Sabtu, 3 Januari 2026

Ekonomi Kepri Tumbuh 7,48 Persen di Tengah Tantangan Global

spot_img

Berita Terkait

spot_img
Kepala Perwakilan BI Provinsi Kepri, Ronny Widijarto memaparkan pertumbuhan ekonomi Kepri pada acara bincang bareng media di kawasan Batam Center, Selasa (30/12). F.Cecep Mulyana/Batam Pos

batampos – Perekonomian Provinsi Kepri menunjukkan kinerja impresif sepanjang tahun 2025 di tengah dinamika dan tekanan global. Pada triwulan III 2025, ekonomi Kepri tumbuh sebesar 7,48 persen (year on year), melampaui pertumbuhan ekonomi nasional yang tercatat 5,04 persen.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Kepri, Rony Widijarto P, menyampaikan, bahwa capaian tersebut menjadi yang tertinggi se-Sumatra dan tertinggi ketiga secara nasional, sekaligus menunjukkan akselerasi dibandingkan triwulan sebelumnya.

“Pertumbuhan ekonomi Kepri masih ditopang sektor-sektor utama seperti industri pengolahan, pertambangan, konstruksi, dan perdagangan. Dari sisi pengeluaran, kinerja investasi, net ekspor, serta konsumsi rumah tangga menjadi pendorong utama,” katanya, saat jumpa pers di Labers Kopi, Selasa (30/12).

Baca Juga: Dalih Desakan Ekonomi, Warga Batam Nekat Jadi Penyelundup Emas Senilai Rp4,8 Miliar

Selain pertumbuhan ekonomi yang kuat, inflasi Kepri tetap terjaga stabil dalam rentang sasaran nasional 2,5±1 persen. Pada November 2025, inflasi tercatat 0,23 persen (month to month) atau 2,31 persen (year to date), dengan inflasi tahunan sebesar 3,00 persen (year on year).

Rony menilai stabilnya inflasi mencerminkan efektivitas implementasi Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP) melalui strategi 4K, yakni keterjangkauan harga, kelancaran distribusi, ketersediaan pasokan, dan komunikasi yang efektif.

Di sisi stabilitas keuangan, fungsi intermediasi perbankan di Kepri terus berjalan positif. Perkembangan kredit, aset, dan Dana Pihak Ketiga (DPK) tetap tumbuh dengan rasio Non-Performing Loan (NPL) yang rendah, sehingga stabilitas sistem keuangan daerah tetap terjaga.

Indikator kesejahteraan masyarakat juga menunjukkan perbaikan, ditandai dengan penurunan tingkat kemiskinan dan peningkatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Meski demikian, BI Kepri mencatat adanya peningkatan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) dan rasio gini yang perlu menjadi perhatian bersama.

Dalam penguatan sistem pembayaran, BI Kepri memastikan ketersediaan Uang Layak Edar (ULE) selama momen Natal dan Tahun Baru melalui kegiatan SERUNAI 2025, dengan total penukaran mencapai Rp2,01 miliar. Digitalisasi pembayaran juga terus dipercepat melalui perluasan akseptansi QRIS, termasuk QRIS lintas negara guna mendukung sektor pariwisata.

Baca Juga: Propam Tegaskan Sidang Etik Polisi yang Terlibat Pemerasan Tetap akan Diproses

Sepanjang 2025, BI Kepri aktif mendorong pengembangan UMKM melalui tiga pilar utama, yakni korporatisasi, peningkatan kapasitas, dan pembiayaan. Melalui ajang Gebyar Melayu Pesisir (GMP), tercatat komitmen ekspor Rp1,4 miliar dari 24 UMKM, penjualan UMKM Rp12,85 miliar, serta kesepakatan pembiayaan Rp3,25 miliar.

Kegiatan Kepulauan Riau Ramadhan Fair (KURMA) juga mencatat penjualan UMKM lebih dari Rp2,7 miliar, pembiayaan Rp2,19 miliar, serta pengumpulan wakaf digital Rp50,15 juta. Sementara itu, event Creative and Innovative Riau Island Carnival (CERNIVAL) berhasil mencatat 140.026 transaksi QRIS dengan nilai transaksi UMKM Rp253,6 juta, melonjak lebih dari 400 persen dibandingkan penyelenggaraan 2023.

Adapun melalui festival digital BERLAYAR di Kecamatan Belakang Padang, wilayah terluar Kepri yang berbatasan langsung dengan Singapura, volume transaksi QRIS mencapai 49.076 transaksi hanya dalam dua hari.

Ke depan, BI Kepri memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Kepri pada kisaran 6,5-7,3 persen pada 2025 dan 6,4-7,2 persen pada 2026, dengan inflasi tetap berada dalam rentang sasaran. Tantangan global seperti persaingan perdagangan dan geopolitik tetap membayangi, namun peluang dari penurunan suku bunga, kepastian regulasi, dan promosi investasi dinilai dapat menjaga momentum pertumbuhan.

“Diperlukan sinergi dan kolaborasi seluruh pemangku kepentingan agar pertumbuhan ekonomi Kepri tetap kuat, berkelanjutan, dan inklusif,” kata Rony. (*)

ReporterArjuna

Update