Senin, 16 Februari 2026

Dinkes Jadwalkan Pengambilan Sampel Keluarga Pasien Cacar Monyet

spot_img

Berita Terkait

spot_img

batampos – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Batam terus memantau dan mengawasi pasien kasus monkeypox atau cacar monyet di Batam. Pasien adalah pria berusia 23 tahun, dan tinggal bersama keluarganya di wilayah Lubukbaja, Batam. Dinkes sudah melakukan pelacakan terhadap kasus pertama di Batam ini. Pasalnya, ada dugaan terjadi penularan kepada ibu penderita.

”Sampai sekarang masih diawasi oleh petugas puskesmas di wilayah tinggal pasien. Isolasi selama 24 hari, dan kami berharap pasien ini patuhi aturan. Tidak berkegiatan atau beraktivitas di luar rumah. Memang kami pantau, tapi kan tidak 24 jam,” kata Kepala Dinkes Batam, Didi Kusmarjadi, Rabu (22/11).

Didi menjelaskan, kondisi terkini pasien mulai membaik. Luka yang ada di telapak tangan mulai mengering, dan tidak mengandung cairan yang menjadi penyebab penularan.


”Seminggu lalu kami pantau, kondisinya sudah jauh lebih baik. Kondisi lukanya sudah mulai kering. Kami berharap hingga masa isolasi berakhir, pasien bisa sembuh total,” ungkapnya.

Mengenai perkembangan kasus baru, Didi menyebutkan ada laporan bahwa ibu dari pasien mulai menunjukkan gejala awal. Namun, hal ini harus dilakukan pemeriksaan, dan pengambilan sampel untuk uji laboratorium. Sehingga, bisa diketahui kondisi sang ibu.

”Mereka memang tinggal serumah. Tapi kami masih pantau, nanti petugas puskesmas akan datang ke rumah untuk mengecek apakah ada gejala yang menjurus pada monkeypox,” beber Didi.

Ketidakterbukaan informasi dari pasien, menyebabkan petugas medis kesulitan mencari sumber penularan pertama. Me-nurutnya, penelusuran bisa lebih optimal jika pasien terbuka.

”Sekarang kalau mau tracing (penelusuran) juga bingung. Karena belum ada kasus baru yang dilaporkan, atau ditemukan. Untuk itu, kami fokus pada pasien dan keluarganya untuk saat ini,” imbuhnya.

Lanjutnya, untuk menghindari terjadinya penularan, hal yang bisa dilakukan adalah menghindari kontak dengan yang terduga cacar monyet. ”Penularan cacar monyet ini adalah kontak langsung. Jadi kalau ada gejala segera laporkan. Usahakan jangan ada kontak erat dengan pasien,” sebutnya.

Ia menambahkan, untuk pembiayaan rumah sakit tidak ditanggung oleh BPJS kesehatan. Untuk itu, pasien direkomendasikan menjalani isolasi mandiri di rumah.

”Biaya perawatan pasien di RSUD kemarin dibantu oleh Dinkes Pemprov. Karena memang tidak ditanggung oleh kementerian maupun BPJS,” imbuhnya.

Didi mengatakan, untuk meng-hindari penularan penyakit ini, ia mengimbau supaya setia kepada pasangan. ”Itu yang bisa kami sarankan,” tutupnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, kasus konfirmasi cacar monyet di Indonesia terus bertambah. Berdasarkan data harian yang diterima per tanggal 11 November 2023, terdapat 44 kasus cacar monyet di Indonesia. Dimana, satu kasus terkonfirmasi baru di awal November ini, berasal dari Kota Batam. Menurut Didi, pasien pria tersebut mengaku tidak pernah melakukan perjalanan keluar kota dan tidak pernah melakukan kontak dengan orang yang terduga cacar monyet.

Dikatakan Didi, monkeypox dapat menular melalui kontak langsung kulit dengan penderita, melalui kegiatan seksual, berciuman, berpelukan dan kontak kulit lainnya. Virus ini juga dapat menular melalui dari permukaan benda yang terkontaminasi. Gejalanya berupa demam, lelah, kemudian muncul sejumlah ruam di sekitar tubuh, seperti telapak tangan, telapak kaki, alat kelamin serta ruam pada area bokong.

”Pasien masih lajang, awalnya dia berobat ke salah satu puskes-mas di Batam. Kemudian, setelah diambil sampel di hari yang sama dan kami kirim ke Balai Teknik Kesehatan Lingkungan Pengendalian Penyakit (BTKL-PP) hasilnya positif monkeypox dan ini juga sudah masuk data Kemenkes,” tambah Didi.

Disinggung penyebab muncul lagi penyakit ini, Didi menjawab, tren cacar monyet di Indonesia bukan lagi disebabkan hewan pembawa. Tetapi, lewat hubungan seksual, atau pasien lelaki yang berhubungan seksual dengan lelaki (LSL). Kelompok penyuka sesama jenis menjadi yang paling berisiko terjangkit penyakit ini.

”Untuk pasien di Batam ini sudah kita telusuri, kami gali dan dia tak mengakui berhubungan badan akhir-akhir ini. Dia berobat tanggal 7 November, masa inkubasi 7 hari dan kemungkinan ia kontak dengan penderita cacar monyet ini pada awal bulan November ini,” tuturnya.

Bagaimana upaya agar terhindar dari penyakit ini, Didi menjawab perilaku hidup bersih dan sehat sangat dipengaruhi. Lalu, menggunakan masker karena penyakit ini bisa berpindah melalui cairan air liur ketika orang bersin. Setia terhadap pasangan dan tidak berhubungan seks berganti-ganti pasangan. Selain itu, tidak menggunakan barang bersama, semisal handuk yang belum dicuci, pakaian, atau berbagi tempat tidur, alat mandi, serta perlengkapan tidur seperti seprai, bantal, dan lain. Untuk populasi berisiko tinggi, sedapat mungkin hindari perilaku berisiko. Yang dimaksud populasi berisiko tinggi, yaitu yang memiliki pasangan lebih dari satu orang yang mengidap kondisi imunokompromais (autoimun, penyakit kronis lainnya).

Gejala cacar monyet akan timbul 5-21 hari setelah penderita terinfeksi virus monkeypox. Gejala awal cacar monyet meliputi demam, lemas, menggigil, sakit kepala, nyeri otot, pembengkakan kelenjar getah bening yang ditandai dengan adanya benjolan di leher, ketiak atau, selangkangan.

Gejala awal dapat berlangsung selama 1-3 hari atau lebih. Setelah itu, akan muncul gejala seperti ruam pada wajah yang akan menyebar ke bagian tubuh lainnya seperti lengan dan tungkai. Ruam tersebut akan muncul seperti bintil yang berisi cairan nanah, lalu pecah dan berkerak, kemudian akan menyebabkan borok di permukaan kulit.

”Bagi masyarakat yang merasa memiliki gejala tersebut, dapat melaporkan ke puskesmas/klinik/RS terdekat untuk selanjutnya dilakukan pemeriksaan,” ungkap Didi. (*)

 

Reporter : YULITAVIA

Update