Senin, 12 Januari 2026

Dinkes Batam: Penambahan Dokter Konservasi Gigi Bukan Kewenangan Daerah

spot_img

Berita Terkait

spot_img
ilustrasi pemeriksaan gigi. . F. alodokter.com

batampos  – Kasus kerusakan gigi pada anak sekolah menjadi salah satu temuan utama dalam pemeriksaan kesehatan yang dilakukan Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Batam. Banyak anak diketahui membutuhkan perawatan konservasi gigi, termasuk perawatan saluran akar. Namun, akses layanan tersebut kerap terhambat karena harus menunggu antrean panjang di BPJS Kesehatan.

Kepala Dinkes Batam, dr. Didi Kusmarjadi, menegaskan pihaknya menerapkan sistem prioritas untuk menangani kasus konservasi gigi anak.

“Tidak semua bisa langsung ditangani, karena antrean sangat panjang. Kasus-kasus mendesak akan diprioritaskan,” ujarnya, Senin (18/8).

Didi menambahkan, pemerintah daerah tidak memiliki kewenangan untuk menambah jumlah tenaga ahli konservasi gigi.

“Penambahan tenaga spesialis gigi ada di luar kewenangan daerah. Itu bukan hal yang bisa langsung dilakukan Dinkes Batam,” tegasnya.

Menurut Didi, kondisi ini menjadi tantangan serius mengingat kebutuhan layanan spesialis gigi terus meningkat. Sebagai langkah jangka pendek, Dinkes Batam memperkuat program pencegahan dan edukasi kesehatan gigi di sekolah-sekolah.
“Kami dorong anak-anak membiasakan pola hidup sehat sejak dini, terutama menjaga kebersihan gigi,” jelasnya.

Selain kasus gigi, hasil pemeriksaan kesehatan juga menemukan adanya anak-anak yang mengalami hipertensi dan diabetes. Meski jumlahnya tidak diungkap secara detail, kondisi ini dinilai cukup mengkhawatirkan.

“Untuk hipertensi dan diabetes bisa ditangani melalui BPJS Kesehatan. Namun yang lebih penting adalah pencegahan, agar jumlah kasus tidak terus meningkat,” katanya.

Langkah pencegahan itu, lanjutnya, antara lain deteksi dini melalui pemeriksaan rutin gula darah, tekanan darah, dan berat badan. Pola makan sehat juga ditekankan, dengan mengurangi konsumsi gula, garam, serta gorengan, dan memperbanyak sayuran, buah, karbohidrat kompleks, serta protein sehat.

Aktivitas fisik minimal 60 menit per hari juga sangat dianjurkan, baik melalui olahraga maupun permainan aktif. Selain itu, anak-anak perlu dibatasi waktu penggunaan gawai (screen time) agar tidak berlebihan. Jika diperlukan, terapi medis seperti insulin atau obat akan diberikan sesuai anjuran dokter dengan pemantauan berkala.

Didi menekankan, peran keluarga dan sekolah sangat penting dalam menjaga kesehatan anak.

“Sekolah harus menyediakan kantin sehat, orang tua memberi contoh pola hidup sehat di rumah, dan dukungan psikologis juga dibutuhkan agar anak tidak terbebani dengan kondisi penyakitnya,” ujarnya.

Ia menegaskan, fokus utama Dinkes Batam tetap pada pencegahan, pemantauan kesehatan secara berkelanjutan, dan membangun lingkungan yang mendukung tumbuh kembang anak secara optimal. (*)

Reporter: Rengga Yuliandra

Update