Kamis, 2 April 2026

Dialog Staf Khusus Menteri BUMN, Arya Sinulingga, dengan Pelaku UMKM Batam

spot_img

Berita Terkait

spot_img

Staf khusus Menteri BUMN Arya Sinulingga, akhirnya berkesempatan menemui seratusan pelaku UMKM di bawah naungan Rumah IMKM Batam, di kantor Telkom Batuaji, Jumat, 4 Maret 2022.

Kedatangan Arya bersama staf BUMN lainnya, sore itu disambut hangat pelaku UMKM yang telah menyiapkan beragam stand di dalam ruang.

foto
: immanuel sebayang . Batam Pos

Mengenakan sweater hitam bertuliskan BUMN, Arya tampil casual dan langsung meninjau pameran produk UMKM binaan Rumah UMKM Batam.

Beragam produk olahan, mulai dari makanan ringan, snack, handycraft bambu dan gonggong, dipamerkan para peserta UMKM dari Batam tersebut.

Puas melihat pameran, Arya langsung menuju tenda utama, dan menemui peserta UMKM di luar gedung. Acara dilanjutkan dengan diskusi terbuka.

Mariani, dari Azzuri Snack, mengawali dengan diskusi pertama. Mariani mengeluhkan sulitnya bahan baku dan jasa packaging di Batam.

“Kami kesulitan karena untuk pasar Malaysia dan Singapura, punya standar khusus untuk kemasan,” ujarnya.

Menanggapi hal itu, Arya langsung memerintahkan stafnya untuk membuat pelatihan kemasan yang menarik.

“Iya, nanti kita buatkan pelatihan lagi, bagaimana agar kemasan dan produk itu terlihat menarik. Sepertinya masalahnya sama seperti di Jawa dan Makassar. Pelaku UMKM kesulitan dengan kemasan,” jelas pria kelahiran Kabanjahe, Tanah Karo, Sumut, tersebut.

“Tapi harus diperhatikan juga Bu, bagaimana agar produk itu enak dan renyah. Soalnya tadi saya makan keripik, agak keras,” ujar Arya, disambut tawa peserta lainnya.

Berikut Arya menanyakan masalah krusial yang paling dihadapi pelaku UMKM di Batam.

“Kira-kira yang paling penting apa, Bu? Saya kalau bisa bantu, saya bantu. Kalau tidak, ya tidak. Bukan semua wewenang kami, kan,” ujar Arya.

Dilempar pertanyaan sedemian rupa, mayoritas ibu-ibu pelaku UMKM lantas berteriak serempak, “Minyak goreng!”

“Nah, ini agak bingung saya. Ya bagaimana ya? Seharusnya kan ada data kuotanya berapa? Yang dibutuhkan berapa? Tapi ini kok jadi begini. Ya, agak susah saya menjawabnya Bu, karena bukan kewenangan saya soal regulasi minyak goreng. Ya, pandai-pandai kalianlah, Bu,” ujar Arya lantas tertawa.

Jalannya diskusi sore itu berlangsung akrab dan hangat. Mantan direksi MNC Grup itu sampai mendekat ke bangku peserta.

Arya memaparkan program berikutnya, bahwa BUMN akan bekerjasama dengan startup bukalapak, guna memasarkan produk UMKM dibawah binaan BUMN.

“Sesuai arahan Menteri BUMN bapak Erick Thohir, April, Rumah BUMN akan bekerjasama dengan startup Bukalapak. Dari situ kita akan lihat, progres UMKM secara online. Berikutnya akan masuk e-cataloq,” beber Arya.

Selain itu, dikatakan Arya, BUMN akan membuka stand khusus di setiap pelabuhan dan bandara.

“Misalnya di pelabuhan Pelindo, kita akan buatkan konter BUMN. Selama itu punya Pelindo atau ASDP, kita bisa. Nanti saya akan bahas dengan pak menteri. Termasuk juga di bandara,” jelas Arya.

Pada sesi tanya jawab, Sutopo, pelaku UMKM Keripik Trubus, menantang Arya untuk mencicipi keripik olahannya.

“Saya gak setuju bapak bilang keripik binaan Rumah UMKM Batam keras. Saya tantang bapak mencoba keripik saya. Pasti rasanya beda,” ujar Sutopo, yang ternyata produknya sudah menembus pasar Malaysia dan Singapura.

Menjawab tantangan itu, Arya buru-buru mengklarifikasi.

“Bukan yang tadi, Pak. Maksud saya produk yang dulu. Sebelum masuk binaan Rumah UMKM Batam,” jelas Arya disambut tawa seluruh peserta.

Jalannya diskusi makin seru, saat Tarmizi dari produk Tanjak, mengemukakan keluhannya. Tarmizi mengeluhkan mahalnya pajak di Batam.

foto: Immanuel Sebayang / Batam Pos

“Saya pernah menjual jaket seharga Rp800 ribu. Dan dipesan pelanggan dari luar Jawa. Akhirnya, setelah kena pajak dan ongkos kirim, harganya jadi Rp1,3 juta. Dan ini sangat dikeluhkan oleh pelanggan saya,” ujar Tarmizi.

Terdiam sesaat, Arya lantas bicara. “Iya, saya bingung juga. Batam ini kan daerah Otorita Batam dulunya. Kenapa jadi kesannya mahal ya? Apa tak pernah dilaporkan ke Kadis UMKM nya?” tanya Arya.

Salah seorang peserta, akhirnya membantu menjawab pertanyaan tersebut. Dikatakannya, bahwa pelaku UMKM yanh produknya sudah terdaftar di Disperindag akan mendapatkan keringanan pajak, meski biaya ongkos kirim tidak berubah.

“Ya itu sudah bagus. Pajak dan ongkos kirim kan berbeda,” jelas Arya.

Pukul 17.30 acara disudahi dan Arya lagi-lagi harus memenuhi permintaan ibu-ibu pelaku UMKM, untuk foto bersama di dalam ruangan. Ternyata para ibu-ibu tersebut, punya agenda tersembunyi. Politisi Partai Perindo itu dipaksa untuk jadi model dadakan produk mereka.

Meski agak berebut, namun Arya tetap melayani permintaan para ibu-ibu.

“Ya, jangan rebutan. Semua kebagian. Jangan lupa share di medsos. Tapi yang positif ya!” ujar Arya.

Tigapuluh menit berlalu, akhirnya Arya yang sore itu didampingi perwakilan BRI Batam, Pegadaian, Telkom dan beberapa instansi BUMN lainnya, undur diri dan menaiki Alphard bersama rombongan. (*)

Reporter : Immanuel Sebayang

UPDATE