
batampos – Industri Galangan Kapal di Batam masih berhadapan dengan persoalan krisis tenaga welder atau tukang las. Berbagai upaya yang dilakukan selama ini belum bisa memenuhi kebutuhan ideal tenaga las di dunia industri galangan kapal.
Persoalan ini kembali disuarakan pelaku industri galangan kapal di Batam, karena masih jadi penghambat proses pengerjaan atau produksi pesanan kapal yang sudah masuk.
“Sudah memasuki akhir tahun dan memang belum ada perubahan yang berarti. Krisis tenaga welder belum diatasi sepenuhnya,” ujar Manajer Produksi PT Citra Shipyard Batam di Sagulung, kamis (7/11).
Krisis tenaga las ini terjadi sejak pandemi Covid 19 mewabah. Kebutuhan tenaga welder untuk mengerjakan satu unit kapal seperti tongkang idealnya diangka 35 hingga 40 orang, namun yang ada saat ini hanya 10 hingga belasan orang saja.
“Imbasnya projek jadi terhambat.Pekerjaan tak lancar,” katanya.
Ikatan Perusahaan Industri Kapal dan Lepas Pantai Indonesia (Iperindo) Kepri juga membenarkan persoalan ini. Galangan kapal di Batam, terutama yang bernaung dibawa Iperindo masih kekurangan tenaga welder diangka 3.000 hingga 4.000 orang.
“Ini persoalan lama dan sudah sering kita bahas. Tapi belum ada solusi yang tepat. Masih kekurangan tenaga las untuk galangan kapal ini, ” ujar Ketua DPD Iperindo Kepri Ali Ulai.
Sekretaris DPC Iperindo Kepri Tia juga menyampaikan hal yang sama. Persoalan ini belum ada perubahan yang berarti. Pemenuhan kebutuhan tenaga welder belum maksimal sehingga perusahaan galangan sering menghadapi kendala dengan proses pengerjaan kapal atau perbaikan. “Belum ada perubahan yang berarti. Masih dari luar kebanyakan tukang las sekarang,” ujar Tia.
Persoalan ini sudah disampaikan ke Pemerintah Daerah dan pemerintah Provinsi Kepri namun belum ada perubahan yang berarti. Ini sangat disayangkan karena akan menghambat perkembangan dunia industri galangan kapal di Batam.
Iperindo sendiri sudah berupaya keras untuk mengatasi persoalan ini. Salah satunya dengan gelas pelatihan tenaga welder. Gandeng kerja dengan Untuk mengatasi persoalan ini, Iperindo Kepri PT Biro Klasifikasi Indonesia (BKI), sebagai Holding Jasa Survei IDSurvey, Iperindo Kepri berikan pelatihan dan sertifikasi kompetensi juru las SMAW dan GTAW yang sesuai dengan kebutuhan perusahaan Galangan Kapal dan Lepas Pantai. Pelatihan seperti ini sangat diperlukan untuk mengatas persoalan kekurangan tenaga las tadi.
“Kita berharap ada solusi yang baik dari pemerintah. Pelatihan dan sertifikasi harus lebih banyak lagi agar bisa memenuhi kebutuhan tenaga las di galangan kapal, ” ujar Tia. (*)
Reporter: Eusebius Sara



