
batampos – Tim Ekspedisi Patriot Universitas Indonesia (UI) memaparkan hasil penelitian mereka terkait pengembangan kawasan transmigrasi Tanjung Banon dalam Seminar Hasil Penelitian yang digelar di Batam Tourism Polytechnic, Senin (24/11). Kegiatan ini merupakan bagian dari program penelitian pengabdian masyarakat yang diinisiasi Kementerian Transmigrasi melalui pemberian hibah kepada ratusan dosen di seluruh titik transmigrasi Indonesia.
Ketua Tim 6 Output 3 Ekspedisi Patriot UI, Vishnu Juwono yang juga dosen Administrasi Publik Universitas Indonesia, menjelaskan bahwa timnya ditugaskan melakukan penelitian khusus di kawasan transmigrasi Tanjung Banon, Batam. Hasil penelitian menemukan empat sektor unggulan yang dinilai berpotensi mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat transmigran.
“Kami menemukan potensi pengembangan industri yang sangat besar di Tanjung Banon, yaitu industri pariwisata, perikanan, pertanian serta home industry,” kata Vishnu.
Tim 6 ekspedisi ini terdiri dari dua alumni UI serta dua mahasiswa. Sebagai tindak lanjut dari penelitian, tim ditugaskan Kementerian Transmigrasi untuk menyusun rekomendasi model kelembagaan ekonomi guna mendukung pengembangan kawasan transmigrasi.
Baca Juga: Baru Beberapa Bulan Diperbaiki Jalan Dang Merdu Kembali Rusak, Warga Cemas
“Karena ini output ketiga, kami diminta memberikan rekomendasi kebijakan mengenai seperti apa model kelembagaan ekonomi yang paling tepat agar empat industri tersebut bisa berkembang,” ujarnya.
Meski memiliki potensi besar, Vishnu menilai masih terdapat sejumlah tantangan yang perlu dibenahi, terutama dari aspek koordinasi antar lembaga.
Ia menyoroti tumpang tindih kewenangan antar instansi. Misalnya, Kementerian Transmigrasi membentuk koperasi transmigrasi, sementara di sisi lain sudah ada koperasi Merah Putih. Namun koordinasi antar koperasi belum berjalan optimal. Selain itu, pelatihan-pelatihan yang diberikan oleh dinas juga dinilai belum terpusat dan cenderung terfragmentasi.
“Kami melihat koordinasinya kurang sehingga potensi overlapping sangat besar. Karena itu kami merekomendasikan agar koordinasi kelembagaannya dibenahi,” tegas Vishnu.
Ia juga menekankan pentingnya mekanisme pemanfaatan dana Corporate Social Responsibility (CSR) untuk peningkatan kapasitas masyarakat transmigran.
“CSR sebenarnya bisa digunakan untuk pembangunan, pembinaan, dan pelatihan kapasitas warga transmigran. Tapi belum ada mekanisme yang jelas untuk itu,” jelasnya.
Menurutnya, jika integrasi dilakukan secara optimal, potensi ekonomi Tanjung Banon bisa berkembang jauh lebih cepat dan tidak hanya bergantung pada perusahaan.
Baca Juga: Batam Miniatur Indonesia, Amsakar Tekankan Pentingnya Harmoni dan Kebersamaan
“Idealnya BP Batam dan Pemerintah Kota Batam memiliki unit khusus yang mengoordinasikan ini. Sudah ada beberapa, tapi belum terlalu menonjol sehingga otoritas dan kewenangannya masih terbatas,” tambahnya.
Seminar pemaparan hasil penelitian itu turut dihadiri Menteri Transmigrasi, Kepala BP Batam, pejabat dari Kementerian Transmigrasi dan BP Batam, serta peserta dari tim ekspedisi patriot lainnya. Penelitian serupa tidak hanya dilakukan UI, tetapi juga melibatkan perwakilan dari berbagai perguruan tinggi seperti ITB, UNPAD, dan UGM, di mana masing-masing universitas mengirimkan dua peneliti.
Vishnu menjelaskan bahwa penempatan tim ekspedisi di Batam merupakan tugas langsung dari kementerian.
“Kami bukan memilih Batam, tapi ditugaskan di Batam. Total timnya banyak sekali, tersebar di Papua, Sulawesi Tengah dan Barat, Kalimantan, Maluku, dan wilayah lainnya. Kami adalah bagian dari tim yang bertugas khusus di Batam,” tutupnya. (*)
Reporter: Rengga Yuliandra



