Rabu, 21 Januari 2026

Dolar Menguat, Turis Singapura–Malaysia Membanjiri Batam, Peluang Besar bagi Pengusaha Lokal

spot_img

Berita Terkait

spot_img
Wisatawan mancanegara saat menikmati liburan di salah satu pusat perbelanjaan di Batam. Penguatan Dolar Singapura dan Ringgit Malaysia terhadap rupiah menjadi berkah tersendiri bagi Kota Batam. Foto. Cecep Mulyana/ Batam Pos

batampos – Penguatan Dolar Singapura dan Ringgit Malaysia terhadap rupiah menjadi berkah tersendiri bagi Kota Batam. Kondisi ini mendorong lonjakan signifikan kunjungan wisatawan mancanegara, khususnya dari Singapura dan Malaysia, sekaligus membuka peluang besar bagi pelaku usaha lokal di berbagai sektor.

Pengusaha Batam sekaligus putra daerah, Datok Amat Tantoso, mengatakan arus masuk wisatawan asing ke Batam terus meningkat tajam dalam beberapa tahun terakhir. Dampaknya sangat terasa terutama saat akhir pekan, di mana jumlah wisatawan bisa menembus puluhan ribu orang.

“Sekarang turis Singapura dan Malaysia masuk ke Batam sangat banyak. Otomatis ini mendongkrak ekonomi Batam. Bahkan dalam satu hari saat weekend, jumlahnya bisa sampai 10 ribu orang,” ujarnya, Senin (19/1).

Menurut Datok Amat, faktor utama meningkatnya kunjungan wisatawan tersebut adalah penguatan mata uang asing terhadap rupiah. Dengan nilai tukar yang menguntungkan, Batam menjadi destinasi belanja, kuliner, dan hiburan yang murah bagi wisatawan negara tetangga.

Ketua Umum Afiliasi Penukaran Valuta Asing Indonesia (APVA) ini menjelaskan, penguatan Dolar Singapura, Ringgit Malaysia, hingga Dolar Amerika Serikat memberikan efek berantai terhadap sektor pariwisata, perdagangan, perhotelan, dan jasa di Batam.

“Faktor utamanya adalah dolar menguat dan nilai tukar rupiah melemah. Ini yang membuat Batam sangat menarik bagi wisatawan asing,” katanya.

Berdasarkan data kurs per 19 Januari 2026, nilai tukar Dolar Singapura berada di kisaran Rp13.150–Rp13.180, naik dibandingkan Januari 2025 yang masih di kisaran Rp11.960–Rp11.990. Ringgit Malaysia tercatat di level Rp4.160–Rp4.180, meningkat dari Rp3.620–Rp3.640 pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Sementara itu, Dolar Amerika Serikat berada di kisaran Rp16.920–Rp16.970, naik dari Rp16.360–Rp16.410.“Secara rata-rata, Dolar Singapura naik sekitar 10 persen per tahun, Ringgit Malaysia sekitar 15,2 persen, dan Dolar AS sekitar 3,4 persen. Ini sangat terasa dampaknya bagi Batam,” jelasnya.

Penguatan mata uang asing tersebut berdampak langsung pada aktivitas ekonomi. Kawasan perbelanjaan seperti Penuin dan BCS Mall hampir selalu dipadati pengunjung, terutama pada akhir pekan. Tingkat hunian hotel pun meningkat signifikan.

“Kalau weekend, Penuin dan BCS Mall sangat penuh. Hotel-hotel di kawasan itu juga hampir selalu penuh,” ujarnya.

Datok Amat juga menyebut pola belanja wisatawan asing semakin jelas. Banyak turis datang ke Batam dengan koper kosong dan pulang dengan koper penuh belanjaan.“Mereka datang untuk belanja, makan murah, salon, pijat. Pulangnya koper penuh, dan tetap lebih hemat karena nilai mata uang mereka kuat,” katanya.

Melihat peluang besar tersebut, Datok Amat menilai momentum penguatan dolar harus dimanfaatkan secara maksimal oleh pengusaha dan pemerintah. Ia mendorong pengembangan kawasan wisata dan belanja baru, salah satunya melalui program “New Nagoya”, agar manfaat ekonomi tidak hanya terpusat di satu kawasan.

“Ini peluang besar bagi pengusaha Batam. Kalau kawasan wisata dan belanja diperluas, ekonomi bisa menyebar dan usaha lokal makin hidup,” ujarnya.

Ia mengusulkan agar pengembangan kawasan Nagoya mengadopsi konsep boulevard atau jalan khusus pejalan kaki, seperti yang diterapkan di Osaka, Jepang, atau sejumlah kota besar di Tiongkok.

“Konsepnya bisa seperti boulevard, jalan khusus pejalan kaki. Saat weekend, mobil tidak boleh lewat, khusus pejalan kaki saja. Tapi pemerintah juga harus menyiapkan area parkir yang memadai agar kendaraan tidak masuk ke kawasan itu,” jelasnya.

Menurutnya, jika konsep tersebut terealisasi, dampak ekonomi akan semakin luas dan merata. Kawasan dari sekitar Hotel Sahid hingga ke Siang Malam dinilai memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai pusat kuliner dan wisata belanja.

“Pariwisata kita ini naik pesat karena rupiah melemah. Kita ingin ekonomi ini menyebar ke daerah Nagoya lainnya. Kami yakin kalau ada boulevard, pertokoan akan makin ramai,” katanya.

Lebih jauh, Datok Amat menegaskan kesiapan pengusaha lokal untuk berkolaborasi dengan pemerintah dalam mewujudkan proyek tersebut. Ia menyadari keterbatasan anggaran pemerintah, sehingga kerja sama dengan pengusaha lokal dan dukungan perbankan menjadi solusi yang realistis.

“Kalau pemerintah mau berkolaborasi dengan pengusaha lokal, kami siap. Baik itu investasi bersama-sama, gabungan pengusaha lokal, maupun didukung perbankan,” ujarnya.

Sebagai putra daerah yang telah lebih dari 30 tahun menetap dan berkiprah di Batam, Datuk Amat menegaskan komitmennya untuk terus mendorong pembangunan kota.

“Momentum dolar menguat ini jangan disia-siakan. Turis datang banyak, daya beli tinggi. Ini kesempatan emas bagi pengusaha Batam untuk tumbuh dan berkembang,” tutupnya. (*)

Update