
batampos – Warga di Kecamatan Bengkong dan Batuampar masih menghadapi kesulitan air bersih dan terpaksa bergantung pada pasokan air tangki dari PT Air Batam Hilir (ABH). Namun, tingginya permintaan membuat distribusi air tangki tidak mampu berjalan merata.
Proses pengajuan yang harus melalui perangkat setempat seperti RT juga dinilai menyulitkan. Sementara pasokan yang datang kerap tidak mencukupi kebutuhan seluruh warga.
Julaeni, salah satu warga Bengkong yang terdampak krisis air, mengaku pengajuan air tangki tidak bisa dilakukan secara cepat. Menurutnya, permintaan harus disampaikan melalui RT, namun ketika air sudah benar-benar habis hari itu, pengiriman baru dilakukan keesokan harinya.
Di sisi lain, volume air dalam satu tangki sering kali tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan seluruh warga.
Baca Juga: Setahun Air Tak Lancar, Warga Tanjung Sengkuang Bertahan dari Air Tampungan
“Air datang besoknya, itu pun tidak cukup. Akhirnya sebagian dapat, sebagian tidak. Antarwarga malah bertengkar rebutan air. Ini kebutuhan dasar, tapi justru menimbulkan konflik baru. Kalau begini terus, potensi konflik sosial bisa meluas,” ujar Julaeni.
Hal senada disampaikan Endang, warga Batu Ampar, Ia menilai sistem distribusi air darurat ini belum menjawab kebutuhan warga di lapangan, terutama di wilayah yang airnya tidak mengalir selama berhari-hari.
“Kami terpaksa mengandalkan air galon atau membeli air tambahan dengan biaya sendiri,” ujar dia
Menanggapi keluhan tersebut, Humas PT Air Batam Hilir, Ginda Alamsyah, menjelaskan bahwa layanan air tangki diberikan secara gratis bagi pelanggan yang mengalami gangguan suplai, dengan ketentuan satu kali pengiriman dalam 24 jam.
“Itu sifatnya gratis. Untuk teknis pembagian di lapangan, kami menyerahkan kepada perangkat setempat, baik RT, RW, atau koordinator yang disepakati warga. Mereka yang paling memahami kondisi dan kebutuhan warganya,” kata Ginda kepada Batam Pos, Selasa (20/1) pagi.
Ginda menjelaskan, mekanisme tersebut diterapkan karena perangkat setempat dinilai lebih mengetahui kebiasaan dan kebutuhan air masing-masing rumah. Oleh karena itu, pembagian air di lapangan sepenuhnya dikoordinasikan oleh RT, RW, atau koordinator yang ditunjuk warga, agar distribusi bisa lebih adil.
Baca Juga: Lakukan Kekerasan Seksual Berulang pada Anak Bawah Umur, Terdakwa Diadili di PN Batam
Terkait jumlah air tangki yang dikirim, Ginda menyebut tidak ada angka pasti karena disesuaikan dengan permintaan dari warga terdampak. Namun, pengajuan tetap harus dilakukan melalui perangkat setempat yang kemudian menghubungi call center ABH.
“Perangkat atau koordinator wilayah yang mengajukan ke call center kami untuk meminta pengiriman water tangki,” jelasnya.
Ia menambahkan, satu tangki air dapat dibagi ke beberapa rumah, tergantung jumlah penghuni dan kebutuhan masing-masing keluarga. Ada rumah yang hanya dihuni dua orang, ada pula yang dihuni lebih dari empat orang, sehingga kebutuhan airnya berbeda-beda.
“Makanya kami sesuaikan dengan kebutuhan tiap rumah. Tapi ini sifatnya bantuan darurat, sementara, bukan untuk pemakaian terus-menerus,” kata Ginda
Ginda juga mengimbau warga agar menggunakan air tangki seperlunya selama masa gangguan. Aktivitas yang membutuhkan banyak air, seperti menyiram tanaman atau mencuci kendaraan, diharapkan dapat dikurangi sementara waktu.
Ia kembali menegaskan pentingnya peran perangkat setempat dalam mengatur distribusi agar tidak menimbulkan kecemburuan sosial dan konflik antarwarga.
“Kami minta bantuan perangkat atau koordinator di lapangan supaya pembagian air bisa lebih merata. Jangan sampai ada warga yang dapat, sementara yang lain sama sekali tidak kebagian,” ujarnya. (*)



