batampos– Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Kepulauan Riau tengah menyelidiki proses perekrutan tujuh warga negara Indonesia (WNI) yang bekerja sebagai anak buah kapal (ABK) di kapal tanker MT Shin Xing. Kapal tersebut dilaporkan terombang-ambing di perairan Myanmar sejak Juli 2025 karena tak diizinkan bersandar akibat dokumen kapal yang tidak lengkap.
Kasubdit IV Ditreskrimum Polda Kepri, AKBP Andyka Aer, mengatakan pihaknya sudah menurunkan tim untuk menelusuri pihak-pihak yang terlibat dalam proses perekrutan para ABK tersebut, termasuk memeriksa keluarga dan perekrut di Batam.
“Kami sudah kirim anggota untuk mendatangi rumah Septia Rizki, salah satu ABK asal Batam. Dari keterangan istrinya, perekrut bernama Juanda menjanjikan gaji sebesar Rp15 juta per bulan bagi kru kapal,” ujar Andyka, Selasa (21/10).
BACA JUGA:Â Kedapatan Simpan Ganja di MV Darlin Isabel, ABK Asal Thailand Terancam 5 Tahun Bui
Menurut Andyka, penyidik juga telah mendatangi rumah Juanda di kawasan Tiban dan rumah Rizki di Puri Selebriti, Kelurahan Batu Besar, Nongsa. Namun, Juanda tidak berada di Batam.
“Dari keterangan istrinya, Juanda saat ini sedang berada di Aceh. Kami sudah mencoba menghubungi yang bersangkutan lewat telepon dan pesan WhatsApp, tapi belum ada respons,” katanya.
Berdasarkan hasil penyelidikan awal, para ABK direkrut dari Batam, lalu diberangkatkan ke Belawan, Sumatera Utara, sebelum berlayar menuju Malaysia untuk keperluan docking kapal. Namun, karena biaya docking di Malaysia tinggi, kapal akhirnya dialihkan ke Myanmar.
“Sesampainya di perairan Myanmar, kapal tidak diterima karena dokumen kapalnya tidak lengkap. Akibatnya, mereka terlunta-lunta di laut Myanmar,” jelas Andyka.
Ia menambahkan, para ABK sempat menerima gaji untuk dua bulan pertama, sementara empat bulan berikutnya belum dibayarkan.
“Dari keterangan keluarga, gaji mereka dijanjikan akan dibayar setelah kapal selesai docking. Namun hingga sekarang belum juga diterima,” ujarnya.
Kondisi para ABK semakin sulit setelah pasokan makanan dan bahan bakar kapal menipis. Beruntung, KBRI di Yangon, Myanmar, telah memberikan bantuan logistik dan mengeluarkan nota diplomatik agar mereka segera bisa meninggalkan kapal (sign off).
“KBRI sudah membantu mengirim makanan dan minuman. Informasinya, kapal akan mengisi bahan bakar untuk melanjutkan perjalanan ke Thailand. Setelah itu, mereka akan dipulangkan ke Indonesia,” terang Andyka.
Meski begitu, pihaknya belum bisa memastikan rute pemulangan para ABK tersebut. Namun ia bisa memastikan apakah nanti para ABK dipulangkan melalui Belawan atau langsung ke Batam.
“Dua di antaranya memang berasal dari Batam, sedangkan lima lainnya dari luar daerah,” katanya.
Andyka menegaskan, kasus ini masih dalam tahap penyelidikan awal. Laporan yang disampaikan keluarga korban telah diterima dan dicatat sebagai pengaduan masyarakat (dumas) di Unit TPPO Ditreskrimum Polda Kepri.
“Korban masih berada di Myanmar, jadi kami belum bisa meminta keterangan langsung. Setelah mereka tiba di Indonesia, baru bisa kami dalami apakah kasus ini termasuk tindak pidana perdagangan orang (TPPO), pelanggaran ketenagakerjaan, atau pelayaran,” ujarnya.
Hasil penyelidikan sementara menunjukkan, Septia Rizki merupakan lulusan sekolah pelayaran dengan sertifikasi lengkap sebagai pelaut. Namun, polisi masih menelusuri legalitas usaha perekrut, Juanda.
“Rizki memiliki lisensi resmi untuk bekerja di kapal. Tapi kami harus pastikan apakah Juanda ini memiliki izin usaha perekrutan ABK atau tidak,” tegas Andyka.
Ia menambahkan, penyelidikan terus berlanjut sambil menunggu kepulangan para ABK dari Myanmar. “Fokus kami saat ini adalah memastikan keselamatan mereka dan mengusut tuntas proses perekrutannya,” tutupnya.(*)
Reporter: Yashinta



