dinkes berharap meningkatnya kewaspadaan orang tua dapat mengurangi risiko keterlambatan diagnosis dan mencegah komplikasi yang berakibat fatal. (*)
Reporter: Rengga Yuliandra



