
batampos – Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) Lapas kelas II A Batam mendapatkan pelatihan pembuatan pupuk organik menggunakan metode eco enzim sebagai upaya mendukung program ketahanan pangan yang menjadi bagian dari program Asta Cita yang dicanangkan oleh pemerintahan Prabowo-Gibran. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan produktivitas pertanian yang telah dikembangkan oleh WBP di dalam lapas.
Sebagai informasi, Lapas Batam sudah aktif menjalankan program pembinaan kemandirian, khususnya dalam budidaya ikan dan tanaman sayuran. Dengan adanya pelatihan pembuatan pupuk organik ini, diharapkan hasil panen mereka semakin berkualitas dan berkelanjutan, sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap pupuk kimia.
Kalapas Batam, Yugo Indra Wicaksi, menyampaikan bahwa pelatihan ini merupakan bentuk sinergi antar instansi, di mana Lapas Batam bekerja sama dengan Kantor Imigrasi Kelas I Khusus TPI Batam. Pelatihan diberikan langsung oleh Kepala Kantor Imigrasi Batam, Hajar Aswad.
“Ini juga sejalan dengan program akselerasi Kementerian Hukum dan HAM, khususnya dalam ketahanan pangan,” ujar Yugo Indra Wicaksi.
Dalam pelatihan tersebut, Hajar Aswad menjelaskan bahwa eco enzim adalah metode pembuatan pupuk organik yang berbahan dasar limbah makanan yang mudah ditemukan. Menurutnya, selain meningkatkan hasil pertanian, eco enzim juga merupakan bagian dari upaya pengelolaan limbah yang lebih ramah lingkungan.
“Kegiatan ini sangat bermakna, bukan hanya sebagai transfer ilmu tetapi juga mempererat silaturahmi antara Pemasyarakatan dan Imigrasi karena kita berada dalam satu kementerian. Saya bukan penyuluh pertanian, tetapi memiliki hobi dan pengalaman dalam bercocok tanam, mulai dari menanam bibit hingga panen dengan tangan sendiri,” jelas Hajar Aswad.
Dalam pemaparannya, ia menekankan bahwa pembuatan eco enzim memerlukan minimal lima jenis bahan organik. Semakin banyak enzim yang digunakan, semakin baik hasil pupuk yang dihasilkan. Proses fermentasi eco enzim membutuhkan waktu sekitar tiga bulan, tetapi hasilnya dapat digunakan hingga puluhan tahun.
Lebih lanjut, Hajar Aswad membagikan pengalamannya berkolaborasi dengan para petani di daerahnya. Menurutnya, penggunaan eco enzim dalam pertanian dapat meningkatkan kualitas hasil panen sekaligus mengurangi biaya produksi, karena petani tidak perlu membeli pupuk kimia dalam jumlah besar.
Ia juga menekankan pentingnya inovasi bagi para Aparatur Sipil Negara (ASN) untuk keluar dari zona nyaman dan berkarya di luar pekerjaan utama. “Sebagai ASN, kita harus memiliki keterampilan lain yang bermanfaat bagi masyarakat, baik di bidang pertanian, musik, maupun bidang lainnya,” tambahnya.
Dengan adanya pelatihan ini, diharapkan WBP Lapas Batam semakin mandiri dalam mengembangkan pertanian berkelanjutan, sekaligus berkontribusi pada program ketahanan pangan nasional. (*)
Reporter: Eusebius Sara



