
batampos – Perekonomian Kota Batam terus menunjukkan tren positif. Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Batam mencatat, pertumbuhan ekonomi Batam pada triwulan II tahun 2025 mencapai 6,66 persen (year on year). Angka ini melampaui pertumbuhan ekonomi Provinsi Kepulauan Riau yang tumbuh 7,14 persen dengan migas dan 5,24 persen tanpa migas.
Kepala BPS Kota Batam, Eko Aprianto, mengatakan peningkatan ini menandakan aktivitas industri dan perdagangan di Batam terus pulih dan bergerak stabil.
“Kinerja ekonomi Batam pada triwulan kedua tahun ini tumbuh 6,66 persen, lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya yang tumbuh 1,70 persen secara kuartalan,” ujar Eko, Rabu (15/10).
Baca Juga: Amsakar Ingatkan Sekolah Tak Main-main Kelola Dana BOSP
Ia menjelaskan, nilai Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Batam atas dasar harga konstan (ADHK) mencapai Rp35,7 triliun, meningkat dibandingkan triwulan pertama sebesar Rp33,4 triliun. Sementara atas dasar harga berlaku (ADHB), ekonomi Batam tercatat senilai Rp62,5 triliun.
“Pertumbuhan ini menunjukkan bahwa struktur ekonomi Batam masih sangat kuat ditopang oleh sektor industri pengolahan, perdagangan besar dan eceran, serta transportasi dan pergudangan,” kata Eko.
Dari sisi inflasi, Eko menyebut kondisi harga di Batam relatif terkendali. Pada September 2025, tingkat inflasi bulanan (month-to-month) tercatat 0,62 persen, sedangkan inflasi tahunan (year-on-year) sebesar 2,82 persen. Angka tersebut sedikit di atas inflasi Provinsi Kepri (2,70 persen) dan nasional (2,65 persen).
“Secara umum inflasi di Batam masih dalam kategori stabil dan terkendali. Kenaikan harga terutama disumbang oleh komoditas cabai merah, emas perhiasan, dan sayur-sayuran seperti kangkung dan bayam,” jelasnya.
Baca Juga: Kasus Pertama Belum Disidangkan, Kapal MT Federal II Telan Korban Jiwa Lagi
Sementara itu, deflasi tertinggi disumbang oleh penurunan tarif angkutan udara, yang memiliki andil sebesar -0,17 persen terhadap inflasi bulanan.
Eko menambahkan, Batam sebagai kawasan perdagangan bebas memiliki posisi strategis untuk mendorong pertumbuhan ekonomi regional. “Status free trade zone bukan hanya administratif, tetapi juga peluang besar agar Batam terus menjadi simpul pertumbuhan ekonomi di wilayah barat Indonesia,” pungkasnya. (*)
Reporter: Rengga Yuliandra



