Jumat, 3 April 2026

Efek Lebaran Tak Berpengaruh, Inflasi Kepri Tetap Terkendali

spot_img

Berita Terkait

spot_img
Ilustrasi. Foto: Pixabay

batampos – Laju inflasi di Provinsi Kepulauan Riau pada Maret 2026 menunjukkan tren melandai. Di tengah meningkatnya permintaan menjelang Idulfitri, tekanan harga tetap terkendali berkat kombinasi pasokan yang terjaga dan intervensi kebijakan pengendalian inflasi.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Kepulauan Riau, Rony Widijarto Purubaskoro, menyatakan Indeks Harga Konsumen (IHK) Kepri pada Maret 2026 mencatat inflasi sebesar 0,08 persen secara bulanan (month to month). Angka ini lebih rendah dibandingkan Februari yang mencapai 0,44 persen.

“Secara tahunan, inflasi Kepri tercatat 3,23 persen, turun dari bulan sebelumnya sebesar 3,54 persen, dan juga lebih rendah dari inflasi nasional yang berada di level 3,48 persen,” ujar Rony, Jumat, (3/3).

Capaian tersebut menempatkan Kepulauan Riau sebagai provinsi dengan inflasi tahunan terendah kelima di Sumatera. Secara spasial, inflasi bulanan terjadi di Batam sebesar 0,11 persen dan Karimun 0,56 persen. Sementara itu, Tanjungpinang justru mencatat deflasi sebesar 0,37 persen.

Tekanan inflasi terutama bersumber dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang mengalami kenaikan 0,48 persen dengan andil 0,13 persen. Lonjakan harga dipicu naiknya permintaan selama periode Hari Besar Keagamaan Nasional Idulfitri, terutama pada komoditas seperti udang basah, bayam, dan daging ayam ras.

Namun, kenaikan tersebut tertahan oleh deflasi di sejumlah kelompok pengeluaran. Kelompok perawatan pribadi dan jasa mencatat penurunan harga sebesar 1,12 persen, terutama dipengaruhi turunnya harga emas perhiasan.

Penurunan ini berkaitan dengan penguatan dolar Amerika Serikat serta perubahan preferensi masyarakat dalam berinvestasi.

Selain itu, kelompok transportasi juga mengalami deflasi sebesar 0,38 persen. Penurunan ini didorong oleh kebijakan diskon tarif angkutan udara dan laut selama periode mudik Lebaran.

Rony menilai terkendalinya inflasi tidak lepas dari sinergi antara Bank Indonesia dan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) di wilayah Kepulauan Riau.

Berbagai langkah dilakukan sepanjang Maret, mulai dari rapat koordinasi, edukasi publik, hingga operasi pasar dan penyelenggaraan pasar murah.

“Program pengendalian seperti Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera terus diperkuat untuk menjaga stabilitas harga,” kata dia.

Meski demikian, sejumlah risiko tetap membayangi. Potensi dampak fenomena El Nino, normalisasi tarif transportasi pasca-Lebaran, serta kenaikan harga energi global dinilai dapat mendorong tekanan inflasi ke depan.

Di sisi lain, terdapat faktor penahan inflasi, seperti normalisasi harga emas serta pergeseran masa panen sejumlah komoditas pangan yang berpotensi meningkatkan pasokan.

Bank Indonesia bersama TPID, kata Rony, akan terus memperkuat koordinasi untuk menjaga inflasi tetap berada dalam kisaran target nasional 2,5 persen plus minus 1 persen pada 2026.(*)

ReporterAzis Maulana

UPDATE