
batampos – Ancaman fenomena El Nino kembali menjadi perhatian serius. Kali ini, skenarionya tidak ringan. Wakil Ketua Persatuan Insinyur Indonesia (PII) Wilayah Kepulauan Riau, Prastiwo Anggoro menyebut Indonesia berpotensi menghadapi El Nino dengan dampak besar, bahkan ia mengibaratkannya sebagai “El Nino Godzilla”.
Istilah itu bukan tanpa alasan. Menurutnya, pola yang mulai terbaca pada 2026 mengingatkan pada siklus El Nino kuat yang pernah terjadi pada 2015–2016, yang dikenal memicu kekeringan luas di berbagai wilayah Indonesia.
“Ini ilustrasi bahwa El Nino yang akan terjadi berpotensi membawa dampak kekeringan yang masif, seperti yang pernah kita alami sekitar 10 tahun lalu,” ujar dia kepada Batam Pos Rabu (25/3) siang.
Di Kepulauan Riau, termasuk Batam, tanda-tanda awal mulai terasa. Berdasarkan data BMKG, wilayah ini memasuki fase netral sejak Maret 2026.
Namun, kondisi atmosfer menunjukkan gejala yang tak bisa diabaikan, suhu udara siang hari meningkat hingga sekitar 34 derajat Celsius, sementara intensitas hujan mulai berkurang.
Puncak El Nino diperkirakan terjadi pada semester II tahun 2026. Pada fase itulah tekanan terhadap ketersediaan air akan semakin terasa, terutama bagi Batam yang memiliki karakter geografis yang rentan.
Batam bukan wilayah dengan sumber air alami dari pegunungan. Seluruh kebutuhan air bersih bertumpu pada waduk tadah hujan. Ketergantungan penuh ini membuat Batam sangat sensitif terhadap perubahan iklim, khususnya penurunan curah hujan.
“Batam ini pulau yang tidak punya sumber air dari pegunungan. Semua bergantung pada hujan yang ditampung di waduk. Kalau hujan berkurang, dampaknya langsung terasa,” kata Prastiwo.
Kondisi itu diperparah oleh menyusutnya daerah tangkapan air (DTA) di sekitar waduk. Alih fungsi lahan dan degradasi lingkungan membuat kemampuan waduk menampung air semakin terbatas.
Ia juga menyoroti kondisi waduk-waduk utama di Batam yang saat ini berada di level muka air normal (NAM). Namun, tren penurunan mulai terlihat.
Berdasarkan data BMKG, penurunan muka air tercatat berkisar 2 hingga 3 sentimeter per hari. Angka itu terlihat kecil, tetapi dalam akumulasi jangka panjang, menjadi ancaman serius bagi cadangan air kota.
“Kalau ini terus terjadi tanpa hujan yang cukup, maka cadangan air akan tergerus. Ini yang harus diantisipasi sejak sekarang,” kata dia.
Sebagai praktisi dan insinyur, ia mendorong pemerintah tidak hanya fokus pada solusi jangka pendek, tetapi mulai membangun strategi jangka panjang menghadapi siklus El Nino ini, baik yang tahunan maupun yang puncaknya terjadi setiap satu dekade.
Beberapa langkah konkret yang ia dorong antara lain menjaga dan mempertahankan daerah tangkapan air di sekitar waduk agar tidak terus menyusut.
Selain itu, ia mengusulkan kolaborasi dengan sektor swasta melalui pemanfaatan dana tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) untuk program reboisasi di kawasan DTA yang telah mengalami penggundulan.
Dari sisi teknis distribusi, ia juga menekankan pentingnya menekan kebocoran jaringan pipa air bersih yang selama ini masih menjadi persoalan.
“Memperkecil kebocoran di pipa-pipa itu penting. Air yang hilang di distribusi sama saja dengan kehilangan sumber,” ujarnya.
Tak hanya itu, ia juga mendorong percepatan pembangunan water treatment plant untuk mengolah air limbah agar dapat digunakan kembali.
Menurutnya, ini menjadi bagian dari konsep kota cerdas yang harus mulai diterapkan di Batam. Gagasan lain yang kembali mengemuka adalah pembangunan desalination plant, yakni teknologi pengolahan air laut menjadi air bersih.
“Ada ide untuk membangun desalination plant. Ini juga solusi kota cerdas dan perlu dipercepat realisasinya oleh BP Batam,” kata dia.
Di tengah ancaman El Nino yang kian nyata, peringatan ini menjadi penting. Bagi Batam, krisis air bukan sekadar kemungkinan, melainkan risiko yang bisa terjadi kapan saja jika persiapan tak dilakukan sejak dini.(*)



