Sabtu, 3 Januari 2026

Dinkes Batam Mulai Pemeriksaan Kesehatan Gratis untuk 200 Ribu Siswa, Fokus Deteksi Dini Gangguan Kesehatan

spot_img

Berita Terkait

spot_img
Dinkes Kota Batam terus menggencarkan program Pemeriksaan Kesehatan Gratis (PKG) bagi pelajar di seluruh jenjang pendidikan. Program ini menyasar seluruh siswa aktif dari tingkat SD hingga SMA sederajat, dengan target sebanyak 200 ribu siswa. Foto. Rengga Yuliandra/ Batam Pos

batampos – Pemerintah Kota Batam melalui Dinas Kesehatan (Dinkes) terus menggencarkan program Pemeriksaan Kesehatan Gratis (PKG) bagi pelajar di seluruh jenjang pendidikan. Program ini menyasar seluruh siswa aktif dari tingkat SD hingga SMA sederajat, dengan target sebanyak 200 ribu siswa.

Kepala Dinkes Kota Batam, dr. Didi Kusmarjadi, mengatakan program ini merupakan bagian dari upaya promotif dan preventif pemerintah daerah dalam meningkatkan derajat kesehatan peserta didik. Selain itu, program ini merupakan bentuk implementasi dari salah satu misi prioritas Asta Cita Presiden RI Prabowo Subianto dalam memperkuat layanan kesehatan dasar dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia.

“Di Batam program ini sudah kami mulai sejak Juli dengan target seluruh siswa aktif di Kota Batam,” ujar Didi, Kamis (24/7).

Pelaksanaan program dilakukan secara bertahap dengan menggandeng Dinas Pendidikan serta seluruh puskesmas yang tersebar di setiap kecamatan. Pemeriksaan tidak hanya menyasar siswa baru, namun juga seluruh siswa aktif dari usia 7 hingga 17 tahun.

Di wilayah kerja Puskesmas Tanjung Buntung, kegiatan PKG pada Kamis (24/7) dilakukan di dua sekolah, yakni SD Batam International Islamic School (BIIS) dan SD Negeri 010 Tanjung Buntung. Sebanyak 716 siswa diperiksa dalam pelaksanaan tahap awal ini.

Plt Kepala Puskesmas Tanjung Buntung, dr. Nazia Helni, menyampaikan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk mendeteksi potensi gangguan kesehatan sedini mungkin, baik fisik maupun mental.

“Jika ditemukan kondisi kurang sehat, akan segera kami tindaklanjuti agar tidak berkembang menjadi komplikasi yang lebih serius,” ujar dr. Nazia didampingi Kasubbag TU Puskesmas Tanjung Buntung Rozie Zurfi Chadra.

Ia mencontohkan, siswa yang memiliki riwayat kontak dengan penderita Tuberkulosis (TBC) akan langsung menjalani pemeriksaan lanjutan guna memastikan tidak terjadi penularan. “TB ini menular dan bisa menjadi penyakit yang serius jika tidak ditangani sejak dini,” tegasnya.

Total sasaran program PKG Anak Sekolah di wilayah kerja Puskesmas Tanjung Buntung mencapai 14.029 siswa, yang tersebar di 16 SD, 8 SMP, dan 10 SMA. Pemeriksaan dilakukan berdasarkan panduan Kementerian Kesehatan RI, mencakup pemeriksaan mata, telinga, gigi, tekanan darah, serta tes hemoglobin (Hb) dan gula darah untuk jenjang SMP dan SMA.

Tes kebugaran fisik juga dilakukan, berupa lari sejauh 1 km untuk siswa SD dan 1,6 km untuk siswa SMP dan SMA, yang dilaksanakan oleh guru PJOK masing-masing. Namun, tidak semua siswa diwajibkan mengikuti tes kebugaran. Sebelumnya, orang tua atau wali murid diminta mengisi kuesioner riwayat kesehatan untuk menentukan kelayakan siswa mengikuti tes tersebut.

“Misalnya, anak dengan riwayat asma tidak kami ikutkan dalam tes kebugaran demi menjaga keselamatan,” tambahnya.

Sebelum kegiatan dimulai, pihak puskesmas melakukan sosialisasi ke seluruh sekolah yang menjadi sasaran. Setelah itu, kuesioner dibagikan kepada orang tua, dan datanya direkap oleh petugas kesehatan sekolah. Pemeriksaan kesehatan kemudian dilakukan berdasarkan jadwal yang telah disepakati bersama sekolah.

Hasil pemeriksaan akan direkap oleh petugas puskesmas. Siswa yang ditemukan mengalami gangguan kesehatan akan dirujuk ke Puskesmas Tanjung Buntung untuk mendapat penanganan lanjutan. Jika perlu, siswa juga akan dirujuk ke rumah sakit.

Seluruh data hasil pemeriksaan dicatat dalam aplikasi Epuskesmas, sebagai rekam medis digital, dan diunggah ke Satu Sehat Website milik Kementerian Kesehatan sebagai bagian dari integrasi data kesehatan nasional.

“Kami sangat mengapresiasi Dinas Pendidikan Kota Batam dan pihak sekolah yang telah bekerja sama dan mendukung penuh kegiatan ini. Koordinasi berjalan sangat baik, termasuk dalam menyesuaikan jadwal sekolah dengan pelaksanaan PKG,” ungkap dr. Nazia.

Ia menambahkan, hasil pemeriksaan juga akan disampaikan ke pihak sekolah. Sekolah kemudian bisa membantu menyampaikan kepada orang tua agar mengambil langkah penanganan jika ditemukan masalah kesehatan.

“Contohnya, jika ada siswa mengalami gangguan penglihatan, sekolah bisa membantu mengimbau orang tua untuk membawa anaknya ke fasilitas kesehatan dan membuatkan kacamata,” pungkasnya. (*)

Reporter: Rengga Yuliandra

Update